Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
bab 44


__ADS_3

Setelah Lila pergi kerumah sakit menyusul Raffael, Vania langsung berjalan kembali menuju rumahnya. Tak lama, langkahnya terhenti karna ada mobil yang membunyikan klakson.


"Vania, masuklah, kaka akan mengantarmu!" titah Malik sambil membuka kaca jendela mobilnya.


Vania mendelik sebal pada Malik, dia masih kesal dengan Malik. Vania pun kembali berjalan tanpa menoleh lagi ke arah Malik.


Malik pun turun, dia mencekal tangan Vania, lalu memaksa Vania untuk ikut ke mobilnya.


"Kau, sungguh tidak sopan!" ketus Vania saat mereka sudah duduk di mobil.


"Kau, masih marah pada ku?" tanya Malik.


"Untuk apa aku marah, cepat jalan!" titah Vania tanpa melihat kearah Malik.


Malik pun hanya bisa menghembuskan napas kasar melihat reaksi ketus Vania. Ya, bagaimana Vania tidak kesal jika dulu Malik pernah memanfaatkannya.


Dulu saat Raffael berjuang mendapatkan maaf dari keluarganya. Raffael menyuruh Malik untuk mendekati Vania atau Tania. Malik mendekati Vania dan membujuk Vania agar mempertemukan Lyo dan Raffael.


Dan naasnya Vania malah terbawa rayuan Malik.


Dan saat Vania memberanikan diri berbicara tentang prasaannya pada Malik, dengan teganya Malik membicarakan kebenarannya bahwa dia hanya diperintah oleh Raffael dan tentu satu unit apartemen sudah Raffael berikan pada Malik sebegai hadiah.


Dan setelah Vania tau kebenaranya, dia benar-benar membenci Malik.

__ADS_1


Saat mobil berhenti didepan rumahnya, Vania langsung turun tanpa mengucapkan terimakasih.


"Dasar bocah baperan," ucap Malik saat Vania turun dari mobilnya. Baru saja dia berniat kembali ke apartemennya, dia melihat paper bag dikursi belakang. paper bag itu berisi baju Raffael. Dia pun mau tak mau harus kerumah.


Baru saja dia sampai di parkiran rumah sakit, ponselnya berbunyi, dan ternyata Raffael menyuruhnya membawa pakaian.


Malik menghembuskan napas lega. Setidaknya setelah dia mengantar pakaian kerumah sakit, dia bisa langsung pulang ke apartemen.


Malik pun membuka pintu kamar rawat Rafael, Malik langsung melempar paperbag dan mendarat sukses dikepala Raffael.


"Silsilah, keluarga om Aska emang ribetin," gerutu Malik saat saat keluar dari ruang rawat Raffael. Jelas Malik tau silsilah keluarga Aska. Aska menikahi keponakannya dan kini Raffael pun jatuh cinta pada keponakannya sendiri.


Lila tak kuasa menahan tawa saat melihat adegan didepannya. Raffael mengurungkan niatnya untuk mengumpat Malik saat mendengar tawa Lila.


Raffael mengusap rambut Lila. "Tunggu sebentar, aku akan mengganti baju ku dulu," ucap Raffael. dan Lila pun mengangguk.


Namun, Lila dengan cepat menepis tangan Raffael.


"Raffael, ini tempat umum," ucap Lila.


Tanpa mendengar ucapan Lila. Raffael sedikit membungkukan dirinya dan meraih tangan Lila dan menariknya.


"Tak perduli dimana pun, aku akan tetap menggenggam tangan mu," ucap Raffael. kemudian dia mendekat kearah Lila dan mencium pipi Lila. Mereka pun berjalan keluar ruangan.

__ADS_1


"Mana, kunci mobilnya, biar aku yang menyetir," ucap Raffael.


"Raffael, biar aku saja yang menyetir, kau kan baru kecelakaan," jawab Lila dengam tertawa. Dia mengingat kebodohan yang baru saja Raffael lakukan.


Raffael mencubit pipi Lila gemas, lalu dia mengambil kunci mobil dari jaket Lila dan membuka kan pintu untuk Lila.


Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka pun sampai dirumah milik Bram.


"Raffael, pulanglah, kerumah moma, mamih pasti akan kembali bersikap ketus pada mu, jika kau masuk bersama ku," ucap Lila saat baru membuka sabuk pengamannya. Ya, walau pun semua keluarga sudah memaafkan Raffael. Namun, tidak dengan Keinya. Sikap Keinya pada Raffael masih saja dingin. Walaupun Keinya tak melahirkan Lila tetap saja sebagai seorang ibu, dia tak akan mudah memaafkan orang lain yang telah merusak putrinya.


"Raffael menggenggam tangan Lila. "Aku akan berusaha menaklukan kaka ku, dan meminta restunya. Ayo, aku akan masuk, aku ingin melihat Lyo."


"Kau, yakin?" tanya Lila.


Tanpa menjawab, Raffael keluar dari mobilnya dan membuka, kan, pintu mobil.


Raffael terus menggenggam tangan Lila saat akan masuk rumah. Dan benar saja, saat masuk mereka melihat Keinya sedang bersedekap melihat Raffael dengan tajam.


"Ma-mih sedang apa?" tanya Lila terbata-bata.


"Lila, masuk ke kamarmu sekarang, mamih akan mengantarkan susu kekamarmu!" titah Keinya, matanya menatap tajam pada tangan Lila yang sedang di genggam Raffael.


Lila pun melepas paksa tangannya dari tangan Raffael, kemudian dia berjalan tanpa melihat lagi Raffael.

__ADS_1


"Kak ..."


"Kau, pulanglah, mommy, pasti menunggu mu," jawab Keinya memotong ucapan Raffael.


__ADS_2