Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
66


__ADS_3

Raffael tersenyum licik melihat ekpresi Malik.


"Lu, tau ga? kalau sebenernya aunty Hana suka sama om Andra. Tapi, om Andra jual mahal, karna om Andra jual mahal, autny Hana nikah sama om Nabhan."


Malik memandang Raffael dengan tatapan jengah. Dia menyadarkan punggungnya dikursi kerjanya. "Elu, mau ngomong apa sih, Raff?" tanya Malik.


"Setelah aunty Hana dideketin om Nabhan, barulah bokap lu sadar. Gimana kalau lu nyesel kalai Vania diembat orang?"


"Sok tau, lu!" dengus Malik. Dia kembali menegakan tubuhnya dan mulai kembali memeriksa dokumennya.


Raffael tak hilang akal, dia mengambil ponselnya dan mengambil beberapa foto dari instagram Vania, Foto yang Raffael ambil adalah Foto dimana Vania berfoto bersama teman lelakinya.


Malik mengalihkan pandanganya ke arah ponsel yang berdering. Tanpa curiga Malik melihat ponsel tersebut. Dia mengernyit heran saat melihat Raffael mengirimnya pesan. Dia pun melihat ke arah Raffael. Namun, Raffael sudah kembali ke ruangannya.


Malik pun membuka chat yang dikirim Raffael. Seketika rasa cemburu menghampiri Malik. Tanpa pikir panjang, Malik bangkit dari duduknya dia memakai jasnya dan menyambar kunci mobil.


"Vania!" panggil Aldo dari arah belakang.


"Hai, Kak!" sapa Vania pada seniornya. Selama seminggu ini Aldo gencar mengejar Vania. Namun, Vania hanya membalas sekenanya.


"Kelas mu sudah selesai?" tanya Aldo.

__ADS_1


"Ya, dan sekarang aku harus pulang. Sampai jumpa, Kak," pamit Vania ramah sambil berjalan meninggalkan Aldo.


Aldo tak tinggal diam. Dia berjalan dengan cepat dan mensejajarkan langkahnya di dengan Vania.


"Ayo, Van. Aku akan mengatarkan mu pulang."


"Terimakasih, Kak. Tapi, sepertinya aku tidak bisa pulang bersama kakak. Mamih akan membunuhku jika aku di antar pulang oleh lelaki," jawab Vania jujur.


Sebelum Aldo membalas ucapan Vania, mobil berhenti didepan mereka.


"Sampai jumpa, Kak Al," pamit Vania ramah. Dia pun masuk kedalam mobil


"Siapa dia?" tanya Malik saat Vania baru menududuk dirinya.


Seketika Vania melihat ke arah Malik, "Kau, bagaimana bisa kau yang menjemputku!" sentak Vania melihat tajam ke arah Malik.


Saat Vania berniat keluar, Malik dengan cepat menekan kunci otomatis.


Vania menggeram kesal. "Buka! aku akan pulang naik taxi."


Malik mengusap terlinganya karna merasa jengah mendengar teriakan Vania. "Pakai sabuk pengamanmu!" titah Malik dengan nada dingin dan datar.

__ADS_1


Seketika Vania menelan ludah karna melihat perbedaan sikap Malik. Dia berpikir bahwa Malik tersinggung olehnya.


Tak ingin membuat suasana lebih runyam, Vania pun memakai sabuk pengamannya.


Hening.


Hening.


Hening.


Hanya keheningan yang ada di mobil tersebut. Vania mencoba mengalihkan perhatiannya pada ponsel. Jujur saja dia merasakn gugup dekat Malik.


Bukan hanya Vania yang gugup, Malik pun juga sama gugupnya dengan Vania. Dia heran pada dirinya. Kenapa dia begitu gugup saat ini. Padahal, kemarin-kemarin tak segegup yang dia rasakan sekarang.


Saat dia akan berbelok, motor menyalip kendaraan Malik. Malik yang tidak fokus langsung membanting setir, dengan cepat dia mengulurkan satu tanganya kesamping karna tak ingin Vania terluka. Dan berkat Malik yang sigap tubuh Vania tertahan hingga kepalanya tak membentur ke depan.


Saat sudah aman, Malik melihat ke arah Vania. Melihat Vania yang sedikit terkejut. Malik dengan cepat membuka sabuk pengamannya. Dia langsung memeluk Vania. Namun, tak disangka tangan Malik tanpa sengaja malah menyetuh p"y"dara Vania.


Seketika Vania langsung memukul Malik dengan bukunya.


Malik.@#"@#*@#####*#

__ADS_1


__ADS_2