Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
Julian dan Tania


__ADS_3

Mata Tania membulat sempurna saat mendengar ucapan suaminya. Dia sudah ketakutan setengah mati. Tapi, suaminya ...


Julian masih mengigit bibir bawahnya karena ucapannya. Ia mengutuk dirinya sendiri. Harusnya ia tetap merahasiakan apa yang di lalukannya.


Julian yang sedang melihat ke depan, kembali melihat ke samping.


Tiba-tiba.


Bugh ... Bugh ... Bugh


Tania memukul suaminya dengan bantal sofa. "Huaaaaa." Tania menangis, ia terus memukul suaminya secara membabi buta. Sedangkan Julian hanya terbahak ketika di pukuli oleh istrinya. "Kau jahat ... Kau jahat ... Kau jahatttttttt!" teriak Tania, diiringi isakan yang kencang. "Kau tau, aku begitu takut saat tau aku hamil lagi, ka-kau ...." Tania menghentikan ucapannya saat Julian membawah Tania kedalam dekapannya.


"Kau jahat ... Kau jahatt!" Tania kembali terisak di dada Julian. Ia bahkan memukul-mukul dada suaminya.


Julian membiarkan Tania melampiaskan pada dirinya. Ia mengerti perasaan istrinya.


Walau kejadian itu sudah lama berlalu, tapi Julian tau, istrinya belum sepenuhnya melupakan hal yang mengerikan yang terjadi beberapa tahun silam, dimana mereka harus kehilangan kembaran Khalisia.


Julian terus membelai punggung sang istri, membiarkan Tania puas menangis.

__ADS_1


Setelah tenang, Tania pun melepaskan dirinya dari pelukan suaminya.


"Kau tau, aku sangat takut, a aku sangat takut kau seperti dulu lagi." Tania berbicara dengan sesegukan. Ia masih belum bisa berhenti menangis.


Julian tersenyum, ia mengusap air mata istrinya. Lalu dia menangkup kedua pipi istrinya dan mencium semua bagian wajah istrinya. Bisa di bayangkan begitu besar rasa bahagia yang Julian rasakaan saat ini.


Kini, tugas selanjutnya adalah memberi pengertian pada Khalisia, putrinya. Sepertinya, ia harus sedikit bekerja keras jika berkaitan dengan membujuk putrinya.


"Ayo kita ke rumah sakit!" ajak Julian, ia bangkit dari duduknya dan mengulurkan tanganya pada Tania.


"Daddy, aku sungguh lemas, apa kau tau, aku menangis mengahabiskan banyak energi dan aku sungguh lapar sekarang, " jawab Tania sambil mencebikan bibirnya. Ia menyenderkan punggungnya ke belakang.


"Aku ingin makan seafood, belikan aku itu, dan kita makan di sini!" titah Tania.


Julian menggeleng, kali ini ia yang merasa trauma, dulu sebelum Tania pergi ke Turki, Tania memintanya untuk membelikan seafood, dan kali ini ia takut, kejadian akan terulang, walaupun tidak mungkin.


"Kenapa?" tanya Tania saat melihat suaminya menggeleng.


"Kau ingat, dulu sebelum pergi kau menyuruhku membeli seafood."

__ADS_1


"Ya Allah, Daddy. Kau menyangka aku ingin seafood karena aku ingin pergi lagi?" tanyanya. Tania menegakan duduknya, ia menatap Julian dengan mata yang membulat.


Belum Julian menjawab, Tania sudah memeluk Julian, merebahkan kepalanya di dada Julian. "Bagaimana aku bisa pergi, jika hatiku sudah terpaut pada hatimu," ucap Tania. Ia memainkan jarinya di dada suaminya.


"Baiklah ... Baiklah, aku akan membelikannya," ucap Julian saat Tania menggodanya. Itulah jurus Tania jika suaminya tak menuruti keinginannya. Ia akan menggoda suaminya, dan setelah suaminya mulai tergoda, ia akan berhenti dan seoalah-olah tak mengerti tentang apa yang di rasakan suaminya.


Dan kali ini, ia menyerah. Dari pada istrinya menggodanya tapi ujung-ujungnya istrinya malah memberikan harapan palsu untuknya, apalagi ia tak bisa menyentuh istrinya karena masih trimester pertama.


•••


Setelah pulang dari kantor, Julian pun mengajak Tania untuk memeriksakan kandungannya. Puji syukur mereka panjatkan ketika Tania dinyatakan mengandung kembali anak kembar.


"Daddy, gendong aku!" titah Tania ketika sudah sampai di penthouse mereka. Rasanya tubuhnya begitu lemas.


Julian pun turun dari mobil, ia membuka pintu mobil istrinya dan berjongkok memberikan punggungnya, membirkan istrinya menaiki punggungnya.


Mereka berjalan sambil tertawa, saat membuka pintu, mereka di kejutkan oleh Khalisia yang sedang menunggu di depan pintu sambil bersidekap.


"Huaaaaaaaa"

__ADS_1


__ADS_2