Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
81


__ADS_3

Seorang ayah, akan melakukan apapun untuk keluarganya. Termasuk Bram.


Bagi Bram, istri dan ke 3 anaknya adalah segalanya. Saat putri pertama mereka yaitu Lila mengalami hal buruk, Bram amat mengutuk dirinya sendiri. Melihat putrinya yang sempat amat menderita, Bram merasa dirinya telah gagal menjadi seorang ayah dan kepala keluarga. Bisa dibilang itulah titik kehancuran yang Bram rasakan selama hidupnya.


Dan dia amat bersyukur, saat melihat Lila bangkit dan menemukan kebahagiaannya bersama Raffael dan kedua putra mereka.


Namun, berkaca dari pengalaman sebelumnya. Bram tak mau merasa gagal lagi sebagai seorang ayah. Dia memutuskan untuk menyuruh orang mengawasi kedua putrinya.


Semua gerak-gerik Vania dan Tania tak luput dari pengawasan orang suruhan Bram. Bahkan saat Malik melamar Vania di apartemen, Bram pun mengetahuinya.


Dia melihat semua dari cctv.


Bram bersyukur kedua putrinya tak melakukan hal yang diluar batas. Bahkan, saat diluar, Vania dan Tania tak pernah meninggalkan shalat.


Dan kini dihadapannya ada lelaki yang dengan jantan meminta putrinya secara yakin. Bukan hanya kedua putrinya yang Bram awasi, Malik pun tak luput dari pengamatan Bram. Bram hanya ingin memastikan bahwa Malik layak untuk putrinya.


Bram menghela napas sejenak sebelum menjawab ucapan Malik.


"Malik, om akan berbicara sedikit tentang kebiasaan Vania. Kau mau mendengar om?" tanya Bram menatap intens Malik. Sebagai seorang ayah, Bram tak ingin menyembunyikan apa-apa dari lelaki yang ingin meminang Vania.


"Saya siap mendengarkan, Om."


"Malik, umur Vania masih sangat muda. Masih banyak kekurangan Vania untuk menjadi seorang istri. Vania sama sekali tidak bisa memasak, dia dan adiknya masih seperti anak kecil yang selalu mendebatkan hal yang tidak penting. Om hanya khawatir sikapnya padamu akan sama seperti sikapnya pada adiknya. Apa kau tidak keberatan dengan semau sikap Vania yang belum dewasa?"


Malik tersenyum sambil menatap Bram, "Om, jika om merestui kami. Sebagai kepala rumah tangga saya akan mendidik Vania, saya akan membing-bing Vania. Tentu saya pun juga harus belajar untuk menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untuk istri dan anak-anak saya." Malik berucap tanpa ragu. Dalam setiap kata mengandung ketegasan.


Bram tampak kagum dengan jawaban Malik, Saat Malik berani datang sendiri pun Bram sudah sangat kagum karna berani langsung datang kehadapannya.


Bram pun menoleh kearah Keinya, dia tersenyum kearah istrinya yang dijawab oleh anggukan oleh istrinya.


"Sayang, tolong panggilkan Vania kesini!" titah Bram.


Keinya pun langsung berdiri untuk menghampiri dan memanggil Vania.


"Vania!" ucap Keinya sambil mengetuk pintu kamar putrinya. Namun, tak ada sahutan dati dalam.

__ADS_1


Keinya pun membuka kamar Vania yang tidak dikunci, dia menggeleng melihat Vania yang ternyata sedang mendengarkan musik melakui hedseat.


"Mamih!" ucap Vania dengan kaget saat Keinya menarik hedset di kuping Vania.


"Mamih, memanggil mu dari tadi. Kau tidak mendengar."


Vania pun bangkit dari berbaringnya. "Ada apa mamih memanggilku?"


"papih, ingin berbicara dengan mu. Ayo turun."


Vania pun mengikuti mamihnya. Saat tiba dibawah, tubuh Vania menegang ketika melihat Malik sedang ada di depan papihnya.


Malik yang di tatap oleh Vania hanya bisa tersenyum dan menangguk.


"Kemarilah, Nak!" titah Bram yang melihat Vania tak kunjung menghampirinya.


Vania pun dengan sedikit ragu, menghampiri kearah sofa, bahkan tanpa sadar dia mendudukan dirinya disebelah Malik.


"Pa-pih, ada apa papih memanggilku?" tanya Vania terbata-bata. Ingin sekali dia melihat kearah Malik. Namun dia tak berani.


Mata Vania berbinar sempurna mendengar ucapan Bram, setidaknya dia sudah diijinkan untuk menikah muda. "Ya, aku siap papih," ucap Vania dengan bersemangat.


Seketika Keinya memutar bola matanya jengah, tingkah Vania mengingatkannya pada dirinya saat muda, Aska dan Aysel merestui hubungannya dengan Bram.


"Baiklah, Malik, bawa orang tua mu kemari. Kita bahas tentang pernikahan dengan kedua orang tua mu."


Makin pun mengangguk dengan mantap.


°°°°


Setelah berbicara dan berbincang-bincang dengan Malik. Bram pun masuk keruang kerja. Sedangkan Keinya menemui Lila yang berada di kamarnya.


Bram menatap bingkai foto yang berada di mejanya. Didalam foto itu, ada foto dirinya bersama istri dan ketiga putrinya. Saat asik memandang foto, Keinya pun masuk ke ruangan Bram.


"Papih!" panggil Keinya sambil mendekat ke arah Bram. Bram pun menarik lembut tangan istrinya agar duduk menyamping di pangkuannya.

__ADS_1


"Sedang apa Lila?" tanya Bram.


"Aku baru saja mengantar cemilan ke kamarnya. Papih sepertinya ada yang kau pikirkan?"


"Sayang, bolehkah aku bertanya?"


"Tentu?"


"Apa kau bahagia menikah dengan ku? apa kau tidak merasa risih karna umur kita yang berbeda jauh?"


Seperti biasa, Keinya mengelus pipi suaminya dan menghadiahkan kecupan mesra di bibir Bram. "Kau tau, dari dulu rasa cemburu ku tak pernah hilang, aku selalu takut wanita lain merebutmu dari ku. Tanpa aku bicara pun, kau pasti sudah tau aku sangat-sangat mencintaimu. 20 tahun kita menikah, rasa ku pada mu tetap sama. Cintaku padamu takan pernah pudah. Tak perduli umur kita berbeda, aku selalu mencintai mu," ucap Keinya memandang Bram dengan penuh cinta. Bahkan saat usia suaminya tak lagi muda, Bram tetap terlihat tampan karna dia rajin ber'olah raga dan mengatur pola makannya.


Tanpa menjawab ucapan lagi istrinya. Bram menggendong Keinya ala bridal style. Lalu dia membaringkan Keinya di sofa.


"Anak-anak sepertinya sedang di kamar masing-masing. Bagaimana kalau kita ...." perkataan Bram terputus saat Keinya mencium bibir suaminya dan selanjutnya aku pun tak tau mereka melakukan apa 🤣🤣.


°°°°


Saat malam hari, Andra dan Marya datang melamar Vania. Mereka sepakat untuk menikah 2 bulan lagi. Dan setelah acara selesai, Aska, Andra dan Bram duduk dihalaman ditemani dengan minuman dan cemilan ringan.


Selama duduk bersamaan, ke 3 lelaki itu tak ada yang bicara. Mereka larut dengan pikiran masing-masing.


Bram memikirkan beratnya melepas putri kepada orang lain, Aska memikirkan hubungan kelurga yang berbelit, dan Andra memikirkan tentang dia tak menyangka bahwa dia akan berkeluarga dengan orang yang selalu membulinya.


Andra pun melihat Bram dan Aska secara bergantian. "Kenapa lu, Ndra?" tanya Aska sekian lama bungkam.


"Kalian inget kaga, 30 tahun lalu kalian pernah adu jotos, tapi sekarang kalian jadi menantu dan mertua?" tanya Andra.


Seketika Aska dan Bram saling pandang. Namun, tak lama mereka kembali membuang pandangan kearah lain. Jujur saja mereka sama-sama malu ketika mengingat mereka pernah saling hajar. Namun berakhir menjadi mertua dan menantu.


"Lu kaga lupa juga kan, lu sekertaris gua dan jadi bawahan gue. Tapi, sekarang lu malah besanan sama anak gua. Untung aja Malik ga bar-bar kaya lu. Kalau enggak mana mau gue terima jadi cucu mantu gue. Iya, kan, Bram?"


Bram yang mendengar ucapan Aska hanya memalingkan tatapannya kearah Lain, dia terlalu malu melihat mertuanya yang narsis.


Vote kalian disimpen buat vote di cerita "Istri diatas kertas ya. karna sesudah ini tamat aku langsung kebut up disana.

__ADS_1


__ADS_2