
“Dad! Kemarikan ....” Titah Tania saat Julian menyembunyikan koin di belakang tubuhnya.
“Jangan di ulang lagi. Nanti punggungmu terluka!” Julian menaruh koin ke sakunya agar Tania tak mengambil koin nya lagi.
“Ayolah, Dad. tubuhku takan enak jika tak dikerok. ini sudah kebiasaanku jika masuk angin.” masih berusaha membujuk suaminya dan mengadakan tangannya untuk meminta koin yang disembunyikan oleh Julian.
Julian menggeleng tegas, Ia sedikit bangkit dari duduknya. Kemudian berpindah ke belakang tubuh Tania dan memijat bahu Tania.
“Aku akan mengijinkanmu setelah kau menunjukkan bahwa itu aman dilakukan untuk ibu hamil,” kata Julian. Tangannya dengan lues memijat bahu Tania. pijatan Julian memang pelan tapi cukup membuat tubuh Tania rileks.
“Bagaimana? Apa sudah membaik ... Apa tubuhmu sudah enakan?” tanya Julian ketika Tania tampak menikmati pijatannya.
Tania mengangguk kemudian mengarahkan tangannya untuk ke belakang lehernya. “Tolong pijat ini, Dad!” kata Tania sambil menuntun tangan Julian untuk memetang terngkuknya dan setelah itu, Julian pun mulai memijat pelan tengkuk istrinya hingga Tania bersendawa membuat Julian tertawa.
“Sudah, Dad. Terima kasih,” Kata Tania setelah tubuhnya terasa ringan.
__ADS_1
“Benarkah kau sudah baikan?” Tanya Julian. Tania mengangguk. Setelah itu, Tania membaringkan diri di ranjang dan mulai memejamkan matanya tanpa menghiraukan lagi suaminya yang baru saja memijatnya.
Julian menggeleng. Ia tersenyum melihat tingkah istri kecilnya. Baru saja, ia akan menyusul istrinya untuk berbaring. Ponsel di sebelahnya berdering. Ia pun mengambil ponsel itu dan melihatnya, ternyata satu panggilan masuk dari putrinya.
“Daddyyy!” Suara Khalisia begitu nyaring saat Julian mengangkat panggilannya hingga Julian reflex menjauhkan ponsel dari dekat telinganya.
“Kenapa kau menangis Khalisia?” tanya Julian setelah suara Khalisia di seberang sana mulai mereda. Julian tersenyum saat mendengar suara putrinya terisak sudah ia duga, putrinya pasti akan menerornya.
“Cepatlah pulang, aku tak betah di sini,” kata Khalisia di seberang sana membuat Julian ingin sekali tertawa. Putrinya sudah mulai memainkan drama. Bagaimana mungkin putrinya tak betah, sedangkan putrinya menempel terus pada Bram sang mertua.
“Tapi, Daddy ... Setelah Daddy pulang, belikan aku coklat yang banyak," kata Khalisia.
“Daddy janji ... Setelah Daddy pulang, Daddy akan membelikanmu mainan yang banyak. Tapi, berjanji satu hal, jangan merepotkan papi dan Mamih oke,” kata Julian kata Julian. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar putrinya bersorak di seberang sana.
••••
__ADS_1
“Daddy bicara apa padamu, hmm?” tanya Bram yang menghampiri sang cucu di sofa. Ia duduk di samping Khalisia dan memberikan Khalisia segelas jus yang baru saja di bawanya.
Setelah minum jus yang diberikan oleh kakeknya, Khalisia menoleh ke arah belakang. Karena terdengar suara derap langkah. Ternyata, Stevia yang datang. Belum, Khalisia menjawab pertanyaan kakeknya. Khalisia naik ke pangkuan Bram' karena takut Bram diambil oleh Stevia.
“Kau licik sekali!” Kata Stevia saat Khalisia memeluk Bram dan tak meninggalkan ruang untuknya.
Dengan polos dan liciknya. Khalisia menjulurkan lidah pada Stevia. Ia memeluk tubuh kakeknya semakin erat agar Stevia tak bisa naik ke pangkuan Bram.
Bram hanya menggeleng melihat tingkah kedua cucunya, Malik dan Vania malah pergi begitupun Julian dan Tania. Hingga ia harus mengasuh kedua cucunya secara bersamaan.
“Stevia, ayo main bersama Popa,” ajak Aska yang tiba-tiba dari belakang. Stevia menggeleng, ia merapatkan tubuhnya pada Bram.
Aska mendekus saat menantunya, terlihat menahan tawa. Ia pun berlalu dan pergi karena tak ingin di olok-olok lagi oleh menantunya.
Satu bab dulu, ya. Bab lain menyusul.
__ADS_1