
Tania dan Julian tergelak dengan kelakuan putri mereka. Tania pun mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, di balas kecupan kening oleh Julian.
"Jika kau ingin menyusul, telpon aku, oke. Aku akan mengirimkan supir," ucap Julian sambil mengelus rambut istrinya.
Tania pun tersenyum dan mengangguk.
"Aku berangkat!" pamit Julian.
"Dad!" panggil Tania saat Julian akan keluar dari pintu.
Sebelum Julian berbalik, Tania sudah memeluk suaminya dari belakang, Julian tersenyum, ia menarik tangan Tania agar lebih erat memeluknya.
"Aku jadi tak ingin pergi ke kantor," ucap Julian, sambil mengelus punggung tangan istrinya.
"Jika aku bisa, aku ingin memelukmu sepanjang hari," jawab Tania.
Khalisia yang sudah berada di luar, menghentakan kakinya karena kesal menunggu. Ia kembali melongokan kepalanya kedalam, tak lupa ia menutup matanya dengan tangan.
"Daddy ayo!" ajak bocah kecil itu. Pipinya menggembung, bibirnya mencebik dan tangan yang menutupi mata membuat Julian tergelak.
Dengan pelan, ia pun melepaskan tangan istrinya dan berbalik menghadap Tania. "Aku berangkat!" pamitnya. Tania pun tersenyum dan mengangguk.
"Ayo!" ajak Julian sambil mengulurkan tangannya pada Khalisia.
Khalisia pun menerima uluran tangan daddynya, mereka pun berjalan ke mobil dengan bergandengan tangan.
__ADS_1
••
"Daddy, gendong aku!" ucap Khalisia ketika sampai di kantor.
"Lalu kopermu?"
"Daddy juga harus membawanya."
Julian menggeleng, ia pun berjongkok dan menggendong Khalisia, satu tangannya menjingjing koper milik putrinya.
"Oke, Khalisia. Daddy akan mengerjakan pekerjaan Daddy. Kau main boneka sendiri, setelah pekerjaan Daddy selesai, Daddy akan menemanimu bermain," ucap Julian sambil menurunka Khalisia dari gendongannya.
Khalisia pun mengangguk. Ia mulai membuka koper mininya. Dan mengeluarkan semua bonekanya. Ia menata gelas dan teko mainannya.
Setelah mengeluarkan boneka di koper mininya, ia melirik ke arah Julian. diam-diam, ia mengeluarkan coklat dari koper mininya. Coklat itu ia dapat dari Alisia semalam.
Lalu ia menoleh lagi kebelakang memastikan daddynya tak melihat. Saat dirasa aman Khalisia pun membuka coklat.
Julian kembali menggeleng melihat tingkah putrinya. Ia tau, putrinya sedang menyembunyikan sesuatu.
Julian pun bangkit dari duduknya, ia perlahan mendekati Khalisia.
"Khalisia, kau sedang apa?" tanya Julian.
Khalisia terkesiap, ia langsung menyembunyikan coklat kebelakang tubuhnya. Ia menyembunyikan coklatnya kebelakang. Tapi, posisinya sedang membelakangi tubuh Julian. Otomatis Julian melihat apa yang di sembunyikannya.
__ADS_1
"Kau makan coklat ?" tanya Julian. Khalisia berbalik, lalu menggeleng.
Lalu, di tanganmu apa?" tanya Julian.
"Ini boneka," jawabnya, rupanya bocah kecil itu belum sadar bahwa Julian memergokinya.
"Khalisia, kau berbohong pada Daddy?"
Seketika Khalisia menunduk, "Maafkan aku, Dad."
Julian pun duduk dengan bersila di hadapan putrinya.
"Dari mana kau mendapat coklat ini, hmm?" tanya Julian sambil mengelus rambut Khalisia.
"Aku mendapatkannya dari Aunty Alis dan kata Aunty ini boleh di makam. Aunty sudah memeriksa kandung di dalam coklat ini," ucap bocah kecil itu.
Julian tersenyum. "Kau boleh hanya makan satu, oke?"
"kumohon dua, Dad. Aku berjanji hanya dua," tawarnya.
"Satu atau tidak sama sekali."
"Baiklah, Dad." bocah kecil itu menunduk kembali dengan wajah di tekuk. Sesekali ia melirik kearah daddynya berharap sandiwaranya berhasil.
"Bagaimana jika kita pesta boneka sekarang?" tanya Julian yang merasa tak tega dengan putrinya. Ia tau, putrinya hanya bersandiwara merajuk. Tapi, dia akan di marahi istrinya jika memberi banyak coklat pada Khalsia.
__ADS_1
Seketika Khalisia mengangkat kepalanyai ia langsung antusias. "Ayo, Dad!" ajaknya. Ia langsung melepaskam coklat yang di pegangnya dan menata boneka dan teko.
Besok ketemu dua om om.kece ya papih Br sama Daddy Aska.