Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
bab 37


__ADS_3

Setelah makan malam, Lila berbicara pada Bram dan Keinya tentang keinginannya untuk memaafkan Raffael. Dia ingin hidup tanpa dendam. Dia ingin keluarganya kembali seperti semula. Apalagi dia selalu melihat Aysel diam-diam memandang foto Raffael.


Dia hanya tak ingin gara-gara dirinya keluarganya terpecah belah. Mungkin Lila terbiasa mengalah dengan keadaan hingga sekarang dia harus menekan traumanya untuk bisa berbicara dengan Raffael.


Keesokan harinya.


Kantor Abraham grup.


Lila sudah berdiri didepan gedung, dia berulang kali meremas tangannya, sesekali dia menghela napas kasar. Walau bagaimana pun dia masih menyimpan ketakutan akan Raffael.


"Nona!" panggil salah satu pengawal yang berdiri di belakang Lila.


Lila yang sedang melamun pun menoleh kearah belakang. "Ya."


"Apa anda tidak akan masuk?" tanya pengawal yang heran karna Lila terus berdiri. Untung saja sedang jam kantor hingga tak ada yang memperhatikan mereka.


Lila kembali menghela napas, "Kau tunggulah disini, biar aku masuk sendiri," ucap Lila.


"Tidak Nona, nyonya Keinya menyuruh saya untuk mendampingi Anda."


"Aku tak akan lama, kau tunggulah disini." Lila pun berjalan tanpa mendengar lagi jawaban pengawalnya.


Raffae.


"Pak!" panggil Malik sambil membawa dokumen ditangannya untuk meminta tanda tangan Raffael.


Raffael melihat kearah Malik, namun, dia kembali melihat kearah dokumen dimejanya. Raffael masih kesal pada sekertarisnya karna tadi pagi Malik dengan teganya membohongi Raffael jika dia ada meeting bersama perusahaan lain. Malik berbohong karna jengkel bosnya belakangan ini selalu membolos hingga Malik harus bekerja extra sendiri.


"Pak!" panggil Malik lagi.


Namun lagi-lagi Raffael tidak menjawab.


"Pak, woii, pak," ucap Malik dengan kesalnya karna Raffael tak mengindahkan panggilannya.


"Saya ini atasan kamu ya," balas Raffael yang jengah karna Malik bersikap seenaknya karna masih jam kantor.


"Noh, tanda tangan, kalau udah panggil gue," balas Malik lalu dia keluar pergi tanpa menoleh lagi kearah Raffael.


Jika Andra berani berbicara kurang ajar pada Aska hanya jam istirahat atau sedang libur, tapi tidak dengan Malik, dia selalu bersikap kurang ajar pada Raffael walau masih jam kantor. Dia berharap Raffael memecatnya karna memang dari awal dia tak ingin menjadi sekertaris Raffael.


Raffael menggeleng melihat tingkah sekertarisnya. Tak lama telepon disebelahnya berbunyi.


"Hmm," Raffael berdehem saat menjawab telepon dari ruangan sekertarisnya.

__ADS_1


"Pak, ada yang ingin berbicara dengan anda," ucap Malik ditelpon.


"Saya sibuk," balas Raffael yang mengira Malik hanya mengerjainya karna seingatnya Raffael tak mempunyai janju dengan siapa-siapa.


"Baik pak, saya akan sampaikan," balas Malik.


"Maaf Lila, Raffael sepertinya tidak bisa ditemui," ucap Malik pada Lila yang sedang beridiri didepannya. Malik lupa bahwa gagang telepon masih berada ditelinganya.


Raffael yang akan menaruh gagang telepon, terkejut saat mendengar nama Lila. Dia dengan cepat berlari membuka pintu.


Dan benar saja, dia melihat Lila sedang berdiri didepan meja Malik bersiap untuk berbalik pergi.


"Lila!" panggil Raffael.


Lila menoleh kearah Raffael. Dia memejamkan matanya saat pandangan mereka bertemu. Namun, dia tak ingin lagi terlihat lemah. Dia berusaha mengatur napasnya. "Rafael, bisakah aku berbicara dengan mu?" tanya Lila setelah dia bisa mengendalikan dirinya.


Mata Raffael, berkaca-kaca dia tak menyangka bahwa Lila ada di depannya.


"Tentu, ayo masuk!" ajak Raffael dengan tersenyum.


Namun, Lila tak juga melangkahkan kakinya.


Saat Raffael mengajaknya.


Lila menggeleng, lalu dia melangkahkan kakinya menyusul Raffael yang sudah masuk keruangannya.


"Lila!"


"Raffael!"


Mereka memanggil dengan bersamaan saat masuk keruangan Raffael.


Hening


Hening


Hening


"Raffael, aku ingin bicara denganmu," ucap Lila memecah keheningan antara mereka.


"Duduklah!"


Lila pun duduk di sofa, disusul Raffael duduk didepannya.

__ADS_1


"Lila aku mint ..." perkataan Raffael terputus karna Lila menyelah ucapan Raffael.


"Raffael, biar aku dulu yang bicara," ucap Lila saat menyelah ucapan Raffael.


Raffael pun menangguk.


"Raffael, aku kesini hanya untuk menjelaskan sesuatu pada mu. Aku ingin menjawab semua tuduhan yang kau layangkan pada ku dulu ... Aku tak tau kenapa dulu kau menganggap ku wanita murahan dan aku juga tak tau apa alasanmu menyebut jika aku hanya ingin harta keluarga mu. Tapi aku akan menjelaskan semua sekarang. Raffael, aku sama sekali tak berniat atau mengharapkan harta dari mamih dan papih, setelah aku tau aku bukan anak kandung papih, aku selalu merasa tak berhak jika aku menerima semua apa yang diberikan papih, padaku. Bagiku papih dan mamih tidak membuangku saja aku sudah bersyukur, walau selama 15 tahun aku hidup dalam ketakutan. Dan aku juga ingin menjelaskan padamu, aku akui kelakuan mamih Tya memang buruk, tapi aku bersumpah atas nyawa ku dan nyawa putra ku aku tidak sep ... " perkataan Lila terhenti saat Raffael duduk disisinya dan langsung memeluknya.


"Tolong, jangan katakan apa pun lagi, aku tau, aku salah, maafkan aku, maafkan aku Lila, ijinkan aku bertanggung jawab, atas dirimu dan atas putra kita," ucap Raffael sambil memeluk Lila erat. Raffael terisak saat dia memeluk Lila.


Lila menahan tangisnya agar tidak pecah, dititik ini dia berusaha malawan traumanya dan ketakutannya saat Raffael menyentuhnya.


"Ra-raffael aku tidak bisa bernapas," kata Lila saat dia merasakan Raffael semakin erat memeluknya.


Raffael melepaskan pelukannya, dia menghapus air matanya, lalu tangannya bergerak menangkup kedua pipi Lila. Baru saja dia akan mencium kening Lila, namun, dengan cepat Lila memalingkan wajahnya.


Raffael kembali melepaskan tangannya dari pipi Lila, setelah itu dia menggeser meja lalu dia bangkit dan berlutut. Setelah berlutut Raffael memegang kedua tangan Lila.


"Lila, aku tau, kesalahan ku padamu sungguh besar, tapi ijinkan aku untuk bertanggung jawab atas dirimu dan atas putra kita," ucap Raffael. Baru saja dia ingin mengecup tangan Lila, namun sayang, Lila kembali menarik tangannya lagi.


"Raffael, aku kesini bukan untuk meminta pertangung jawabanmu. Karna bagaimana pun aku masih mengingat ucapanmu dulu bahwa kau tak ingin bertanggung jawab dan ingin melenyapkan putra ku, Aku tak masalah walau hanya membesarkan Lyo seorang diri, aku tau kau tak menginginkan Lyo dan aku tak mau kedepannya Lyo harus mendapat kasih sayang palsu dari mu. Aku datang kesini hanya untuk menyelesaikan kesalah pahaman antara kita. Dan aku juga sudah meminta moma dan popa untuk memaafkan mu. Kau bisa pulang kerumah karna moma dan popa sudah mengijinkanmu masuk."


Mendengar semua ucapan Lila, Raffael malah meletakan kepalanya dipaha Lila, dia menangis tersedu-sedu mendengar semua ucapan Lila. Dia tak menyangka bahwa Lila masih mengingat ucapannya tentang dia yang ingin melenyapkan Lyo.


Tapi saat ini dia bersumpah, dia benar-benar ingin bertanggung jawab dan benar-benar menyayangi putranya.


Lila memaksakan bangkit dari duduknya saat isakan Raffael semakin kencang.


"Aku harus pergi, terimakasih atas waktumu," ucap Lila saat dia sudah berdiri.


Namun tak lama langkahnya terhenti saat Raffael memeluknya dari belakang.


"Ijinkan aku memelukmu sebentar saja!" pinta Raffael.


Lila melepaskan pelukan Raffael secara paksa, "Pulanglah, moma merindukanmu."


"Lila, apa boleh aku bertemu putra ku?"


Lila menoleh kearag Rafaael, "Tolong berhenti menyebut Lyo putramu, sejak awal kau tak menginginkannya bukan?" Lila pun melangkah pergi tanpa mendengar lagi jawaban Raffael.


Bukan Lila tak ingin memperkanalkan Lyo pada ayah kandungnya, namun, ucapan Raffael saat dulu yang mengatakan ingin membunuh Lyo masih tertanam jelas diotak Lila, hingga dia belum bisa mempercayai Raffael.


Rafae kembali duduk dikursinya, dia mengambil bingkai foto Lila dan Lyo, lalu dia meletakannya didadanya. "Aku pasti bisa mendapatkan kalian berdua."

__ADS_1


__ADS_2