Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
61


__ADS_3

Setelah Vania pergi, Malik pun ikut membayar bakso yang bahkan belum selesai di sajikan oleh si pemilik kedai.


Malik lebih memilih mengejar Vania. Entah kenapa dirinya sangat tertarik pada wanita yang dulu pernah dia manfaatkan.


"Heh, bocah, Tunggu!" teriak Malik pada Vania yang sedang berjalan.


Sedangkan Vania terus berjalan tanpa menghiraukan panggilan Malik. Seandainya dia tidak pergi sembunyi-sembunyi karna ingin memakan bakso, tentu saja dia akan meminta supir untuk mengantar jemputnya.


Karna Vania terus berjalan, Malik dengan cepat mengambil motornya untuk mengantarkan Vania pulang.


"Naiklah, aku akan mengantarkanmu pulang," ucap Malik.


Vania hanya berhenti sebentar, seperti biasa Vania melirik Malik dengan sinis. Lalu dia kembali berjalan.


Malik yang kesal karna di acuhkan langsung memacu kembali motornya melewati Vania. Dan tak lupa saat melewati Vania Malik menjulurkan lidahnya mengejek pada Vania.


"Dasar, fucek boy," Kata Vania sambil menendang batu di depannya. Tanpa di sangka batu yang Vania tendang mengenai a*nj*ing, dan a*nj*ing itu langsung menggonggong.


Tubuh Vania menegang, dia baru saja akan berlari mundur karna takut diserang tapi lampu motor serta suata klakson membuat A*nj*ng itu pergi.


"Kau keras kepala sekali." Ternyata Malik lah yang menolong Vania. Dia kembali lagi menghampiri Vania karna khawatir jika Vania berjalan sendiri di situasi komplek yang sepi.


"Te-terimakasih," balas Vania dengan terbata-bata. Dia masih kaget karna takut di serang oleh binatang yang dia takuti.


Malik memutar motornya, Lalu kembali menghampiri Vania, "Ayo naik, sebelum dia menyerang mu," ucap Malik, dia memanfaatkan ketakutan Vania agar mau diantar pulang. Benar saja, Vania langsung menurut, dengan gemetar dia naik ke motor sport Malik.

__ADS_1


"Kau, tidak akan turun," ucap Malik setelah sampai dirumah mewah Bram.


Vania tersadar bahwa Malik mengantrakannya pulang, Vania pun turun dari motor Malik, "Terimakasih." Vania kembali berucap sinis karna dia menutupi kegugupannya, walau bagaimana pun dia masih menyukai Malik. Namun, ucapan Malik tempo dulu masih teringat di benaknya hingga dia memilih untuk berpura-pura bersikap ketus.


"Dasar, bocah baperan," gerutu Malik saat Vania masuk ke dalam rumahnya.


Lila mendelik sebal pada Raffael yang sedang tertawa terbahak-bahak karna ucapan Lyo.


Lila pun menurunkan Lyo dari pangkuannya. "Lyo, bunda hanya sedikit sakit, jadi leher bunda merah," jawab Lila memberi alasan sekenanya. Dan untungnya Lyo pun percaya. Lyo lalu menghampiri Raffael.


"Daddy, aku lapar," ucap Lyo.


Raffael kembali memangku Lyo. "Ayo kita makan jagoan."


Raffael mengelus rambut Lila, "Tunggulah, oh ia. Ada sesuatu di lemari mu, kuharap kau mau memakainya nanti malam," ucap Raffael berbik di telinga Lila.


Setelah Raffael keluar, Lila dengan cepat mencari benda yang di sebut Raffael. Ternyata ada paper bag yang Raffael simpan di sisi pakaian Lila.


Lila membelalakan matanya, saat melihat isi paper bag tersebut. "Kapan dia manaruhnya." Lila kembali manaruh paperbag tersebut karna merasa geli dengan isinya.


"Mana Lila?" tanya Aysel saat Raffael datang ke meja makan untuk makan malam.


Raffael pun duduk di kursi sambil memangku Lyo. "Momma, bunda sedang sakit."


"Sakit?" tanya Keinya mengernyit heran.

__ADS_1


"Semua leher bunda merah sama seperti Mamih, dan bunda bilang bahwa bunda sedang sakit," ucap Lyo dengan polosnya.


Aska yang sedang minum langsung tersedak mendengar ucapan cucunya dan dia langsung melihat kearah Bram yang juga sedang memandangnya dengan tatapan jengah.


Raffael dan Keinya merasakan malu bukan main karna ucapan Lyo. Dengan cepat Raffael menyuapi Lyo. Seketika suasana menjadi hening. Mereka makan dengan tidak bersuara. Berbeda dengan Aska yang makan sambil sesekali memandang Bram dengan tatapan geli dan juga Bram makan sambil membalas lirikan mertuanya, dia tau setelah makan mertuanya akan mengolok-ngoloknya.


"Mommy, aku titip Lyo sebentar, aku akan membawa makanan untuk istriku," ucap Rafael saat selesai dengan acara makannya.


Raffael pun memindahkan Lyo ke pangkuan Aysel. Dan setelah Raffael pergi membawa makanan untuk Lila. Aska tak mampu lagi menahan tawanya. Dia langsung tertawa terbahak-bahak apalagi melihat Keinya yang dari tadi menunduk. Aysel langsung mencubit paha Aska dan seketika Aska langsung terdiam, dan Bram menyeringai karna mertuanya langsung terdiam.


"Daddy, mana Lyo?" tanya Lila saat Raffael masuk kekamar membawa makanan.


"Lyo bersama mommy, kau mau aku suapi?" tanya Raffael setelah mendudukan dirinya di sebelah Lila.


"Aku akan makan sendiri." Lila pun mengambil piring dari tangan Raffael.


Raffael dengan setia memandangi wajah istrinya yang sedang serius makan. Hingga makanan di piring habis, Raffael terus memandang istrinya.


"Ke-kenapa, memandangku seperti itu?" tanya Lila terbata-bata.


Tanpa menjawab ucapan Lila, Raffael langsung mencium bibir Lila, Raffael sedikit mencondongkan tubuhnya hingga mau tak mau Lila pun sedikit berbaring. Raffael terus mencium bibir Lila dengan lembut, baru tangannya akan bergerak, seseorang masuk ke kamar.


"Bunda ... Daddy!" ternyata Lyo lah yang masuk kekama bundanya.


Ah Lyo kau mengganggu onty online yang akan mulai berhayal ,🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2