
Mata Malik membulat sempurna saat melihat papah dan kakek mertuanya sedang menyantap bubur dengan santai di meja makan, Malik dan Vania bahkan tak tau kapan kedua papah dan kakek mertuanya masuk ke apartemennya
"Pah, Poppa ....!" panggil Vania, mereka yang sedang asik makan pun menoleh
"Kalian udah selesai?" tanya Aska. "Nih, poppa beliin bubur," ucap Aska.
"Beliin apaan, duitnya punya gue," cibir Andra, Namun, Aska mengangkat bahunya acuh.
Malik dan Vania pun mendekat. Vania mendudukan diri di meja makan, sedangkan Malik mengambil piring untuk memindah bubur.
"Popa, papah, masuk dari tadi?" tanya Vania.
"Kayanya pas kamu sama Malik lagi pelukan," balas Andra dengan santai. Ia mengambil air dan meminumnya hingga tandas.
"Papah, ngintip?" tanya Malik yang baru saja bergabung di meja makan.
"Enggak ngintip, cuman liat kalian bentar terus balik lagi ke meja makan," jawab Andra.
"Itu sama aja ngintip P, A," sela Aska.
Malik pun hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia melirik Vania yang mendunduk, karena matanya sembab. Kemudian mereka pun mulai makan.
"Ndra hayu!" ajak Aska setelah menyelesaikan makan bubur. Ia masih duduk di meja makan, sedangkan Andra sedang duduk di sofa.
Dalam hati, Andra mengutuk Aska habis-habisan, padahal dia ingin beristirahat. Ia yang sedang duduk di sofa tak langsung menjawab.
"Ka, lu ga bawa hape?" tanya Andra setelah sekian lama menggeleng.
Aska menggeleng, "Enggak," jawabnya.
"Bini lu chat gue, sakit bini lu tambah parah katanya, " ucap Andra.
Mata Aska membulat sempurna saat mendengar ucapan Andra. Ia pun bangkit dari duduknya dan keluar dari apartemen Malik tanpa berpamitan pada cucu dan cucu menantunya. Bahkan, ia meninggalkan Andra
Saat mendengar suara pintu, Andra tergelak. Ia berhasil membohongi Aska. Ya, itulah Aska, ia akan cepat tanggap bila mengenai soal istrinya.
"Papah, bohongin Poppa?" tanya Malik.
"Enggak, dia aja yang percaya sama papah," balas Andra. Sedangkan Vania dan Malik yang masih berada di meja makan hanya menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
Tak lama Andra pun bangkit dari duduknya. "Lik, papah mau pulang ya," ucap Andra.
"Oh, ia ... Eh tapi, papah pulang gimana? kan mobil di bawa sama poppa."
"Ah, gampang. Nanti papah pesen ojeg online," jawab Andra. "Tapi ...." Andra sedikit ragu meneruskan ucapannya.
"Papah ga bawa uang?" tebak Malik.
Andra pun mengangguk. Tadi Andra hanya membawa uang 50 ribu, itu pun di pakai untuk membeli bubur.
Malik pun bangkit dari duduknya dan mengambil dompet "Nih, pah," ucap Malik sambil menyodorkan uang ke arah Andra.
"Banyak banget, Lik," ucap Andra saat Malik menyerahkan semua isi dompetnya.
Nanti buat papah kalau mau beli sesuatu sebelum pulang."
"Gak, papah ambil 100 ribu aja ... Yaudah papah pulang dulu ya," ucap Andra.
Malik dan Vania pun mengangguk .
"Yank, kamu duduk aja, biar Mas yang beresin!" titah Malik. Vania pun mengangguk, rasanya masih canggung berada di dekat suaminya setelah seminggu dirinya membangun jarak.
Setelah Malik selesai, Ia pun menghampiri Vania yang sedang duduk di sofa. Ia mendudukan dirinya di sebelah istrinya.
Ternyata, bukan hanya Vania yang canggung, Malik pun juga canggung.
Malik berdehem, menetralkan kecanggungan yang melanda di antara mereka. Dia memberanikah diri mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Cup, Malik mencium bibir Vania. Vania pun membalas ciuman Malik, membuat Malik bersemangat, apalagi seminggu ini ia, tak mendapatkan jatah.
Mereka terus hanyut dalam permainan yang di mulai oleh Malik, Vania terus menggumamkan nama suaminya, ketika suaminya menjelajahi tubuhnya. Setelah Vania di atas angin, tinggalah Vania yang membuat suaminya di atas angin.
Setelah sekian lama berpacu, akhirnya mereka pun selesai, dan mencapai puncaknya bersama- sama.
Napas Vania masih ter engah-engah. Saat ini, Vania masih berada di atas paha Malik, ia langsung memeluk leher Malik setelah mereka selesai ber olahraga pagi.
"Yank, liat Mas!" titah Malik, saat setelah lama Vania memeluk lehernya, sebenarnya Vania masih canggung untuk menatap suaminya.
Vania pun menurut, ia mulai melepaskan pelukannya dan menatap Malik.
"Apa?" tanya Vania sambil menunduk.
__ADS_1
Malik memegang dagu Vania dan mengangkatnya, hingga kini Vania melihatnya.
"Mulai sekarang, kalau mau apa-apa, kamu ngidam apa-apa, minta sama, Mas, ya."
Vania pun tersenyum dan menganguk, melihat senyum Vania, Dunia Malik kembali berwarna. Dari kasus kemarin, Malik menyadari bahwa senyum istri dan kebahagian istri adalah segalanya.
Waktu berjalan begitu cepat, hari menegangkan bagi Vania sedang berlangsung.
Dan di sinilah Vania, ia sedang berbaring dan berjuang melahirkan anaknya. Malik dengan setia menggemgam tangan istrinya, Ia ikut menangis saat melihat perjuangan istrinya.
Sedangkan keluarga yang lain menunggu di luar.
Setelah sekian Vania berjuang, akhirnya lahirlah anak perempuan yang sangat cantik. Sujud sukur mereka panjatkan saat persalinan selesai.
Setelah selesai, bayi mungil itu di bersihkan dan di adzankan. Sedangkan Vania langsung ber istirahat karena merasakan lelah yang luar biasa.
Bayi mungil itu mereka beri nama Stevia Lesmana
•••
Malam harinya
"Mas!" panggil Vania. Entah berapa kali Vania memanggil Malik. Tapi, Malik tak mendengar panggilannya. Ia malah sibuk memandang, putrinya yang berada di dalam Box.
"Mas!" panggil Vania lagi. Kali ini, Malik menoleh, "Ia yank," balas Malik. Ia pun menghampiri Vania. Ia pun menarik kursi dan mendudukannya di samping brankar Vania.
Ia menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya.
"Naik sini aku pengen tidur di peluk!" titah Vania.
Malik pun menangguk, ia pun bangkit dari duduknya dan naik kedalam brankar, lalu membaringkan tubuhnya di sisi istrinya.
Vania pun memeluk Malik dan menyusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"I love you," ucap Malik sambil membelai punggung istrinya.
Vania mendongak, "I love you to," balasnya. Mereka saling memandang dengan penuh cinta.
Season Malik sama Vania tamat ya.
__ADS_1
Hari selasa udah masuk season Julian dan Tania. walau ppnya aku end tapi Julian sama Tania di terusin di lapak ini ya. Nanti, Julian sama Tania pindah ke indonesia. Jadi masih akan ada interaksi dengan yang lainnya.