Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
Bab 40


__ADS_3

"Nih, yang lu pesen," ucap Malik yang baru saja masuk keruangan Raffael. Dia membawa 1 botol cairan berwarna merah yang tak lain adalah pewarna pakaian.


"Lu, udah telepon ambulanya, kan,?" tanya Raffael sambil meneliti isi botolnya.


"Udeh, semua udah beres."


"Lik, Lila bakal tau ga ya, kalau ini cuman pewarna?" tanya Raffael. Dia takut rencananya gagal.


"Ya jelaslah, dia bakalan tau. Dia kan Dokter, mana mungkin dia ga tau."


"Begitu gue numpahin ini, lu suruh ambulan datang, biar Lila ga curiga."


"Hmm. Gue balik ke ruangan gue," ucap Malik setelah urusannya dengan Raffael beres.


•••


Raffael sedang berada di mobil bersama Malik, jujur saja dia pun merasa cemas karna takut akan rencanya gagal dan takut jika Lila malah membencinya.


Tapi dia tak bisa mundur lagi, dia sudah kehilangan akal untuk mendapatkan Lila.

__ADS_1


Setelah mendapat kabar dari Vania bahwa Vania dan Lila sudah dekat. Raffael menyuruh semuanya bersiap. Termasuk mobil yang akan menabraknya dan ambulan yang berada tak jauh dari kejadian.


"Lila, Awas!" teriak Raffael mendorong tubuh Lila kedepan. Dan setelah mendorong Lila Raffael pun dengan segera berlari. Dia langsung berbaring dan tak lama Malik melemparkan botol yang berisi cairan pewarna.


Tubuh Lila bergetar saat melihat Raffael sudah terkapar. Dengan perlahan dia berjalan ke arah Raffael.


"Raffael!" teriak Lila sambil menepuk-nepuk pipi Raffael.


Saat Lila menepuk-nepuk pipi Raffael, Raffael ingin sekali berteriak karna merasakan sakit saat lutut Lila menginjak tangannya, belum lagi rasa sakit akibat tepukan Lila di pipi Raffael.


Tak lama Vania pun datang, "Om!" teriak Vania saat menghampiri Lila dan Raffael.


Tak lama ambulan datang. Karna memang panik, Lila tak menyadari ambulan datang begitu cepat. Padahal jarak dari rumah sakit sangat jauh.


"Vania, kaka akan ikut bersama ambulan, kau bisakan menyetir sendiri," ucap Lila setelah Raffael berada di ambulan.


"Ka, aku belum mempunyai sim, bagaimana jika kita kerumah sakit menggunakan mobil saja," jawab Vania. "Ka, kaka duluan saja kerumah sakit, aku akan berjalan kerumah untuk mengabari popa dan moma," ucap Vania lagi setelah dia ingat perkataan ommya bahwa Vania tak boleh ikut kerumah sakit.


Karna panik Lila pun menyetujui usul Vania, dan dia pun memacu mobilnya mengikuti ambulan didepannya.

__ADS_1


•••


Lila berjalan kesana kemari saat Raffael sedang diperiksa oleh Dokter sambil tak henti-hentinya menangis.


Tak lama Dokter pun keluar dari ruangan Rafael.


"Ba-bagaimaka, Dok, keadaan Om saya?" tanya Lila terbata-bata.


Dokter itu menghela napas sejenak. "Pasien masih belum sadarkan diri. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut sebentar lagi," jawab Dokter tersebut. Dan tentu saja Dokter tersebut juga sudah dibayar oleh Raffael.


"Apa, aku boleh masuk, Dok?" tanya Lila


"Silahkan!"


Sebelum Lila masuk, Lila pergi dahulu ke toilet untuk mencuci muka. Saat dia membersihkan wajahnya dan melihat cermin, dia mengernyit heran saat melihat noda darah dibajunya.


Dia mencium noda itu. Dia berpikir sejenak tentang aroma nodanya. Dia yakin itu bukan darah. Lila seorang Dokter tentu saja dia tau. Tak ingin menebak apa yang terjadi. Lila keluar dari toilet dah menuju mobilnya. Dia berencana melihan black box di mobilnya karna saat kejadian mobil Lila terparkir didepan area kejadian dan pasti semua akan terekam.


Saat melihat rekaman black box, dia mengepalkan tangannya karna ternyata Raffael membohonginya. Tapi tak lama, Lila tertawa saat melihat konyolnya tingkah Raffael. Seketika Lila tersenyum kembali. Dia mempunyai cara agar bisa membalas kelaluan Raffael. Lila pun keluar dari mobil dan menuju keruangan rawat Raffael.

__ADS_1


Maaf ya lagi ga enak badan. jadi upnya sedikit. Oh ia. kalian liat ya instagram ku Dewikim423 aku ada pengumuman disana.


__ADS_2