
Malik dengan cepat, kembali ke dapur saat teringat ia meninggalkan istrinya. Keningnya mengkerut bingung saat melihat istrinya sedang tertunduk. Ia pikir Vania sedang menangis tapi setelah Malik berjalan lebih jauh, ia mendengar Vania sedang menyerupit mie. Ternyata Vania sedang menyeruput mie yang terakhir kali di buat oleh Malik.
Malik mengelus dada, setidaknya istrinya tidak marah kepadanya. Dengan perlahan, Malik mendudukan dirinya di kursi Vania.
"Sayang," panggil Malik.
Jantung Malik berdetak dua kali lebih kencang saat Vania tak menjawab ucapannya. Fiks, istrinya benar-benar dalam mode mengambek.
"Sayang, kamu marah?" tanya Malik.
Vania sama sekali tak bergeming.
"Sayang!"
"Sayang!"
Wajah Malik sudah tak bisa lagi di kondisikan, terlihat jelas dia wajahnya bahwa dia tengah merasa panik.
Karena Vania tak kunjung menjawab, Malik pun dengan nekad menarik mangkok mie yang sedang di makan oleh istrinya.
Seketika Vania melihat ke arah Malik, matanya berkaca-kaca.
"Huaa!" Vania menangis kencang saat Malik mengambil mienya. Ia pun langsung turun dari kursinya dan meninggalkan Malik.
Malik melongo saat Vania menangis dan meninggalkannya. Seketika Malik melihat ke arah mangkok yang masih terisi mie.
__ADS_1
"Semua gara-gara elu," ucap Malik sambil menunjuk mangkok mie yang berada di hadapannya. Ia pun menyusul Vania yang sudah berjalan menuju kamar.
Langkahnya kalah cepat ketika, saat ia mendekat, Vania sudah masuk kedalam kamar. Baru ia akan mengikuti istrinya untuk masuk kedalam kamar, Vania sudah menguncinya dari dalam.
"Sayang ... Maafin, Mas. Buka ya pintunya!" titah Malik. Namun, tak ada jawaban dari dalam.
"Sabar Lik ... Sabar. Cuman 9 bulan ini," ucap Malik menyemangati diri sendiri, tapi terlihat jelas mimik wajahnya yang sangat terlihat depresi saat berkata 9 bulan. Ia bergumam dalam hati saat Vania tak mau membuka pintu.
•••
Raffael terbahak saat membaca pesan Malik.
"Ninu- ninu bahasa apaan?" ucap Raffael saat membaca pesan Malik. Ya, walau pun Raffael mengerti apa yang di katakan Malik. Hanya saja dia menertawakan mantan sekretarisnya saat mengirim pesan dengan kata ninu-ninu.
"Daddy, kau kenapa?" tanya Lila. Lila yang baru saja masuk kekamar sambil membawa secangkir kopi untuk Raffael. Keningnya mengkerut bingung saat suaminya tertawa, terbahak-bahak.
Setelah suaminya menaruh kopi ke nakas yang berada di sisi sofa, Lilia pun menaruh kepalanya di pundak Raffael. Lalu, Raffael pun menoleh dan mengecup pucuk kepala istrinya.
"Sayang, bagaimana kalau kita pergi ke Mall, sudah lama sekali aku tak menemanimu berbelanja" ajak Raffael pada Lila. Belakangan ini, ia selalu sibuk karena pekerjaannya, sehingg waktu bersama istri dan kedua anaknya berkurang.
"Kenapa harus ke mall, kita bisa diam saja di rumah hari ini," tolak Lila. Selagi kedua putra mereka tengah menginap di rumah poppa dan mommnya, Lila hanya ingin berudaan dengan Raffael. Wanita cantik itu tak gila belanja, Lila lebih suka memesan online dari pada cape-cape pergi ke Mall. Lila hanya akan bersemangat ketika suaminya mau mengantarkannya membeli seblak dan baso di tempat langganannya.
"Aku libur dua hari ini, untuk hari ini aku ingin menemanimu berbelanja. Besok kita bisa menghabiskan waktu seharian di rumah."
"Tapi belikan aku ...."
__ADS_1
"Tidak bakso, tidak seblak dan tidak junkfood lainnya. Kau sudah memakan itu seminggu yang lalu. Papihmu akan membunuhku jika tau aku memberi makan yang tidak sehat," ucap Raffael memotong ucapan Lila. Entahlah dia bingung dengan istrinya yang tak seperti wanita lain. Di saat wanita lain gila berbelanja, istrinya hanya ingin semangkok bakso dengan kuah merah menyala.
Lila mencebik mendengar penuturan suaminya. Suaminya berkata, ingin mengikuti hidup sehat ala papihnya agar tetap terlihat awet muda.
•••
Dan kini, mereka pun sudah sampai di Mall, dengan setia, Raffael menggandeng tangan istrinya. Dia sudah menawarkan banyak toko pada istrinya agar istrinya mau memasuki toko untuk membeli sesuatu. Tapi, Lila menolak dan malah mengajak Raffael berjalan-jalan tanpa tujuan. Wanita cantik itu berharap agar ada stand baso yang berada di dalam Mall.
"Daddy, kau tunggu di sini, aku ingin ke kamar mandi," ucap Lila. Sedari tadi, Lila ingin buang air kecil. Namun, dia menahannya. Dan sekarang sepertinya ia tak bisa menahannya lagi.
"Ayo, aku akan menunggu mu di luar toilet," jawab Raffael. Raffael pun kembali menggandeng tangan Lila menuju kamar mandi wanita, dan ia menunggu di luar.
"Raffael!" panggil si wanita yang akan masuk ke dalam toilet. Wanita itu adalah Riana, mantan kekasihnya.
Tubuh Raffael menegang saat melihat Riana. Ia sudah sering membaca artikel di mana artilel itu menuliskan seorang istri akan cemburu dan marah ketika suaminya bertemu mantan kekasih, walau pun bertemu secara kebetulan. Dan kini, ia sedang bersama istrinya dan bertemu mantan kekasihnya.
"Raffael, kau disini? mana Lila?" tanya Riana, saat menghampiri Raffael. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Raffael. Namun, Raffael tak membalas jabat tangan Riana, mengatupkan tangannya ke dada, ia membalas uluran tangan Riana dengan cara yang lain.
"Kau sedang disini?" tanya Raffael dengan canggung.
"Aku sedang bersama suamiku. Mana Lila dan anak-anakmu, Raf ..."
Perkataan Riana terpotong saat pintu terbuka.
"Daddy!" lirih Lila yang baru saja keluar dari pintu toilet.
__ADS_1
"Mati Gue.~ Raffael