
"Perjanjian apa?" Tania. Ia masih belum mengerti dengan jalan pikiran putrinya.
"Mommy boleh menyentuh Daddy, tapi ijinkan aku makan coklat setiap hari, penuhi kulkas dengan coklat yang banyak dan aku boleh juga makan kentang goreng, burger dan permen setiap hari," pinta bocah kecil itu dengan nada serius. Nada bocah kecil itu begitu tegas seolah mommynya harus mengikuti kemauannya.
Tania menyenderkan tubuhnya kebelakang. Ia bersidekap memandang sang putri yang masih berada dalam pangkuannya.
"Sekarang katakan pada Mommy, kau membuat perjanjian kan dengan Daddy?" tanya Tania. Ia semakin yakin kala putrinya terlihat gugup.
"Aku masih kecil, mana mungkin aku membuat perjanjian," jawabnya.
"Jika kau masih kecil, lalu kenapa kau ingin membuat perjanjian pada Mommy?"
Seketika Khalisia terdiam, "Mommy, ayo setujui keinginanku dan aku akan mengijinkan Mommy menyentuh Daddy." Rupanya bocah kecil itu kekeh dengan keinginannya.
"Beritau pada Mommy kau membuat perjanjian apa pada Daddy. Dan Mommy akan memertimbangkan syarat yang kau ajukan." Tania menahan tawanya saat melihat ekpersi putrinya yang bukan seperti anak umur 4 tahun pada umumnya.
Khalisia tak kehilangan akal, ia memeluk Tania dan merebahkan kepalanya di dada mommynya. "Baiklah, aku akan memberitau isi perjanjian ku dengan Daddy. Tapi, Mommy harus menyetujui keinginanku dulu." Pinta bocah kecil itu.
"Oke, Mommy menyetujui. Kau boleh makan coklat, tapi tidak setiap hari. Hanya seminggu dua kali dengan porsi seperti biasanya. No kentang goreng, no permen dan no ice cream."
__ADS_1
"Mommy! Ayolah!" Khalisia kembali merajuk saat Tania hanya menyetujui separuh keingannya.
"Ya ... Atau tidak sama sekali."
Khalisia merenggut, ia menegakan kembali duduknya. "Sekarang katakan kau membuat perjanjian apa dengan Daddy?" tanya Tania.
Khalisia tampak berpikir. "Daddy bilang, aku harus merahasiakan dari Mommy."
"Khalisia, kau berbohong pada Mommy?"
Khalisia menggeleng, "Mommy hanya menyetujui sedikit syaratku, maka aku pun memberikan informasi yang sedikit pada Mommy. ... Daddy juga bilang ini rahasia, jadi aku tak boleh memberitaukannya pada Mommy."
°°°
Julian tersenyum saat menutup telpon dari istrinya. Rupanya, Tania masih penasaran dengan perjanjian antara dirinya dan putrinya.
Ia kembali menaruh ponselnya dan kembali fokus pada laptopnya. Tak lama, terdengar suara pintu ruangannya di ketuk. Julian pun mempersilahkan masuk.
Ia menghela napas berat saat salah satu karyawannya masuk sambil membawa berkas. Yang jadi masalah untuk Julian adalah karyawannya memakai pakaian yang sangat sexi dan sengaja tak mengancingkan kemeja agar payudaranya terlihat oleh dirinya. Sebagai lelaki normal, tentu Julian tau maksud karyawannya.
__ADS_1
Tapi, se sexy apapun wanita lain, secantik apapun wanita lain, hatinya hanya milik istrinya. Tania memegang hati, jiwa dan raganya.
"Kedepannya, tolong berpakaian dengan sopan. Ini perusahaan bukan Club." tegur Julian, ketika karyawannya menyerahkan berkas kehadapannya.
"Dan juga, kedepannya. Silahkan menitipkan berkas di meja sekretaris." Julian berucap dingin nan penuh peringatan membuat karyawan itu mati kutu.
•••
Julian menghela napas lega saat semua pekerjaannya selesai. Waktu yang sangat ia tunggu-tunggu, ia tak sabar untuk pulang bertemu dengan anak dan istrinya.
ketika membuka pintu. Ternyata Tania sudah menyambutnya. Ia langsung menghampiri istrinya dan memeluknya. Tak jauh dari tempat mereka berdiri. Khalisia memerhatikan mereka.
Bocah kecil itu tak rela jika Julian di sentuh oleh Tania. Tapi, ia sudah membuat perjanjian dengan Daddynya.
Tapi sepertinya ia tak bisa menepati janjinya. "Huaa .... Mommmyyy jangan menyetuh Daddyku!"
Ketika daddy julian pulang kantor, terus senyum ngeliat anak sama bini memperebutkannya 🤣
__ADS_1