
Setelah masuk ke taman, mereka mendudukan diri di sebuah kursi, Aysel melingkarkan tangannya ke tangan Aska, kemudian menyandarkan kepalanya ke pundak suaminya.
Mereka sama-sama terdiam, Aysel tersenyum sambil melihat ke depan, sedangkan Aska malah memandang ke depan dengan tatapan kosong. Sedari tadi hatinya mendadak tak enak
Ia merasakan akan ada hal besar yang akan terjadi.
Kemudian ia menoleh ke arah samping di mana istrinya sedang tersenyum sambil menghadap ke depan. Aska mengelus pipi istrinya dari samping membuat Aysel langsung menegakan kepalanya.
“Kok, kamu kelihatan risau gitu?” tanya Aysel. ia membelai pipi suaminya lalu tersenyum lembut
Waaupun Aska sudah tua. Tapi kharisma lelaki itu masih begitu kuat.
Aska menggeleng, kemudian merangkul pundak Aysel. “Mas, kok, ngerasa kamu bakal ninggalin mas, ya?” pada akhirnya. ia jujur tentang apa yang dirasakannya sedari tadi
Aysel tertawa lucu, kemudian menghadap lagi ke depan. “Mas ngomong apa sih,” jawab Aysel. Seolah tidak ingin Aska membahas hal itu.
__ADS_1
Aska tak lepas menatap wajah Aysel. Ia tersenyum ketika mengingat kenangan saat mereka masih muda. Banyak sekali hal yang terjadi sebelum mereka menikah, jalan berliku mereka tempuh. Suka dan duka mereka lalui, hingga mereka ada detik ini dan bisa menyaksikan anak cucu dan cicit mereka
“Mas!” panggil Aysel. Ia melingkarkan jari-jarinya pada jari-jari Aska lalu mengaitkannya hingga kini mereka bergandengan tangan.
“Udah dari sini kita keliling ya, udah keliling kita makan di lesehan yang dekat kantor kamu,” ajak Aysel tiba-tiba, dada Aska berdenyut nyeri. Ia mengusap wajah kasar, ketika perasaan aneh itu muncul lagi.
“Mas, kamu kenapa sih?” tanya Aysel lagi yang melihat tingkah suaminya begitu aneh. Namun Aska menggelen, kemudian mengelus rambut Aysel.
•••
waktu menunjukkan pukul 7 malam, Aska dan Aysel baru saja pulang ke kediaman mereka. Mereka baru saja melakukan aktivitas diluar, setelah keluar dari taman Aysel langsung mengajak Aska untuk pergi ke suatu tempat, kemudian mengajak Aska untuk berkeliling dan diakhiri dengan makan malam bersama di tempat restoran favorit mereka.
Aysel tersenyum, kemudian menyetarakan menekuk kakinya dan menyetarakan diri dengan Khalisia dan Stevia.
“Kalian menunggu Momma, hmm?” tanya Aysel, Stevia dan Khalisia kompak menggangguk.
__ADS_1
“Momma, kami ingin tidur bersamamu,” ucap Stevia dan Khalisia secara bersamaan.
“Oke, kita tidur sama-sama malam,” jawab Aysel dengan riang. Aska tertegun ketika melihat reaksi kedua cicitnya, lagi-lagi, perasaan aneh itu muncul lagi. Tak lama, lamunannya buyar kala Bram masuk ke dalam rumah mereka.
“Yank, kamu istirahat duluan aja ya, aku mau ngobrol sama si Bram,” ucap Aska, Aysel pun mengangguk, kemudian bangkit dari jongkoknya lalu mengajak Khalisia untuk Stevia untuk pergi ke kamar.
“Kenapa lu?” tanya Bram pada mertuanya saat melihat Aska tampak terdiam. Saat ini, mereka sudah duduk di kursi depan, dan setelah mereka duduk, Bram langsung kebingungan ketika melihat mertuanya tampak terdiam.
“Bram!” panggil Aska lagi. Namun, ia tak meneruskan ucapannya.
“Lu kayak lagi banyak pikiran banget?" tanya Bram, Aska tampak menghela nafas, kemudian menghembuskannya.
“Lu pernah gak sih dapat firasat enggak enak?” tanya Aska. Bram tampak berpikir.
“Kagak pernah, firasat gue enak semua,” jawab Bram sambil tertawa, membuat Aska mendekus.
__ADS_1
“Gak guna ngomong sama lu!”
Scroll lagi yess