
“Mas, bukannya kamu mau bawa Khalisia sama Stevia?” Tanya Aysel saat suaminya masuk ke dalam rumah.
Aska mendudukan dirinya di sofa dan mendudukan dirinya di sebelah Aysel.
“Enggak pada mau. Mereka maunya sama si Bram,” kata Aska. Aysel yang sedang duduk mengelus punggung tangan suaminya.
“Mau di bikinin teh, mas?” Tanya Aysel. Aska mengangguk. “Tapi teh buatan kamu, ya,” ucap Aska. Aysel pun mengangguk.
Setelah mendapat anggukan dari suaminya, Aysel pun bangkit dari duduknya. Ia langsung untuk membuatkan suaminya teh.
Walau di rumah mewah mereka ada beberapa pembantu dan ada juga koki. Tapi, untuk urusan mengurus Aska sedari dulu Aysel selalu menggunakan tangannya sendiri termasuk untuk hal-hal kecil.
10 menit kemudian, Aysel datang, membawakan teh dan cemilan lalu menaruh cemilan di meja dan memberikan teh ke hadapan Aska.
“Makasih, Sayang.” kata Aska saat menerima teh dari Aysel. ia menyeruput teh itu sedikit demi sedikit.
“Mas, temenin aku!” kata Aysel. Ia menyenderkan kepalanya ke bahu suaminya
“Temenin kemana, Sayang,” Aska menaruh tehnya. hingga kepala sang istri terlepas dari bahunya. Kemudian, ia kembali menyenderkan kepalanya kebelakang dan membawa kepala Aysel untuk bersandar di bahunya.
“Aku rasa, kita udah lama ga jalan ke taman,” kata Aysel lagi.
__ADS_1
“Memang, kaki kamu udah ga sakit, Yank!” tanya Aska. Pasalnya, Aysel sering mengeluhkan sakit di pergelangan kakinya.
“Enggak, Mas. Gimana mau temenin aku ke taman?” tanya Aysel. Aska pun mengangguk. Nanti sore kita ke taman.
••••
“Papih, mana anak-anak?” tanya Keinya saat Bram masuk ke kamarnya. Ia langsung bertanya, karena tumben sekali kedua cucunya tak mengikuti suaminya.
Bram naik ke ranjang, ia berbaring, lalu menjadikan paha Keinya sebagai bantal. “Mereka sedang tidur,” kata Bram.
“Mereka benar-benar merebutmu dariku!” kata Keinya, dengan mencebikan bibirnya.
“Kenapa kau menatapku seperti?” Tanya Keinya saat Bram melihatnya dengan tatapan intens.
“Aku mencintaimu!” kata Bram tiba-tiba, Puluham taun mereka menikah. Cinta Bram pada istrinya tak berkurang. Begitu pun Keinya, cinta pada suaminya masih menggebu-gebu.
“Aku tau itu,” kata Keinya sambil tertawa.
.••••
“Sayang, ayo bangun!” kata Julian ketika adzan magrib sudah berkumandang. Tania tak bergeming. Ia terlalu lelah. Perjalanan dari Jakarta Jogja sangat melelahkan. Hingga rasanya, ia ingin terus terus tertidur.
__ADS_1
Tania membuka matanya. Lalu tak lama, matanya mulai kembali terpejam. Ia mendengar suara suaminya. Tapi, matanya masih memberat. Hingga ia kembali memejamkan matanya lagi.
“Lima menit lagi,” kata Tania. Julian, kembali merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Kemudian mengelus pipi Tania dengan ibu jarinya.
•••
“Kau tidak lelah?” tanya Julian saat Tania meminta untuk makan malam di luar
“Aku sedikit lelah. Tapi, aku mengidam ingin makan di angkringan?” kata Tania.
“Angkringan?” ulang Julian. Lelaki turunan Spanyol dan Korea itu tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh istrinya.
“Kau akan tau nanti, Dad." Tania menarik tangan Julian. Lalu mereka pun berjalan keluar hotel.
Jalanan cukup ramai, apalagi di daerah Malioboro. Banyak wisatawan datang untuk sekedar berbelanja atau menikmati indahnya kota jogja
“Mana Angkringan?” tanya Julian.
Tania menunjuk salah satu gerobak, di mana mereka menyediakan tempat makan dengan meja di bawah.
Mata Julian membulat dan ...
__ADS_1