
"Daddy, kau kenapa?" tanya Lila saat mereka sedang berada di mobil. Lila jelas melihat bahwa suaminya tengah merasa tak tenang.
"Sayang, kenapa kau ijinkan Lyo menginap. Dia akan mencariku nanti," jawab Raffael sambil terus fokus mengemudi. Terlihat jelas dia khawatir pada putranya. Seminggu hidup bersama anak istrinya membuat Raffael benar-benar merasa tak ingin di pisahkan dari istri dan anaknya.
Lila tersenyum kemudian menggenggam tangan Raffael, "Mamih dan papih juga pasti merindukan Lyo. Bahkan dari tadi Lyo tak mau lepas dari papih. Jadi biarkan saja malam ini Lyo menginap."
"Tapi ...."
Lila mencium pipi Raffael, "Aku lapar, bagaimana kita makan malam terlebih dahulu."
Raffael menggenggam tangan Lila, lalu mengecupnya. "Baiklah, aku juga lapar."
Mereka pun berhenti di restoran khas jepang. Raffael dengan setia menggenggam tangan Lila. Baru saja mereka masuk seseorang daru belakang memanggil Raffael.
"Tuan Raffael!" panggil seseorang dari belakang.
Raffael dan Lila menoleh ke belakang,
dan ternyata yang memangil Raffael adalah Dion rekan bisnis yang bekerja sama dengan perusahaan Abraham grup dan Adgam grup.
Lila yang juga mengenal Dion langsung melepas genggaman tangan Raffael. Walau bagaimana pun belum ada yang tau tentang pernikahan mereka. Publik hanya tau bahwa Raffael dan Lila adalah paman dan keponakan.
Dion pun mendekat ke arah Raffael. "Selamat malam Tuan Raffael dan Lila," ucap Dion sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Raffael menjabat tangan Dion begitu pun Lila. "Tuan Dion, anda sedang makan malam?" tanya Raffael berbasa-basi.
"Ya, jika berkenan bolehkah saya bergabung dengan kalian."
"Maaf Tuan Dion saya dan istri saya sedang ingin makan berdua. Mungkin lain kali kita bisa makan bersama."
"Istri? Dimana istri anda Tuan?" tanya Dion sambil melihat kesana kemari.
Mengerti tentang Dion yang bingung Raffael langsung memegang tangan Lila kembali. "Lila sekarang istri saya Tuan Dion," ucap Raffael sambil memandang Lila dan tersenyum.
"Tapi, bagaimana mungkin?" tanya Dion dengan kaget pasalnya selama ini bukan rahasia lagi bahwa Raffael dan Lila adalah om dam keponakan.
__ADS_1
"Maaf Tuan Dion, kita lanjutkan nanti," ucap Raffael memotong ucapan Dion. Kemudian Raffael menggeserkan kursi untuk Lila.
"Daddy, bagaimana bisa kau memberitahu tentang pernikahan kita," tanya Lila saat mereka sudah duduk. Lila benar-benar merasa khawatir jika beredar gosip yang tidak-tidak diluar sana.
Raffael tersenyum sambil mencubit gemas pipi Lila. "Dunia harus tau bahwa kau adalah istriku. Berhentilah khawatir," ucap Raffael "Khawatirkan saja nanti malam, aku pasti akan membuatmu tak bisa berjalan besok," ucap Raffael lagi sambil berbisik.
Pipi Lila memerah mendengar ucapan Raffael. Secepat mungkin dia mengalihkan pandangannya ke arah lain karna malu jika sampai suaminya melihat pipinya yang sedang merona.
•••
"Sayang, kau kenapa?" tanya Bram saat melihat istrinya sedang tertawa.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Bukankah kau sudah tidur bersama Lyo?" tanya Keinya saat suaminya duduk disebelahnya.
"Ini masih siang, sayang sekali jika aku tak melakukan apa pun," jawab Bram dengan seringai yang sudah pasti Keinya sangat hapal dengan keinginan suaminya.
"Aku sedang berhalangan," jawab Keinya.
"Bisakah, kau membantuku dengan cara yang lain."
Keinya mencubit mesra suaminya. "Tidak disini papih."
Bram dan Keinya pun langsung membenarkan posisi duduk mereka.
"Tania, ini rumah bukan hutan. Kenapa kau berteriak," gerutu Keinya.
Tanpa memperdulikan gerutuan mamihnya. Tania langsung duduk di sisi Bram dan memeluk pinggang Bram. Bram mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Tania, kau sudah dewasa. Kau tak boleh terus manja dengan papih," ucap Keinya.
"Mamih, aku tetap putri kecil papih. Benarkan papih?" tanya Tania sambil memandang Bram.
"Kembali ke kamarmu dan tidur!" tegas Keinya.
"No, Mamih. Aku masih ingin memeluk papih," balas Tania sambil menjulurkan lidahnya pada Keinya.
__ADS_1
Kenapa harus ada mamih, bagaimana caranya aku membujuk papih jika ada mamih disini.
Tania berdehem sebelum mulai bicara. "Papih, bolehkah aku pergi liburan ke Bali?" tanya Tania dengan tatapan memohon.
"Kau akan liburan bersama siapa?" tanya Bram dengan menyipitkan mata.
Tania melepaskan pelukannya dan menatap Bram. "Em aku ... Aku ingin berlibur bersama teman kuliahku. Bolehkan papih?"
"Tidak, papih tidak akan mengijinkan mu. Jika kau memang ingin berlibur, kita bisa berlibur bersama minggu depan," ucap Bram dengan tegas. Dia bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Keinya. Lalu mereka pun meninggalkan Tania.
Bram mengerti betul sikap putrinya, Tania sama seperti Keinya yang akan terus merengek jika keinginannya tak di kabulkan. Itu sebabnya Bram lebih memilih meninggalkan Tania.
••••
"Sayang bangunlah, sudah sampai," ucap Raffael saat mereka sudah sampai basement.
Lila membuka matanya. Jujur saja dia masih merasa mengantuk. Melihat itu, Raffael langsung keluar dan membuka pintu untuk Lila. Setelah Lila turun, Raffael berjongkok.
"Naiklah, ke punggung ku. Kau pasti masih mengantuk!" titah Raffael. Tanpa pikir panjang, Lila pun menurut karna dia masih sangat mengantuk.
Beberapa minggu kemudian.
Lila sedang duduk sambil sesekali melihat jam. Dia tak sabar menunggu Raffael pulang. Saat siang, dia sengaja pergi ke rumah sakit sendiri untuk memeriksa dirinya. Benar saja, firasatnya terbukti kini dia sedang hamil.
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka. Lila pun menghampiri Raffael dan langsung memeluk suaminya.
"Sayang, ada apa?" tanya Raffael yang heran saat Lila tiba-tiba memeluknya.
Lila melepaskan pelukannya, dia mengambil sesuatu dari saku dresnya. "Daddy, aku hamil," ucap Lila sambil memperlihatkan kertas usg dihadapan Raffael.
Raffael mengambil kertas usg di tangan Lila, lalu dia mencium kening istrinya. Tanpa berkata apa-apa, Raffael berlalu meninggalkan Lila dan masuk kedalam kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Lila kaget melihat reaksi Raffael, Lila membayangkan Raffael akan memeluknya dan menciumnya saat tau dirinya hamil. Namun yang terjadi malah sebaliknya.
Lila pun menyusul Raffael ke kamar. Betapa kagetnya Lila saat melihat suaminya sedang duduk dilantai sambil menangis. Dengan tatapan yang fokus melihat kertas usg yang sedang di pegangnya.
__ADS_1
Rupanya Raffael pergi kekamar karna tak sanggup menahan air mata harunya. Saat sampai dikamar dia langsung terduduk dilantai, menangis dan mencium kertas usg tersebut.
Ahh Daddy Raffael so sweet 😍😍😍