Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
82


__ADS_3

3 pria parubaya tersebut larut dalam obrolan, sebenarnya hanya Aska dan Andra yang asyik mengobrol, sedangkan Bram hanya sesekali menimpali.


"Lu, mau kemana Bram?" tanya Andra saat Bram bangkit dari duduknya.


"Mau liat cucu gue," jawabnya singkat. Lalu Bram meninggalkan Aska dan Andra.


"Bukannya anaknya si Raffa, cucu lu, ya, ka?" tanya Andra sambil tertawa. Bagaimana tidak tertawa, keluarga calon besannya terlalu rumit.


"Diem, lu," ucap Aska yang sewot karna Andra terus saja tertawa.


•••


Setelah keluarga calon suaminya pulang, Vania duduk di ayunan taman belakang. Dia terus memindai jari manisnya yang baru saja terisi oleh cin-cin pertunangannya.


Vania terus tersenyum, dia mengingaa saat-saat dekat dengan Malik, sempat membenci Malik dan sekarang dia amat mencintai Malik. Sedikitnya Vania merasa tak percaya bahwa Malik adalah lelaki gentelmen. Namun, dia begitu terharu saat Malik datang sendiri untuk meminangnya.


Saat Asyik melamun, Keinya berdehem.


"Mamih!" panggil Vania sambil menoreh kearah belakang.


Keinya pun mendekat dan duduk disebelah Vania. Dan setelah Keknya duduk, Vania pun memeluk pinggang Keinya.


"Mamih, apa menikah muda menyenangkan?" tanya Vania.


Keinya mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. "Mamih tidak tau apa itu menyenangkan atau tidak, karena menikah bukan tentang menyenangkan atau tidaknya menjadi istri. Namun, setelah menikah dengan papih, mamih sangat bahagia," tutur Keinya sambil tersenyum. Dia mengingat berapa manisnya hubungan dirinya dan Bram dulu. Bahkan masih terasa sangat manis hingga saat ini.


"Apa mamih begitu mencintai papih?"


"Tidak, papih, lah, yang sangat mencintai mamih," jawab Keinya dengan percaya diri.

__ADS_1


"Vania, sebentar lagi kau akan menjadi seorang istri. Tanggung jawab mu bukan lagi pada mu melainkan pada Malik calon suami mu. Dalam dua bulan ini belajarlah menjadi seorang istri. Selama suami mu menyuruhmu dalam kebaikan maka patuhilah dia." Mata Keinya berkaca-kaca saat menasihati putrinya. Dia tak menyangka putrinya akan segera menjadi milik orang lain.


"Aku menyangimu, Mamih," ucap Vania sambil terisak.


"Mamih, menyayangi kalian semua ...."


"Cih, dasar cengeng," ucap Tania dari arah belakang. Kamudian dia ikut duduk sebelah Keinya.


Tania pun ikut memeluk Keinya, "Mamih, apa mamih menangis karna akan kehilangan anak ini?" tanya Tania dengan seringai jail dan langsung membuat Vania mendelik dengan kesal.


Baru saja dia akan melapaskan pelukannya dan akan membalas perlakuan adiknya. Namun, dia tersadar dia harus bersikap dewasa. Vania pun lebih memilih memejamkan matanya di pelukan Keinya.


Tania mengernyit heran saat kakanya tak membalasnya, jujur saja Tania hanya sedang memuaskan diri untuk mengerjai kakanya sebelum Vania menikah, karena dia sadar setelah Vania menikah dia tak akan bisa lagi menganggu kaka kembarnya.


•••


Hari menegangkan itu tiba.


Hari ini dua bulan sudah berlalu, dan pagi ini pula mereka melaksanakan ijan qobul sebelum resepsi di gelar keesokan harinya.


"Daddy, kau mengagetkan ku," ucap Lila saat tiba-tiba Raffael memeluknya dari belakang.


Raffael mencium bahu Lila, "Maafkan aku, sayang," ucap Raffael dengan tatapan sendu.


Raffael meminta maaf karna merasa bersalah tak memberi pernikahan yang mengesankan bagi istrinya. Mereka memang berencana melakukan resepsi dulu. Namun karna Lila hamil, Lila berubah pikiran, dia tak mau mengadakan resepsi.


Lila berbalik, menautkan tangannya di leher Raffael. "Aku tak mau berbicara lagi dengan mu, jika kau terus meminta maaf! Tanpa resepsi pun aku sudah sangat bahagia bersama mu dan anak-anak," ucap Lila menenangkan Raffael. Dimata mereka hanya ada cinta, semua luka masa lalu Lila hilang tergantikan dengan senyuman dan cinta yang di berikan oleh Raffael.


Raffael tersenyum, lalu mencium pipi Lila, "Ayo, kita kebawah, sepertinya pengantin pria akan segera datang."

__ADS_1


••••


"Tania, kau kenapa?" tanya Aysel yang melihat Tania sedikit melamun.


"Momma, kenapa rasanya aku begitu sedih jika si anak cengeng itu menikah," keluh Tania. Sebagai saudara kembar tentu saja ada rasa kehilangan ketika Vania akan pindah karna harus mengikuti suaminya.


Aysel yang baru beres bercermin langsung menghampiri Tania yang sedang duduk di sofa. "Kenapa kau tidak meminta untuk menikah saja, menyusul Vania," ucap Aysel sambil membelai rambut Tania.


"Momma, benar. Aku akan meminta pacarku untuk segera melamarku," ucap Tania dengan bersemangat. "Tapi, momma. Pacar ku ...." Tania menggigit bibirnya saat akan membahas pacarnya. Bagaimana tidak, walapun sudah lama berpacaran dengan Julian, Tania sendiri masih merasa ragu terlebih lagi mereka menjalani hubungan jarak jauh dan Tania belum tau bagaimana sifat asli Julian yang sebenarnya.


Baru saja Aysel akan bertanya, pintu terbuka. Seorang art memberitahukan ijab kabul akan segera dimulai.


Taman belakang, disulap begitu indah untuk melaksanakan ijab qobul. Dan sekarang, diatas meja sudah ada sepasang pengantin, penghulu, saksi dan wali.


"Saudara Malik, bisa kita mulai," ucap penghulu tersebut.


Malik pun mengangguk mantap.


Malik dan Bram pun berjabat tangan.


"Saya nikah kan dan kawinkan engkau Malik lesmana bin Andra Lesmana dengan putri saya Vania aksen Hendarayan binti Bramantyo Aksen Hendrayan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.


"Saya terima nikahnya Vania Aksen Hendrayan binti Bramantyo Aksen Hendrayan dengan mas kawin tersebut dibayar Tunai."


Serempak para saksi pun mengucapkan Sah dan diakhiri dengan menyebut Alhamdulilah.


Nb. Mas kawinnya Vania adalah seluruh hidup Malik wkwkwkwkw.😂😂


Istri diatas kertas akan dilanjut besok ya. Jadi jika kalian berkenan setelah up langsung baca, ya. Itu merupakan dukungan bagi ku.

__ADS_1


__ADS_2