
Malik menutup mulutnya saat Vania menyodorkan sendok yang berisi mih. Bukan tampa alasan Malik menutup mulutnya.
Saat Vania berkata ingin mie rebus. Malik dengan semangat membuatkan untuk istri yang tengah mengandung anaknya.
Awalnya, Malik mengira istrinya menginginkan mih rebus layaknya mih rebus pada umumnya. Namun, Malik salah. Vania memang ingin mih rebus dengan merk yang selama ini ia sukai.
Tapi, yang jadi masalah untuk Malik, bukan terletak pada mihnya. Tapi terletak pada tampilannya.
Vania menolak memakan Mie yang dibuat Malik jika penyajiannya tak seperti yang ia inginkan.
Vania berkata ingin penyajian yang seperti di dalam kemasan. Percobaan pertama gagal. ketika Malik akan menaruh mih yang gagal Vania melarangnya. Ia menyuruh Malik yang memakanya. Malik pun kembali menuruti kemauan istirnya.
Naasnya ini sudah 4 vx Malik membuat mie dan berusaha menyajikannya percis seperti dalam kemasan. Namun, Vania masih kekeh bawa penyajiannya masih salah. Dan ujung-ujungnya Malik lah yang akan menghabiskan mie yang gagal tadi. Dan kali ini Malik menutup mulutnya kala Vania menyodorkan kembali sendok berisi mih. 4 x gagal 4 mangkok pula Malik terpaksa memakan semuanya.
"Yank, mas kenyang," ucap Malik. Ia menatap istrinya dengan tatapan memelas.
"Mas kenyang?" tanya Vania dengan santainya. Dengan polosnya Vania bertanya. Ia tak sadar bahwa dia secara tidak langsung mengerjai suaminya.
Malik pun menangguk. "Mas bikinin sekali ya buat kamu. Nanti kalau masih ga pas jangan suruh Mas yang makan lagi, ya."
Vania tampak berpikir kemudian dia menggeleng.
"Aku ga pengen makan mie, Mas. Kita nyari bubur ayam aja, yu!" ajak Vania.
Mendengar jawaban istrinya, Malik melongo. Bukannya tadi dia menyarankan pada istrinya untuk makan bubur ayam. Tapi sekarang, setelah dia tersiksa, istrinya malah ....
"Yank, kan Mas udah bilang tadi, buat nyari bubur ayam diluar," ucap Malik dengan sewot.
__ADS_1
Mendengar suara suaminya yang berbeda. Vania mendongak menatap Malik, suaminya.
"Kaka marah?" tanya Vania. Matanya tiba-tiba mengembun.
Melihat ekpresi istrinya yang berubah. Malik menepuk bibirnya sendiri. Ia mengutuk mulutnya. Dengan cepat ia menghampiri Vania
"Enggak, Sayang. Mas ga marah, kok, beneran," ucap Malik. Ia mengelus rambut Vania yang tengah menunduk.
Vania masih tak bergeming.
"Udah, ya. jangan marah. Kamu mau apa pun pasti mas turutin," ujar Malik. Bisa berabe urusannya jika istrinya mendiamkannya.
Seketika Vania mengangkat kepalanya.
"Beneran?" tanya Vania lagi.
"Apa pun?"
Malik pun mengangguk lagi.
Vania tampak berpikir. Kemudian ia menatap suaminya.
"Peluk!" pinta Vania. Ia pun merentangkan tangannya agar Malik memeluknya.
Malik pun dengan senang hati memeluk istrinya. Ia mengelus rambut sang istri.
Tiba-tiba, ada yang berontak di bawah sana.
__ADS_1
"Ke kamar, yu, Yank!" bisik Malik.
Vania memutar bola matanya jengah saat menyadari kondisi suaminya.
"Ih, Mas. Gak boleh dulu!" ucap Vania.
"Kenapa ga boleh, Yank?" tanya Malik dengan mulut menganga.
"Nanti bahaya ke dedenya."
"Ngaco kamu, Yank. Masa bahaya ke dedenya. Bentar Mas tanya si Raffael." Malik langsung meninggalkan Vania di dapur. Ia langsung berjalan ke kamar untuk mengambil ponsel. Ia akan menyuruh Raffael bertanya pada Lila agar lebih akurat karena Lila seorang dokter.
Malik menghela napas lega saat melihat wa Raffael dalam kondisi online. Dengan cepat ia mengirim pesen pada Raffael.
["Raf, tanyain Lila, emang bener kalau lagi hamil muda gak boleh ninu ninu"] tulis Malik dalam pesannya.
Malik menghela napas lega saat Raffael langsung membaca dan langsung mengetik.
[Ninu-ninu, apaan 🤣🤣"] jawab Raffael di sertai emoot ngakak di belakangnya.
Melihat jawaban Raffael yang menertawainya. Malik berdecih.
"Kenapa gue gak cari di google aja, ya," ucapnya.
Baru saja ia akan mencaritau di Google, Malik menepuk kening saat mengingat bahwa dirinya meninggalkan istrinya di dapur.
"Mati gua!"
__ADS_1