
Saat pintu apartemen terbuka, Malik berusaha menetralkan detak jantungnya.
Sedikit rasa gugup menghinggapinya, bagaimana pun ini pertama kali lagi mereka bertemu setelah berpisah.
Saat rekaman terhenti, Malik mengintip sedikit dari tempatnya bersembunyi. Dia memberanikan diri keluar saat melihat Vania sedang terdiam.
Dengan gagah Malik berjalan kearah Vania sambil membawa buket bunga.
Mata Vania berkaca-kaca saat melihat lelaki yang dirindukannya.
Mata mereka saling mengunci.
"Kak, Malik!" lirih Vania.
Malik tersenyum kemudian dia merentangkan tangannya. Tanpa pikir panjang, Vania langsung berlari kearah Malik, dan langsung berhambur memeluk Malik.
Malik membalas pelukan Vania, dia mengelus punggung Vania agar Vania tenang, karna terdengar jelas bahwa Vania sedang terisak di pelukan Malik.
"Aku merindukan mu, Vania. Sangat-sangat merindukanmu," ucap Malik.
Vania melepaskan pelukannya dan menatap Malik. Malik pun dengan sigap mengelap aor mata Vania.
"Ma-maafkan aku yang tak percaya pada mu, Kak," jawab Vania yang mulai terisak kembali. "Maafkan aku yang telah meragunkan mu," ucap Vania lagi, kali ini dia berbicara dengan menunduk. Rasanya terlalu malu untuk melihat wajah Malik karna sadar bahwa dirinyalah yang salah.
Malik menangkup kedua pipi Vania, dan mengecup kening Vania dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu, Malik berlutut dihadapan Vania. kemudian Malik mengambil satu tangan Vania dan mengecupnya.
Vania hanya bisa melotot kaget dengan apa yang dilakukan Malik.
"Vania, aku tau, aku tak sekaya keluargamu. Aku juga manusia yang sangat buruk. Beberapa kali aku menyakiti mu dan membuat mu menangis. Tapi, cinta ku pada mu begitu tulus. Selama kita berpisah, aku sadar bahwa aku benar-benar mencintaimu. Vania, maukah kau menikah dengan ku?"
Malik menyodorkan bunga yang tadi dibawanya.
Lagi-lagi, Vania meneteskan air mata harunya.
Dia mengambil buket bunga ditangan Malik. "Ya, aku mau menikah dengan mu. Jika mamih dan papihmengijinkan aku menikah muda," ucap Vania.
__ADS_1
Saat Vania sudah mengambil buket bunga, Malik mengeluarkan kotak cincin dari sakunya, kemudian dia membuka kotak tersebut dan memakaikannya pada jari manis Vania.
Vania hanya bisa tersipu malu akan perlakuan manis Malik. Malik pun kembali bangkit dari berlututnya.
Kini Malik dan Vania duduk di sofa setelah adegan romantis tersebut.
Mereka duduk sambil bersila, hingga tatapan mereka saling mengunci dengan tatapan penuh cinta dan penuh kerinduan.
"Maafkan, aku, Kak. seharusnya aku memberi mu kesempatan untuk menjelaskan semuanya."
"Sudahlah, kita tak perlu melihat kebelakang. Yang terpenting aku sudah mendapatkan mu dan bisa menikahi mu."
"Ta-tap, bagaimana jika mamih dan papih tak merestui kita."
Malik menggeser duduknya ke dekat Vania. Dia membawa Vania kedalam pelukannya.
"Aku akan membujuk papihmu untuk merestui kita. Jika papihmu tak merestui, ayo kita kawin lari," ucap Malik sambil tertawa.
Seketika Vania melepaskan diri dari pelukan Malik dan mencubit gemas pipi Malik.
Tak tahan dengan senyuman Vania. Secepat kilat, Malik menyambar bibir Vania.
Malik hanya terkekeh geli saat melihat reaksi Vania.
Keesokan harinya.
"Papih!" panggil vania saat Bram sedang berada di ruang olahraga.
Bram yang sedang memegang barbel. langsung meletakan barbel yang sedang dipegangnya.
"Ada apa, Vania?" tanya Bram sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil.
"Papih, bisakah aku bicara dengan papih berdua?" tanya Vania ragu-ragu. "Dan jangan bicarakan dulu pada mamih!" pinta Vania lagi.
"Tunggu papih di ruang kerja papih, papih akan mandi dulu dan menemui mu!"
Vania pun mengangguk.
__ADS_1
15 menit kemudian, Bram menyusul putrinya untuk keruang kerjanya.
"Vania, kau ingin bicara apa?" tanya Bram yang mendudukan diri disebelah Vania.
Vania tampak ragu berbicara pada papihnya.
"Kau mau papih memanggil mamih kesini?" tanya Bram kepada Vania yang masih tak mau membuka mulutnya.
"Jangan papih!" teriak Vania dengan sedikit kencang. Jika mamihnya tau, bisa-bisa Vania akan di ceramahi.
Bram tergelak mendengar teriakan Vania. "Sekarang katakan, apa yang ingin kau bicarakan pada papih?"
Vania memeluk pinggang papihnya. Dan Bram mengelus rambut Vania dengan penuh kasih sayang.
"Papih, sebenarnya aku ...."
"Dia ingin menikah muda, Papih!" teriak Tania yang baru saja masuk keruangan Bram.
Vania melepaskan pelukannya dari Bram dan memandang Tania dengan tatapan tajam.
"Diam, kau!" sentak Vania pada adiknya.
Tanpa mempedulikan ucapan kakanya Tania maju dan duduk disisi Bram, tak mau kalau, Tania pun memeluk pinggang Bram.
"Siapa yang ingin menikah muda?" tanya Bram.
Vania kembali memeluk Bram, hingga kini Bram di peluk oleh kedua putrinya.
"Siapa lagi kalau buk ..."
"Papih, apa papih tau Tania berpacaran dengan u ...." Vania memotong ucapan Tania. Dan Tania yang mendengar ucapan Vania langsung menjambak rambut kakanya agar tak meneruskan kalimatnya.
Tak mau kalah, Vania pun ikut menjambak rambut sang adik.
"Sayang!" teriak Bram memanggil Keinya' saat putrinya terus bertengkar. Hanya ceramah Keinya yang bisa menghentikan Vania dan Tania.
Seketika Vania dan Tania terdiam
__ADS_1
Bram ...