Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
Bab 41


__ADS_3

"Dok, tolong perban saya yang benar!" pinta Raffael saat Dokter akan memakaikan perban pada kepala Raffael.


"Baik, Tuan."


"Dok, tolong buang saja baju saya!" pinta Raffael lagi.


Dokter pun menangguk, setelah cukup lama memasangkan perban dan alat-alat yang akan dipasangkan ditubuh Raffael, Dokter pun dengan segera pamit. "Semua sudah beres, saya pamit, Tuan."


"Terimakasih, Dok," balas Raffael.


Dokter pun menangguk lalu keluar dari ruang rawat Raffael.


Raffael benar-benar merasa gugup jika sandiwaranya terbongkar. Seandainya saja Raffael tidak takut darah, mungkin dia akan memakai darah sungguhan.


Sedangkan Lila. Dia keluar dari mobil dengan perlahan. Dia tersenyum saat berjalan karna baru saja menemukan ide untuk membalas Raffael.


Raffael kembali memejamkan mata saat ada seseorang yang masuk keruang rawat inapnya dan Lila lah yang masuk.


Lila berjalan mendekat kearah Raffael, Dia memulai sandiwaranya.

__ADS_1


Lila pun duduk disebelah Raffael. Dia menggenggam tangan Raffael.


"Raffael, hikss, hiks, kenapa kau mengorbankan dirimu sendiri untuk menyelamatkan ku," ucap Lila dengan berusaha mengeluarkan tangisnya.


Raffael, sedikit menyunggingkan senyuman saat mendengar ucapan Lila. Dia merasa telah berhasil menjalankan rencananya.


Dan tentu saja ekpresi Raffael tak luput dari penglihatan Lila. Lalu tak lama Lila kembali berucap.


"Raffael, terimakasih kau telah menyelamatkan ku, aku tak tau harus bagaimana membalas mu, mungkin jika tidak ada dirimu aku akan celaka, dan terpaksa menunda pertunanganku," ucap Lila. Dia terpaksa berbohong soal akan bertunangan karna ingin memergoki Raffael yang berbohong.


"Tunggu, kenapa dia akan bertunangan, dengan siapa dia bertunangan," tanya Raffael dalam hati. Karna setaunya Lila tak pernah dekat lelaki mana pun.


Lila pun bangkit dari duduknya.


Raffael kembali meradang mendengar ucapan Lila yang akan bertunangan. Lalu dengan cepat dia bangkit dan mencekal tangan Lila yang akan keluar dari ruang rawatnya.


"Ra-raffael," ucap Lila yang pura-pura kaget saat Rafael bangun dan mencekal tanganya. Sungguh Lila ingin sekali tertawa terbahak-bahak saat Raffael tertipu ucapannya.


"Ka-kau bagaimana bisa ..." perkataan Lila terputus saa Raffael lebih kerasa memegang tangannya.

__ADS_1


"Katakan yang kau bilang barusan tidak benar," ucap Raffael.


"Ahh, Raffael, tanganku sakit."


Raffael pun melepaskan cekalannya dari tangan Lila. Dan memegang kedua pundak Lila. "Katakan, padaku, bahwa kau berbohong tentang pertunangan mu!"


Lila menepis tangan Raffael dibahunya. "Itu bukan urusanmu, Raffael!" Lila pun berbalik Namun tak lama Raffael mencekal tangan Lila dan memeluk Lila dari belakang. "Lila, kumohon berikan aku kesempatan, aku benar-benar mencintaimu, dan ingin menikah dengan mu. Aku tak akan sanggup melihat mu bersanding dengan orang lain. dan takan sanggup melihat Lyo memanggil daddy pada orang lain," ucap Rafaael.


Seketika air mata Lila turun, dia pun menepis tangan Raffael dan berbalik.


"Apa kau pikir setelah apa yang kau lakukan pada ku, aku masih bisa memikirkan pernikahan?" tanya Lila dengan sinisnya. "Tidak Raffael, aku sudah tak memikirkan untuk menikah. Lalu jika aku menikah dengan orang lain, apa yang akan aku berikan untuk suamiku, jika kau sudah mengambil satu-satunya yang aku pertahankan selama ini. Kau tidak sanggup melihat Lyo memanggil lelaki daddy? apa kau lupa bahwa dulu kau ingin melenyapkan Lyo? ku harap kau ingat ini, aku tak akan menikah dengan mu atau pun orang lian." Lila keluar dari kamar dengan berlinang air mata. Mendengar semua ucapan Raffael mengingatkan Lila akan luka yang Raffael berikan.


Raffael tertunduk lemah diranjangnya. Dia sadar kelakuannya dulu sudah tak pantas untuk dimaafkan. Lama dia merenung dan akhirnya dia pun bangkit dari duduknya. Dia menyerah. Lebih baik dia mati untuk menebus kesalahannya. Dia melangkahkan kakinya menaiki lift dan menuju kelantai paling atas. Dan sampai dilantai paling atas dia menaiki beton untuk terjun. Ya. dia berpikir kematianlah yang bisa menebus dosanya.


Setelah berdiri di beton bersiap untuk meloncat, Rafael memejamkan mata sejenak, dia menangis ."Lila, maafkan aku, semoga kematian ku bisa menebus dosa ku padamu. Mommy, daddy aku menyayangi kalian. Maafkan Aku."


Saat Raffael akan melangkahkan kakinya bersiap untuk terjun seseorang berteriak menghentikannya.


"Apa kau akan menyerah memperjuangkan ku dan juga putra mu!" teriak Lila dengan napas tak beraturan.

__ADS_1


__ADS_2