
Lila pun mengangguk senang dan setuju dengan syarat yang diajukan Keinya. Namun tak lama keningnya mengkerut. Dia bingung, karna bagaimana pun rumah sakit tempatnya bekerja nanti akan memberikan gajih.
"Mamih, jika aku bekerja lagi pasti aku akan mendapat gajih, Lalu bagaimana? sedangkan mamih tak mengijinkan ku memakai gajihku?" tanya Lila.
"Papih setiap bulan selalu rutin memberikan uang untuk bu Resna, jika kau mau uang gajih mu bisa kau transferkan juga untuk bu Resna dan ingat kau harus memakai semua yang mamih dan papih berikan. Kau mengerti?"
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Bram dari arah belakang. Dia datang dengan memangku Lyo.
Mendengar suara papihnya Lila gugup. Dia takut papihnya takan mengijinkannya.
"Biar mamih yang bicara pada papih," ucap Keinya berbisik ditelinga Lila.
Lila pun mengangguk.
"Mamih, papih, aku akan bermain bersama Lyo," ucap Lila yang mengambil Lyo dari gendongan Bram.
"Turunlah saat magrib kita sholat berjamaah!" titah Bram sambil mendudukan dirinya disebelah Keinya.
Lila pun mengangguk dan berlalu pergi dari hadapan mamih dan papihnya.
Bram langsung berbaring dengan berbantalkan paha Keinya. "Sayang, apa yang kalian bicarakan?" tanya Bram sambil memejamkan mata. Dia menikmati elusan tangan Keinya.
"Papih, Lila ingin bekerja sebagai Dokter lagi, dan aku mengijinkannya."
Mendengar ucapan Keinya, Bram langsung bangkit dari tidurnya dan memandang istrinya.
"Sayang, kenapa kau ijinkan dia bekerja lagi? bagaimana jika dia pergi lagi?" tanya Bram dengan serius.
Keinya mengelus pipi suaminya. "Papih, kau dengar bukan apa yang diucap, kan, Dokter saat Lila berkonsultasi? Jangan melarang apa pun yang Lila inginkan ... Jangan membuat lagi dia tertekan, biarkan dia menjalani apa yang dia mau."
Bram tampak berpikir sejenak, "Tapi bagaimana jika dia pergi lagi?"
"Kau bisa menyuruh seseorang untuk mengawasinya. Bukankah itu tak menjadi masalah?"
"Baiklah, aku akan menyuruh orang ku mengawasinya." Bram melihat jam di tangannya dia tersenyum penuh isyarat.
__ADS_1
"Sayang!"
Keinya langsung melihat suaminya. "Ya, ada apa?"
"Sebelum mandi sore bagaimana jika kita ... "
Perkataan Bram terpotong saat Keinya mencubit tangannya.
"Kau sudah mendapatkannya tadi pagi," ucap Keinya yang mengerti akan keinginan suaminya.
Tanpa menjawab lagi, Bram bangkit lalu menggendong Keinya ala bridal style. Dan Keinya pun langsung menautkan kedua tangannya ke leher suaminya.
"Satu kali saja oke!" tawar Keinya saat Bram sudah berjalan.
"Kita lihat nanti," jawa Bram dengan terus melangkahkan kakinya. Untung saja tak ada IRT yang berada dirumah utama.
Apa nya ya yang satu kali hahahahaha author ga ngerti sumpah 😂😂😂
Sudah seminggu Lila bekerja kembali sebagai Dokter. Dia bekerja di rumah sakit tempat dia bekerja dulu.
Dan hari ini sudah seminggu dia bekerja sebagai Dokter. Setelah berkonsultasi dengan psikiater dan setelah mengatakan ketakutannya, Lila lebih enjoy menjalani hari-harinya. Tanpa ada ketakutan. Apalagi Bram menyuruh 2 pengawal yang mendamping Lila dan menunggu Lila sampai Lila pulang bekerja.
Lila pun menoleh. "Ada apa, sus?" tanya Lila.
"Ada yang mencari anda, Dok," balas suster tersebut.
"Siapa?"
"Entahlah, saya tidak tau. Tapi beliau ada di bagian informasi."
"Baiklah, terimakasih," Lila pun berjalan kebagian informasi. Lalu tak lama dia melihat sosok wanita paru baya yang sudah 15 tahun tak pernah dia lihat.
Walaupun wanita itu membelakangi Lila, tapi Lila bisa tau siapa wanita itu. Ya dia adalah wanita yang telah tega menelantarkannya dulu dan tega memberi luka padanya. Siapa lagi kalau bukan Tya.
Jujur saja Lila belum sanggup untuk bertemu Tya. Bagaimana pun Tya telah memberikam luka padanya. Tapi walau bagaimana pun Tya sudah berada dihadapannya sekarang dan tak mungkin dia menghindar.
__ADS_1
Lila pun maju ke arah Tya. "Permisi, apa anda mencari saya?" tanya Lila pura-pura tidak tau.
Tya pun berbalik dan menoleh. "Li-Lila," ucap Tya terbata-bata. Dia langsung memeluk putrinya yang selama ini dirindukannya.
Menyadari Lila tak membalas pelukannya, Tya pun melepas lagi pelukannya dan memandang Lila.
"Mamih, ada apa mencariku?" tanya Lila dengan dinginnya.
Tya memegan tangan Lila. "Mamih, merindukanmu. Bisakah mamih meminta waktu agar bisa bicara dengan mu?" pinta Tya penuh harap.
Lila melihat jam ditangannya. "praktek ku selesai dua jam lagi, jika mamih mau menunggu silahkan, aku harus kembali ke ruangan ku," ucap Lila dengan dinginnya. Jika Lila bisa mungkin Lila ingin berteriak marah saat wanita yang dulu memberinya luka dengan tak tau malunya datang dan bilang jika merindukannya.
Lila pun berbalik dan berjalan tanpa mendengar lagi jawaban Tya. Sedangkan Tya memandang Lila dengan tatapan sendu. Dia sadar atas segala kesalannya dulu hingga membuat putrinya terluka.
Dan setelah Lila beres praktek. Lila mengajak Tya untuk berbicara di Caffe. Tak lupa dia memberi tau Keinya bahwa Tya datang dan ingin berbicara dengannya. Awalnya Keinya melarang karna takut Lila terpengaruh. Namun Lila meyakinkan bahwa dia hanya akan berbicara saja. Dan akhirnya Keinya pun mengijinkan dengan syarat, pengawal harus mengawasi Lila dari dekat.
"Ada apa mamih, menemuiku?" tanya Lila memecah keheningan.
Tya langsung menggenggam tangan Lila, namun dengan cepat Lila menarik tangannya.
"Lila, Sayang, maafkan mamih nak, mamih menyesal atas sikap mamih dulu, mamih mohon ikutlah bersama mamih ke Malaysia," ucap Tya penuh harap.
Lila tersenyum getir. "Mamih, meminta maaf untuk kesalahan mamih yang mana?" tanya Lila dengan sinisnya. "Apa mamih lupa betapa buruknya perlakuan mamih padaku dulu. Mamih tega mengurung putri mamih sendiri digudang dan mengancam akan membunuhnya atau mamih lupa saat mamih dengan teganya menyuruh ku menunggu di lobi hotel berjam-jam tanpa memberiku makan, hingga aku kelaparan dan mamih malah asik dengan selingkuhan mamih, dan apa mamih lupa bagimana mamih memukulku dan mencubit ku jika mamih sedang kesal. dan mamih selalu mengancam ku agar tidak mengadukannya pada papih." Lila berucap dengan dinginnya.
"Apa mamih tau betapa kesepiannya aku saat aku kecil, betapa pilu nya aku saat mengobati luka atas pukulan mamih dan cubitan mamih, kurasa mamih tak akan lupa bukan bagaimana perlakuan mamih pada ku dulu?"
Tya langsung meneteskan air mata saat mendengar ucapan Lila. Dia sadar kesalahanya dulu sangat besar.
"Maafkan mamih, Lila. ijinkan mamih menebus semua kesalahan mamih. Ayo ikut bersama mamih, Bram dan Keinya bukan keluarga mu."
Lila meradang mendengar ucapan Tya tentang Keinya dan Bram. "Mereka memang bukan keluargaku, tapi mereka adalah orang yang menyembuhkan luka yang kau berikan. Mamih Keinya membuatku bisa kembali lagi merasakan hangatnya pelukan ibu dan kasih sayang seorang ibu. Tolong jangan menemuiku lagi, kelak aku sendiri yang akan datang jika aku sudah bisa melupakan semua." Lila pun bangkit dari duduknya tanpa mendengar lagi jawaban Tya.Tangis yang dia pendam tumpah saat dia berjalan.
Saat pulang, dia meminta pengawalnya untuk mengantarkannya ke apartemen Bram. Vania meminta tolong Lila agar membawa laptop yang tertinggal. Saat sampai, pengawal hanya menunggu didepan lobi.
Dan saat masuk ke apartemen. Lila langsung. masuk kekamar mencari laptop Vania. Dan seketika itu juga pintu kamar tertutup.
__ADS_1
"Ra-raffael ..."
Karna banyak banget yang penasaran kisah ANDRA. aku akan up cerita andra di lapak lihat aku om. tapi kalau Lila naik rank ya. jadi jangan lupa vote ya.