Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
Bab43


__ADS_3

Lila memukul-memukul punggung Raffael. Ada rasa lega dihatinya. "Kau jahattt Raffael, kau membuatku takut," ucap Lila dengan terus menghentakan kakinya.


Raffael melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Lila. Cup. Raffael kembali lagi mencium kening Lila dengan penuh kasih sayang.


"Aku mencintaimu, Lila. Sungguh-sungguh mencintaimu," ucap Raffael.


Namun, bukannya menjawab Lila malah terduduk lesu. Dia masih merasakan kakinya gemetar, Siapa pun pasti akan merasakan gemetar jika melihat orang lain akan bunuh diri.


"Lila, kau kenapa?" tanya Raffael dengan kaget. Dia ikut mendudukan dirinya disebelah Lila.


"Apa kau pikir aku tak gugup saat melihatbl kau akan bunuh diri?"


Raffael tersenyum, dia merapikan rambut Lila yang menutupi wajahnya. "Kau takut kehilangan ku?" tanya Raffael menggoda Lila.


Seketika Lila menghempaskan tangan Raffael dengan kasar dan memandamg Raffael dengan tatapan sebal. "Jika kau ingin mati, mati saja sekarang. Aku sungguh tak akan melarangmu!" ketus Lila.


Raffael tersenyum kemudian dia memberikan punggungnya kehadapan Lila. "Naiklah ke punggung ku, aku akan menggendongmu. kita turun, angin malam tak baik untuk mu."


Lila pun mulai naik, kepunggung Raffael. Saat berjalan Lila menaruh kepalanya dipundak Raffael dan hanya keheningan yang terbentang diantara mereka.

__ADS_1


Dan sampailah mereka ditempat ruang rawat Raffael.


Raffael pun menurunkan Lila. "Kau tidak keberatan, kan, jika menunggu terlebih dahulu? aku akan menyuruh Malik membawa pakaian untuku!"


Lila pun mengangguk, lalu dia duduk disofa. dan Rafael duduk diranjanng sambil mengutak-ngatik hapenya untuk mengirim pesan pada Malik.


"Ra-Raffael," ucap Lila terbata-bata.


Raffael langsung menyimpan kembali ponselnya. Kemudian dia menghampiri Lila yang sedang duduk dirinya di sofa.


"Kau, ingin mengatakan sesuatu?" tanya Raffael setelah mendudukan diri di sisi Lila. Kemudian dia menautkan jari-jarinya pada jari Lila.


Lila menghela napas kasar sebelum bertanya, walau bagaimana pun dia harus memastikan sesuatu pada Raffael.


Raffael mengecup punggung tangan Lila. "Lila, aku memang manusia buruk di masa lalu, tapi aku benar-benar mencintai mu dan benar-benar menyayangi Lyo."


"Kau, selalu bilang jika kau mencintai ku, lalu bagaimana dengan Riana?" tanya Lila.


" Aku sudah berpisah dengannya semenjak kau pergi dan aku mengetahui bahwa kau telah mendonorkan ginjal mu pada ku."

__ADS_1


Lila menarik tangannya dari genggaman Raffael, "Ja-jadi kau mencintai ku hanya karna aku telah mendonorkan ginjal ku pada mu?"


Raffael kelabakan mendengar ucapan Lila. Dia takut bahwa Lila salah paham lagi dengannya. "Ti-tidak, bukan begitu maksudku. Aku sudah lama mencintaimu Lila, bahkan sebelum aku bertemu dengan Riana. Hanya saja aku terlalu pengecut untuk mengakui cinta ku pada mu. Dan saat aku mengancam mu, aku hanya takut, aku khilaf Lila. Dan saat aku pertama melihat mu dan Lyo hati ku hancur karna aku merasa benar-benar menjadi lelaki jahanam." Rafael kembali menggengam kedua tangan Lila. "Tapi, sekarang aku bersumpah dem apa pun, hidup ku semua akan kuserahkan pada mu dan pada Lyo. Akan ku lakukan semua yang terbaik untuk kalian."


Mata Lila berkaca-kaca, kemudian Lila menunduk menahan tangis.


"Apa kau masih mencintai ku setelah apa yang ku lakukan pada mu?"


"Da-dari mana kau tau aku mencintaimu?" tanya Lila gugup.


"Aku bisa melihat semua dari mata mu. Sekarang jawab aku. Apa kau masih mencintai ku walau aku telah jahat padamu."


"Bagaimana aku bisa lupa padamu, jika setiap memandang wajah Lyo aku selalu teringat pada mu," balas Lila.


Dan seketika Raffael memeluk Lila kembali.


"Ja'-jangan mengecewakan ku lagi Raffael, aku dan Lyo hanya ingin bahagia."


Raffael melepaskan pelukannya kemudia dia mengangkup kedua pipi Lila. Saat dia akan mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Lila.

__ADS_1


Seseorang masuk keruang rawat Raffael dan itu adalah Malik


"Raf, in ..." perkataan Malik terpotong saat melihat adegan didepannya. Lalu tanpa perasaan Malik melempar paper bag dengan keras dan paper bag itu langsung terkena ke kepala Raffael. Lalu malik pergi tanpa merasa bersalah.


__ADS_2