Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
67


__ADS_3

Malik melepaskan pelukannya saat Vania menghajarnya dengan buku.


"Kurang ajar! kurang ajar! beraninya kau menyentuh ku?" teriak Vania dengan terus menghajar Malik.


Malik mengaduh kesakitan. Namun, Vania sama sekali tak perduli dengan rintisan Malik.


Sudah jengah dipukuli oleh Vania. Malik, mencekal satu tangan Vania. Lalu dia mengambil buku dan di lemparkannya kebelakang. Saat Vania berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Malik. Malik malah mencekal satu lagi tangan Vania.


"Ap-apa yang kau lakukan?" tanya Vania terbata-bata. Jantung Vania berdetak dua kali lebih cepat saat Malik menyudutkannya dan sekarang posisi wajah Malik dan Vania sangat dekat. Bahkan Vania bisa merasakan hembusan napas Malik menyapu kulit wajahnya.


Bukan hanya Vania saja yang gugup. Malik pun juga gugup. Mata Malik dan Mata Vania saling terkunci. Entah apa yang merasuki Malik. Mendekat, mendekat, mendekat dannnnnnn. Cup. Malik mencium bibir Vania. Entah ada apa dengan Vania, dia malah memejamkan matanya saat Malik menciumnya.


Namun, tak lama akal sehat Vania bangkit. Saat Malik berniat memperdalam ciumannya. Vania dengan cepat mengigit bibir Malik.


Malik langsung membenarkan posisi duduknya. Dia menetralkan napasnya sambil memalingkan tatapannya ke arah luar.


Begitu pun Vania. Dia juga memalingkan tatapannya ke arah lain. Setelah sekian lama diam.


"Pakai sabuk pengaman mu!" titah Malik tanpa melihat kearah Vania. Rasanya dia benar-benar malu untuk menatap gadis di sampingnya.


Dengan cepat Vania pun menuruti perintah Malik. Malik pun mulai menjalankan mobilnya.


Hening

__ADS_1


Hening


Hening


Hanya keheningan yang ada sepanjang jalan. Setelah sekian lama, akhirnya merekan pun tiba di kediaman rumah Bram. Tanpa basa basi, Vania pun turun tanpa mengucapkan terimakasih. Dan Malik pun langsung pergi.


Saat Malik pergi, Vania kembali menengok kebelakang, dia berharap Malik akan mengejarnya dan meminta maaf. Namun, ternyata Malik malah berlalu pergi.


"Dasar fucekkkk boyyyyy!" umpat Vania dengan kesal.


"Siapa yang fucek boy?" tanya Tania yang baru saja tiba. Saat turun dari mobil dia mendengar teriakan kakanya.


"Bukan urusa mu!" seru Vania. Dia berlalu masuk kedalam rumah.


"Daddy, kenapa kau kesini?" tanya Lila saat Raffael menghampirinya di rumah Keinya.


Raffael mendudukan dirinya di sebelah Lila dan langsung mengecup tangan Lila. "Aku hanya ingin menjemput istri dan anaku. Apakah menyenangkan pergi tanpa ku?" tanya Raffael sambil membawa Lila kedalam pelukannya. Untung saja Lila sedang berada di taman belakang. Sedangkan Lyo sedang bermain bersama Keinya dan Bram.


Lila melingkarkan tangannya di pinggang Raffael. "Daddy, kau pasti lelah. Kenapa kau harus menjemputku. Tadi, kan, aku membawa mobil."


Raffael menoleh untuk mengecup kening Lila. "Tak ada kata melalahkan untuk kau dan Lyo."


Lila tersenyum di pelukan suaminya. Seminggu menikah dengan Raffael membuat Lila hidup dipenuhi kebahagiaan. Tak di pungkiri Raffael benar-benar membuktikan ucapannya untuk menjadi suami dan ayah untuk dirinya dan Lyo. Bahkan saat di ranjang Raffael memperlakukan Lila dengan lembut dan penuh penghargaan. Berbeda dengan Raffael yang pernah memerlakukannya secara kasar.

__ADS_1


"Ayo kita pulang!" ajak Raffael. Lila pun melepaskan pelukanya dan mereka sama-sama bangkit dari duduknya untuk menjemput Lyo yang sedang berada di dalam.


"Mamih, mana Lyo?" tanya Lila saat melihat hanya Keinya yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Lyo, tidur bersama papih. Biarkan Lyo menginap disini. Besok mamih akan mengantarkannya ke apartemen kalian," ucap Keinya.


"Tapi ..." Perkataan Raffael terputu saat Lila memotong ucapannya.


"Baiklah, Mamih. Aku akan pulang sekarang." Lila pun mendekat untuk mencium tangan Keinya.


Lila memandang Raffael, Lila mengisyaratkan dengan matanya agar Raffael juga mencium tangan Keinya.


Karna tatapan tajam istrinya mau tak mau, Raffael pun menghampiri Keinya dan berjongkok untuk mencium tangan mertua sekaligus kakanya. Saat tangan Keinya menyentuh kening Raffael. Keinya sengaja mendorong kening Raffael dengan kuat.


Dulu Itu adalah ciri khas Keinya untuk mengerjai adiknya saat mereka kecil.


Raffael meninggalkan kakanya dengan kesal tak lupa dia menggandeng tangan istrinya.


"Dia memang mertua kejam!" gerutu Raffael saat berjalan. Sedangkan Lila hanya tersenyum saat melihat tingkah mamihnya dan suaminya.


Begitu pun Keinya. Setelah Raffael pergi, dia tergelak karna bisa kembali mengerjai adiknya. Ya, selama Keinya akui dia sedikit rindu dengan adiknya. Apalagi hubungan mereka sempat merenggang beberapa tahun kebelakang. Entah dulu atau sekarang Keinya sungguh senang bila berhasil membuat Raffael kesal.


Jangan lupa vote ya.

__ADS_1


__ADS_2