
Hari-hari berlalu, berat memang untuk Raffael harus pergi ke Rusia. Tapi, ini memang tugasnya, dan mau tak mau dia harus berangat meninggalkan sementara calon istrinya dan putranya.
Raffael dengan sekuat tenaga menyelesaikan pekerjaanya di Rusia. Dia rela bergadang agar mempersingkat waktunya agar bisa secepatnya kembai ke Indonesia.
kerja keras Raffael tidak sia-sia. Dia yang berencana berada satu minggu di Rusia bisa memperpendek waktu hingga di hari ke 4 dia sudah bisa kembali ke Indonesia.
Saat tiba di Indonesia, Raffael dengan sengaja tak mengatakan kepulangannya pada Lila atau pun keluarganya. Dia berencana untuk mengatur resepsi untuk pernikahannya dan ingin membuat kejutan untuk Lila.
LIla.
"Lila, haruskah kau yang menggantikan teman mu yang berdinas malam?" tanya Keinya saat memperhatikan Lila yang sedang mempersiapkan kebutuhan ke dalam tas kecilnya. Ini sudah kesekian kalinya Keinya bertanya. Karna Lila sangat jarang mengambil dinas malam karna memang Keinya dan Bram tidak mengijinkannya.
Lila duduk di samping keinya, "Mamih, temanku sedang ada acara keluarga, jadi aku dan dia akan bertukar shift, dn besok aku bisa bersantai di rumah," jawab Lila menenangkan mamihnya.
"Kau mau mamih buatkan bekal untuk mu?"
Lila menggeleng, "Mamih, aku akan makan di kantin."
Keinya bangkit dari duduknya, dia mengusap rambut LIla, "mamih akan menyuruh supir untuk mengantarkan mu."
Lila pun mengangguk.
Sedangkan Raffael, dia memutuskan untuk menginap di apartemennya . waktu menunjukan pukul 23.00, suara ponsel Raffael terdengar dari atas nakas, Raffael yang akan memejamkan matanya, langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya di malam hari.
Dia mengnyit heran saat melihat Id si pemanggil, "Riana," lirih Raffael. Raffael pun mengangkat teleponnya,
"Hallo, Riana ada apa?" tanya Raffael.
__ADS_1
"Ra-Raffael, maafkan aku mengganggu waktu mu, ta-tapi bisa kah aku meminta bantuan mu ?" tanya Riana di sebrang sana, terlihat jelas bahwa Riana sedang dalam kondisi panik.
"Riana, tenangalalh. Katakan ad apa?"
Mendengar ucapan Riana yang mengatakan Deri panas dan mengalami kejang, tanpa pikir panjang Raffael pun memakai jaketnya dan menyambar kunci mobilnya.
Sebenarnya Riana tak ingin lagi merepotkan Raffael, tapi dia benar-benar terdesak, dia tak bisa membawa Deri sendiri ke rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya raffael dan Riana pun tiba di rumah sakit. Raffael sadar dia membawa Deri ke rumah sakit tempat Lila bekerja, dia berpikir Lila tak akan tau karna Raffael tau selama ini Lilaa tak pernah mengambil dinas malam.
Riana terus mundar-mandir di depan ruangan saat Deri di periksa oleh dokter. Raffael yng sedang duduk, langsung bangkit berjalan ke arah Riana, Raffael membuka jaketnya dan menyematkannya pada tubuh Riana.
Karna Riana masih panik, Raffael mencoba menenangkan Riana dengan memeluknya. "Tenanglah, Deri pasti akan baik-baik saja," ucap Raffael.
Tanpa Raffael sadari, Lila melihat semuanya. Lila mengepalkan tangannya, pikirannya kacau, baru beberpa jam yang lalu, Raffael berkata bahwa dia baru saja beres meeting dengan para karyawannya di Rusia. Tapi, sekarang dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa calon suaminya tengah memeluk wanita lain.
Saat akan mengajak Riana duduk, mata Raffael menangkap Lila sedang berdiri memandangnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Raffael langsung melepaskan tangannya dari pundak Riana.
Dia langsung menghampiri Lila, Rafael memegang tangan Lila. "Lila, ini tak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Raffael. Bahkan dengan jelas bahwa Rafael begitu panik saat melihat ekspresi Lila yang menjadi datar.
Lila menepis tangan Rafael, "Memang apa yang aku pikirkan?" ucap Lila memandang Rafael dengan tatapan sinis. "Seharusnya kau tak perlu memberi ku dan putraku harapan palsu. Lupakan rencana pernikahan kita. Aku tak ingin hidup ku dan putraku hancur karna lelaki br*ngs"k sepertimu." Sebelum Lila berbalik meninggalkan Rafael, Dia melihat Riana dengan tatapan meremeh. Sedangkan Riana yang di tatap hanya bisa menunduk. Dia merasa bersalah karna menyebabkan Rafael dan Lila salah paham.
Saat Lila pergi, Rafael kembali mengejar Lila dan memegang tangan Lila. "Lila, ini tak seperti yang kau lihat."
"Ini rumah sakit, kita bicarakan ini besok," ucap Lila. Lalu Lila kembali meninggalkan Rafael.
Raffael menghela napas kasar. Dia harus bekerja keras lagi untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Dia benar-benar tak sanggup jika harus kehilangan Lila kembali.
__ADS_1
Lila terduduk lemas di sofa ruangannya. Dia menangis sambil memukul-mukul dadanya. Merasakan sesak yang benar-benar menghimpit dadanya. Baru saja dia merasakan bahagia karna Rafael. Tapi Rafael juga yang mengambil kebahagiannya.
Untung saja tak ada pasien darurat, jadi Lila tak perlu keluar atau bertemu dengan siapa pun.
Saat pagi hari, dia meminta ob untuk melihat ke parkiran, Lila ingin tau apa Rafael masih di rumah sakit atau sudah pulang dan ternyata mobil Rafael masih terparkir di parkiran.
Lila menelpon Keinya berkata ingin mengunjungi Abrar yang tak lain adalah anak dari Zoya yang baru saja kembali ke Indonesia. Setelah mendapat ijin, Lila pun memesan taxi online dan berjalan keluar lewat jalan lain agar tidak berpapasan dengan Rafael.
Tapi Lila tak menyadari bahwa dari tadi Rafael menunggunya, dia tau Lila akan menghindar dan keluar dari jalan lain hingga dia sengaja menaruh mobilnya dan menyuruh Malik membawa mobil yang lain.
Saat sampai di kediaman saudaranya. Rafael kembali mengajak Lila bicara. Namun, Lila sama sekali tak mau mendengarnya.
Saat Lila masuk, Lila menyuruh penjaga untuk menutup pintu dan melarang jika Rafael masuk.
Rafael tak menyerah. Dia terus menunggu Lila. Dan saat menjelang sore. Hujan pun turun. Rafael terus menunggu Lila, hingga hujan semakin besar dan akhirnya Rafael pun pingsan. Abrar dan satpam pun membawa masuk Rafael kedalam rumah.
Lila berusaha tak perduli ketika Rafael tak sadarkan diri, dia mengira Rafael hanya berpura-pura seperti dulu.
Saat pakaian Rafael sudah digantikan oleh Abrar, dan Lila sudah memeriksa kondisi Rafael. Lila pun keluar berencana memasukan mobil Raffael kedalam garasi karna mobil Rafael masih terparkir di luar.
Lila menghela napas sejenak setelah memasukan mobil Raffael. Dia ragu untuk mengambil memori card yang berada di mobil Raffael. Awalnya dia tak mau mengambilnya. Namun, rasa penasaran mengalahkan semuanya. Dia mengambil memori card tersebut dan membawanya masuk.
Matanya terbelalak saat melihat isi rekaman tersebut. Mobil yang di bawa Malik tadi pagi adalah mobil yang digunakan Malik untuk menjemput Raffael di bandara saat Raffael baru kembali dari Rusia, sehingga Lila bisa tau apa yang Raffael dan Malik bicarakan.
Lila berjalan dengan cepat menuju kamar tempat Raffael di baringkan. Dan saat masuk, Lila melihat Raffael sudah sadar dan duduk di kasur dengan menjuntaikan kakinya kebawah. Lila langsung duduk disebelah Raffael.
Raffael pun melihat ke arah Lila. "Lila, aku bisa men ..." perkataan Raffael terhenti karna Lila langsung memeluknya.
__ADS_1
"Ra-raffael ..."