
Malik terkejut saat melihat wajah Vania, bagaimana tidak, mata Vania bengkak pertanda dia sudah menangis dengan waktu yang lama.
"Sayang, kamu nangis. Maafin Mas, ya, mas bener-bener cape semalem," ucap Malik. Ia tak melepaskan tanganya pada kedua pipi istrinya. Rasa bersalah menulusup ke hatinya kala melihat istrinya yang berwajah pucat dan sembab di bagian mata.
"Ga, kok, ini cuman nangis karena nonton drama Korea," ucap Vania berbohong. Padahal jelas-jelas ia menangis hampir semalaman. Siapa yang tak sakit di bentak saat hamil dan di sebut manja dengan suara sins seolah Vania beban Malik. Vania hanya mencoba bersikap baik-baik saja dia berusaha untuk tetap bersikap santai agar tak memengaruhi calon anaknya.
Vania melepaskan tangan Malik dari pipinya. Kemudian ia berbalik dan mengambil susu yang baru saja di seduhnya.
"Mas sarapan dulu, gih! maaf aku ga bisa masak jadi aku pesen," ucap Vania. Tanpa mendengar jawaban Malik, Vania pun meninggalkan Malik yang sedang berdiri terpaku karena melihat sikap istrinya. Malik merasa heran dengan istrinya. Ia pikir Vania akan marah seperti biasanya, tapi pagi ini ....
Malik pun percaya pada istrinya yang menangis karena menonton drama Korea, sebab biasanya, jika Vania marah padanya istrinya akan merajuk, tapi sekarang ....
Malik yang bingung dengan sikap istrinya pun memutuskan untuk menghampiri Vania yang sedang duduk di sofa.
"Yank, ko, ga bangunin, Mas?" tanya Malik sambil menundukan dirinya di samping Vania.
Vania yang masih memegang gelas susu di tangannya menoleh kearah Malik sekilas, "Mas pasti capek banget, jadi aku ga tega banguninnya," jawabnya.
"Malik menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa sikap istrinya menjadi aneh.
"Kamu udah sarapan?" tanya Malik. Ia mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Udah," jawab Vania sambil menengguk susu di gelasnya. "Mas sarapan, gih. bentar lagi kan harus ke restoran," ucap Vania tanpa mengalihkan pandangannya.
"Yaudah, Mas mandi dulu, ya," jawab Malik.
Vania pun mengangguk
•••
Malik berjalan kesana kemari di dalam ruagannya. Ia terus melirik ponselnya, rasanya gelisah saat ponselnya tak berdering.
Biasanya, Vania selalu mengirimkannya pesan. Bertanya pada Malik tentang aktivitasnya di Restoran atau sekedar meminta Malik mengirimkan fotonya.
[Yank!"] tulis Malik dalam pesannya.
[ "Iya"] Balas Vania yang langsung membalas pesan suaminya.
Kening Malik semakin mengkerut dalam kala melihat balasan istrinya yang acuh tak seperti biasanya. Malik menepuk keningnya kala mengingat wanita hamil sangat senstif. Ia yakin istrinya bukan menangis karena menonton Drama Korea tapi menangis karena ulahnya.
Tanpa pikir panjang, Malik menyambar kunci mobil dan pulang ke apartemennya pikirannya hanya tentang bagaimana caranya meminta maaf pada istrinya. Nyatanya kehilangan senyum dan kecerian istrinya lebih menyakitkan dari pada kehilangan apapun.
Sedangkan Vania
__ADS_1
Dia melihat ke dapur untuk melihat ada bahan apa saja yang tersedia di kulkas. Ternyata stok makanan di kulkas habis, Vania pun teringat susu hamilnya pun juga habis.
Ia pun memutuskan untuk membeli sendiri keperluannya ke super market. Ia takut jika nanti malam ia mengidam sesuatu. Walaupun tak bisa memasak, tapi jika ia mengidam sesuatu, ia akan berusaha membuatnya sendiri.
Setelah memesan Taxi online, Vania pun langsung keluar dari apartemennya. Ternyata taxi online yang dia pesan sudah datang dan menunggunya di bawah.
Ia pun dengan segera masuk kedalam mobil, 20 menit kemudian, Vania pun sampai di super market
Ia langsung mengambil troli dan menuju rak susu.
Saat memilih susu, sayup-sayup Vania mendengar suara Mamih dan papihnya.
Tubuh Vania menegang, bagaimana jika mamih dan papihnya tau bahwa dia belanja sendirian padahal biasanya di temani suaminya. Pasti akan banyak pertanyaan dari kedua orang tuanya. Di tambah lagi mata Vania yang masih terlihat sembab, walau bagaimana pun ia tak mungkin mengumbar apa yang terjadi di rumah tangganya.
Vania pun memutuskan untuk menghindar dan pergi ke arah lain. Namun sayang, saat dia berbelok Bram melihatnya.
"Vania!"
Vania memejamkan matanya dan ....
Dan masih ngerasa nyesek kalua bayangin jadi Vania.
__ADS_1