
Hari ini menginjak satu minggu pernikahan mereka. Mau tak mau Raffael pun harus mulai bekerja kembali. Mereka memutuskan akan menunda resepsi.
"Daddy, ini sudah jam 7 ayo bangun!" ucap Lila dengan sedikit keras. Setelah sholat subuh Raffael memutuskan untuk tidur kembali karna lelah setelah mengerjai istrinya habis-habisan.
Raffael tak bergeming, dia tetep menutup matanya. Lila terlihat kesal karna Raffael sa sekali tak mengindahkan panggilannya.
Lila pun naik berniat mengguncang tubuh Raffael. Namun sebelum Lila berteriak kembali Raffael memegang dan menarik tangan Lila hingga kini Lila ikut berbaring di sebelah Raffael.
"Daddy, kau bisa terlambat nanti," ucap Lila dengan masih berusaha melepaskan tangan Raffael dari pinggangnya.
Tanpa menjawab ucapan istrinya. Raffael mengelus perut Lila. "Apa dia sudah tumbuh disini?" tanya Raffael yang benar-benar sudah tak sabar melihat istrinya kembali mengandung.
Lila tersenyum, sudah tak aneh baginya mendengar pertanyaan Raffael, sebab pertanyaan itu sudah terlalu sering Raffael ucapkan.
"Daddy, ini baru seminggu. Mana mungkin aku bisa hamil secepat itu."
Raffael terkekeh, dia mengecup kening Lila.
"Mana, Lyo?"
"Dia sedang sarapan. Daddy setelah aku mengantar Lyo sekolah, bolehkah aku kerumah mamih. Aku merindukan mamih."
"Baiklah, ayo kita kerumah ..." Raffael sedikit bingung bagaimana menyebut Keinya. Disisi lain Keinya adalah kakanya. Namun, disisi lain juga Keinya adalah mertuanya.
__ADS_1
"Kau bingung menyebut apa pada mamih?" tebak Lila sambil tertawa. Ya, bahkan Lila pun sedikit bingung dengan silsilah keluarganya. Ibu angkatnya dan ayah angkatnya adalah kaka iparnya, kakek dan neneknya justru menjadi mertuanya.
"Jadi, aku harus memanggil dia apa?" tanya Raffael mengerutkan keningnya.
"Kau bisa memanggil mamih seperti biasa. Tapi, tunggu, tadi kau bilang ingin ikut kerumah mamih?"
"Ya, ayo berangkat bersama."
"No, Daddy. Kau harus bekerja. Jika kau tak bekerja lalu bagaimana kau akan memberi ku nafkah."
"Aku Ceonya, aku bebas datang atau tidak. Oh ia. Aku baru teringat, seminggu kita menikah kau belum pernah memakai semua pemberianku?"
Lila terkekeh, "Bagaimana aku akan memakainya jika kau selalu mengurung ku dan Lyo," ucap Lila, selama satu minggu ini Raffael benar-benar menghabiskan waktunya bersama Lila dan Lyo.
•••
"Hai, jagoan daddy," ucap Raffael saat menghampiri Lila dan Lyo di meja makan.
"Hai, daddy. Daddy apa aku terlihat tampan memakai seragam?" tanya Lyo dengan percaya diri. Bocah itu baru akan memulai sekolah paud.
"Kau tampan seperti daddy. Belajar yang rajin dan jangan membuat bunda repot oke," ucap Raffael sambil mengambil roti dari piring dan menyuapinya pada Lyo.
"Bunda kau yakin kau akan menyetir sendiri?" tanya Raffael saat mereka berada di basement apartemen.
__ADS_1
"Ya, Daddy. Tenanglah. aku akan baik-baik saja."
Lila dan Lyo mendekat ke arah Raffaek untuk mencium tangan Raffael. Raffael pun mencium anak istrinya secara bergantian.
Setelah mobil Lila pergi, Raffael menelpon seseorang. Seseorang itu adalah seorang pengawal yang Raffael sewa untuk mengawasi anak dan istrinya secara sembunyi-sembunyi. Dia tak ingin jika terjadi apa-apa pada Lila dan Lyo saat dia tak bisa menemani anak dan istrinya karna harus bekerja.
••
"Lik, jemputin Vania di kampusnya!" titah Raffael saat masuk ke ruangan Malik.
"Supir om Bram kan banyak, ngapain lu nyuruh gue?" tanya Malik mengernyit heran.
"Supir dipake semua, jadi lu yang jemput Vania!" titah Raffael. Aysel memang menyuruh Raffael untuk menjemput Vania karna supir tengah mengatar Aska, Bram dll keluar. Mereka sengaja keluar untuk mengajak Lyo bermain. Hingga dua supir di pakai untuk mengantar mereka, sedang supir satunya lagi tengah mengantar Tania yang ada kegiatan lain.
"Kaga, gue kaga mau. Suruh aja naek taxi."
"Lu tau ga masa lalu bokap lu sama aunty Hana?" tanya Raffael.
Malik yang bingung atas ucapan Raffael langsung melihat ke arah bosnya. "Maksud loh?"
Raffael sedikit tersenyum licik.
Raffael.
__ADS_1
Satu bab lagi aga malem ya.