
Setelah Lila keluar dari ruangan Raffael, Lila bukan turun memakai lift. Dia malah menuju tangga darurat. Dia terduduk lesu dianak tangga, tangis yang dipendamnya dari tadi pecah. Dia memukul-mukul dadanya merasa sesak dengan apa yang terjadi di hidupnya.
Dia merasa bersalah pada putranya yang tak bisa memberi keluarga yang utuh bagi Lyo. Semenjak Lila kembali pada keluarganya. Dia tak pernah membawa Lyo keluar. Karna apa? tentu saja semua pasti akan bertanya siapa Lyo.
Bukan Lila tak ingin mengakui Lyo didepan umum. Hanya saja ada nama keluarga yang harus dia jaga. Dia juga tak ingin orang lain menyebut Lyo anak haram.
Tapi, walaupun begitu, Lila sama sekali tak berniat untuk menikah. Dia takut jika dia menikah dengan lelaki lain, suaminya tak akan menerima Lyo dan dia tak ingin Lyo hidup seperti dirinya dimasa kecil, saat Tya menyakitinya. Dia takut suaminya kelak tak menyukai Lyo dan akan berbuat kasar pada putranya.
Tak lama pintu terbuka.
"Nona!" panggil pengawal yang memang dari tadi menunggu didenpan lift. Namun, karna Lila berjalan menunduk, Lila tidak tau bahwa pengawalnya telah menunggunya.
Lila menghapus air matanya. Dia menoleh kebelakang, "Maafkan aku, aku telah membuatmu menunggu," ucap Lila sambil bangkir dari duduknya.
"Apa anda ingin langsung kerumah sakit?" tanya pengawal saat membuka pintu.
"Aku ingin pulang, jangan katakan pada mamih tentang apa yang kau lihat."
Pengawal pun hanya diam, bagaimana pun dia dibayar untuk mengawasi Lila dan melaporkannya pada Keinya dan Bram.
Setelah sampai di pekarangan rumah, Lila melihat bahwa Lyo sedang bermain bersama Tania. "Lyo!" panggil Lila saat turun dari mobil.
Bocah kecil itu pun berlari menghampiri Lila, dan merentangkan tangannya. "Bunta ... Bunta," ucap Lyo saat berada di gendongannya. dan tak berhenti Lila mencium pipi putranya.
"Tania, apa kau tidak kuliah?" tanya Lila saat menghampiri Tania yang sedang duduk dirumput.
"Aku baru saja pulang kak," balas Tania.
"Apa Vania baik-baik saja? semalam kaka tidak melihatnya?"
"Entahlah, dia hanya bilang malas untuk keluar kamar."
Seketika Lila teringat tentang kejadian Raffael yang ada di apartemen. Dan Lila tau pasti adiknya merasa bersalah padanya karna sudah membantu Raffael.
"Tania, mamih dan papih dimana?"
"Mereka sedang pergi keluar, apa kaka perlu sesuatu?"
__ADS_1
"Bolehkah, kaka menitip Lyo sebentar?"
"Tentu."
Lila pun menurunkan Lyo dari gendongannya dan berniat masuk untuk menghampiri Vania.
"Vania!" panggil Lila saat masuk kekamar adiknya. Dia melihat Vania sedang bermain laptop sambil menyenderkan punggungnya diranjang.
Vania langsung menunduk saat Lila masuk kekamarnya. "A-ada apa kak?" tanya Vania terbata-bata. Dia benar-benar malu saat Lila menghampirinya.
Lila duduk disebelah Vania. "Kenapa kau menghindari, kaka?"
"Kaka, ma-maafkan aku. A-aku ..." Vania tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Dia benar-benar malu untuk menatap Lila.
Lila menggenggam tangan Vania, "Kaka tidak marah padamu Vania," ucap Lila yang mengerti ketakutan adiknya.
Seketika Vania mengangkat kepalanya memandang Lila, "Benarkah, benarkah kaka tidak marah padaku?"
"Kaka tidak akan memarahi kau Vania, kaka sangat menyayangi kalian, apa kalian juga menyayangi kaka?"
Vania pun mengangguk.
"Tapi, kenapa?" tanya Vania. Walau dia membantu Raffael kemarin, tapi tetap saja Vania masih enggan memaafkan Raffael.
"Kaka, hanya ingin keluarga kita kembali, semua sudah terjadi Vania. Jika kita terus membenci Raffael, itu berarti kita tidak mensyukuri hadirnya Lyo ditengah-tengah kita."
"Apa kaka sudah memaafkannya?"
"Mungkin belum, tapi kaka akan berusaha melupakannya, seperti yang kaka bilang, jika kaka masih menyimpan dendam padanya, itu berarti kaka tak mensyukuri kehadiran Lyo. Kau mengerti kan maksud kaka?"
"Baikalah, kak. Aku akan mencoba bersikap biasa padanya."
••••
Setelah pulang dari kantornya, Raffael memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya. Dia berharap ucapan Lila memang benar, jika dirinya sudah diijinkan masuk.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, Raffael akhirnya tiba didepan rumahnya. Dia menekan klakson, dan benar saja satpam membuka gerbang untuknya.
__ADS_1
Mata Raffael berkaca-kaca saat masuk kerumahnya. Setelah 3 tahun tak mendapat ijin masuk, akhirnya Rafael bisa kembali lagi kerumah yang selama ini dia rindukan.
Dia berjalan masuk kerumah, dan saat akan naik, dia mendengar suara berisik dari dapur. Dan dia tau pasti itu adalah Aysel yang sedang memasak.
Raffael, berjalan perlahan kearah dapur. Dan grepp. Raffa memeluk Aysel dari belakang.
"Mommy!" panggil Raffael saat memeluk wanita yang sangat dirindukannya.
Aysel yang sedang mengiris sayuran menghentika aktivitasnya, dia menahan tangisnya agar tidak pecah saat putranya memeluknya.
"Kau sudah datang?" tanya Aysel dengan masih berusaha menahan tangis haru. 3 tahun bukan waktu yang sedikit baginya. Sebagai ibu dia pun tersika karna membiarkan putranya hidup seorang diri.
"Maafkan, aku, Mommy." Raffael kembali terisak saat memeluk Aysel.
Aysel membalika tubuhnya, dia memandang putra bungsunya dengan penuh tatapan rindu. "Kami semua telah memafkan mu, tapi, berjanjilah, kau tak akan melakukan kesalahan lagi."
Mendengar ucapan mommynya, Raffael kembali lagi memeluk Aysel.
"Kau, tidak akan memeluk, daddy?" selah Aska yang baru saja datang dari rumah Keinya untuk mengajak Lyo bermain.
Raffael melepaskan pelukannya pada Aysel. Dia berjalan menghampiri Aska.
"Da-dady, bolehkah aku memangku putraku?" tanya Raffael terbata-bata. Ini kali pertamanya Raffael melihat putrnya secara langsung.
Aska pun menangguk. Dia menyerahkan Lyo pada putranya.
Saat dipangkuan Raffael, Lyo hanya memandang wajah Raffael. Tangan kecil Lyo tergeruk mengelus pipi Raffael. Namun, tak lama Lyo menangis mungkin karna belum pernah melihat Raffael.
"Biar daddy yang menenangkannya." Aska merentangkan tangannya untuk mengambil Lyo dari genggaman Raffael.
"Biar aku saja dad!" Raffael meninggalkan dapur dengan terus menggendong Lyo yang terus menangis.
Raffael mengajak Lyo berjalan kesana kemari sambil berceloteh. Sampai akhirnya tangis Lyo mereda dan tak lama Lyo menguap. Raffael meletakan kepala Lyo dipundaknya dan menimang-nimang Lyo dan akhirnya Lyo tertidur digendongannya.
Raffael, masuk kekamarnya. Dengan perlahan dia membaringkan putranya dikasurnya. Raffael terus memandang wajah lucu putranya. Tangis yang dia tahan sedari pecah mengingat betapa kejamnya dirinya saat membiarkan wanita yang dicintainya dan putranya menganggung beban selama 3 tahun kebelakang.
Lama dia memangdang wajah Lyo, satu ide terlintas dipikirannya. Dia tersenyum saat mendapat ide yang pasti akan membuat Lila memaafkannya dan mau menikah dengannya.
__ADS_1
Raffael membuka jasnya. kemudian dia membaringkan dirinya disebelah putranya.
"Daddy pasti bisa mendapatkan kalian berdua," ucap Raffael setelah mencium pipi putranya. kemudian dia memeluk Lyo dan tak lama dia terlelap.