
Malik memejamkan matanya saat Vania mengingatkannya akan dirinya yang sedang demam. Dia pun lupa akan cara bicaranya yang harus di lemah-lemahkan, dia malah berbicara dengan nada biasanya, terlihat jelas bahwa dia sehat.
Malik memutar otak, dia sudah tak tahan untuk di acuhkan, pura-pura sakit pun sepertinya tidak ber efek pada Vania.
Malik menghela napas sejenak. Ia sadar, tak ada gunanya lagi berpura-pura. Mungkin lebih baik jujur dan terbuka pada istrinya.
Ia melihat Vania yang juga sedang melihat ke arahnya. "Sini duduk, Mas mau bicara," ucap Malik. Ia memegang tangan Vania dan menariknya dengan lembut
Vania pun menurut, ia mengikuti keinginan suaminya. Kini, mereka pun duduk dengan posisi berhadap-hadapan.
"Sayang liat, Mas!" titah Malik. Ia memegang dagu Vania memaksa Vania untuk melihat kearahnya.
"Mas mau jujur sama kamu." Malik menghentikan ucapannya sejenak. Sebenarnya, ia tak tega untuk menceritakan apa yang menimpa dirinya.
Kejadian kemarin, bukanlah hal yang mudah untuk Malik tangani. Tapi, ia memendamnya sendiri. Ia tak ingin istrinya tau tentang hal buruk yang sedang ia alami. Tapi sekarang ia tak punya pilihan lain, semua memang harus terbuka.
"Kenapa?" tanya Vania. Memandang wajah suaminya tiba-tiba mata Vania mengembun, satu kali kedipan saja bisa di pastikan Vania akan mengeluarkan air matanya, dia bisa melihat bahwa ada gurat penyesalan di wajah suaminya.
__ADS_1
"Tapi janji, apa pun yang mas bilang jangan sampe ngebuat kamu kepikiran."
Vania pun mengangguk.
"Mas kemarin ikut investasi di prusahaan temen Mas, tapi ternyata dia kabur dan saat setelah mas tau dia kabur sorenya dapur restoran kebakaran." Setelah mengucapkan itu, tiba-tiba Malik tertunduk. Ia kembali merasakan sesak saat mengingat uangnya raib.
Mungkin uang segitu tak ada apa-apa bagi mertuanya atau kedua orang tuanya. Tapi, tidak bagi Malik. Uang 2 milyar yang raib adalah hasil kerja keras Malik, walaupun hanya anak tunggal. Ia tak pernah miminta bantuan kepada orang tuanya, ia berusaha sendiri.
Bahkan saat kuliah, Malik sudah memulai bisnis kecil-kecilan untuk menambah tabungannya. Mengenai restoran yang terbakar, Malik sama sekali tak memersalahkan berapa ganti rugi untuk merenovasinya kembali, tapi ada satu pekerjanya yang menderita luka bakar di bagian kaki, dan itu membuat Malik merasa bersalah, walaupun itu murni keteledoran pekerja yang bertugas di bagian dapur.
Mendegar ucapan suaminya, Vania menunduk, ia meremas tangannya dan tak lama dia terisak. Ia merasa bahwa dia sudah sangat jahat pada suaminya, saharusnya ia menyemangati suaminya, tapi di sisi lain ia pun tak bisa mengingkari sakit hatinya karena bentakan Malik pada saat itu.
Malik yang mendengar Vania terisak langsung mengangkat kepalanya, ia terperanjat kaget.
Malik pun mendekatkan dirinya ke arah istrinya, lalu membawa Vania kedalam dekapannya.
Tak lama, Vania membalas pelukan Malik, isakan Vania berubah menjadi tangisan yang kencang.
__ADS_1
"Maafin, Mas ya. saat itu mas lagi cape banget. Jadi, tanpa sadar mas bentak kamu," ucap Malik. Ia terus membelai punggung Vania, membiarkan istrinya tenang. Namun, bukannya tenang, Vania malah mengencangkan tangisannya, ia mengeluarkan segala emosi yang berkcamuk dalam dada.
Malik pun, melepaskan pelukannya, ia menangkup kedua pipi istrinya.
"Mau kan maafin, Mas. Mas janji, ga bakalan kaya gitu lagi. Kamu istri Mas, udah kewajiban Mas nyenengin kamu, ngasih kamu yang terbaik. Jadi kalau kamu ngidam apa-apa bilang sama Mas, ya," ucap Malik. Ia memadang istrinya dengan tatapan penuh cinta.
Vania pun mengangguk, "Maafin aku juga," balas Vania. Malik pun mengangguk. Ia mencium seluruh inci wajah istrinya.
Malik pun membawa kembali Vania dalam dekapannya. Setelah lama saling berpelukan. Terdengar suara sendok saling beradu dengan piring, seperti ada yang sedang makan.
Malik pun mengajak Vania untuk bangkit dan keluar dari mushola.
Mata mereka membulat sempurna saat melihat Aska dan Andra yang sedang menyantap bubur di meja makan.
Saat subuh tadi, Aska ingin olahraga lari, ia ingin mengajak Aysel. Tapi, Aysel sepertinya kurang sehat. Akhirnya, Aska pun memaksa Andra untuk olahraga bersamanya. Walaupun dalam kondisi mengantuk, Andra tetap saja mengikuti kemauan Aska. Tentu saja saat Aska menjemputnya, Andra memggerutu pada mantan bosnya. Tapi, tak urung dia pun naik kedalam mobil.
Andra memutar otaknya agar Aska membatalkan acaranya untuk berolahraga berlari. Dia ingat bahwa Aska sangat menyukai bubur ayam yang dekat apartemen putranya. Andra pun mengatakan pada Aska untuk sarapan bubur terlebih dahulu sebelum ber'olahraga, dan Aska pun menyetujuinya.
__ADS_1
Dan setelah Aska setuju, Andra pun harus menyiapkan alasan lain, agar Aska tak ingat niatnya untuk ber'olah'raga.
Malik ....