Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
58


__ADS_3

Lila langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan Raffael, saat Lila akan bangkit. Dengan cepat Raffael menarik tangan Lila hingga Lila kembali berbaring disisinya dan dengan cepat Raffael kembali memeluk Lila dengan.


"Raffael, akan ku adukan kau pada mamih jika berani macam-macam lagi terhadap ku!" teriak Lila saat Raffael memeluknya dengan erat.


"Kau tau, jika kau terus meronta, dia akan lebih dari sekedar bangun." Raffael tergelak saat melihat Lila langsung diam tak berani bergerak.


"Lila!" panggil Raffael setelah Lila tenang.


"Hmm."


"Apa setelah kita menikah ingin kembali mengandung, atau kau ..." Raffael sedikit ragu untuk meneruskan ucapannya. Didalam hati dia ingin sekali meminta Lila untuk tak menunda kehamilannya. Tapi, Raffael sadar dia tak bisa memaksakan Lila. Jadi, sekarang walaupun Lila ingin menunda kehamilan keduanya Raffael tak akan protes dan akan mengikuti kemauan Lila.


Lila yang sedang di pelukan Raffael menganggkat kepalanya. Dia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rafael.


"Kau ingin melihatku cepat-cepat mengandung?" tanya Lila. Tangan Lila tergerak mengelus pipi mulus Rafael.


"Sejujurnya, Iya. Tapi, aku tak mau egoi. Aku akan mengikuti semua kemauan mu, yang terpenting kau nyaman dan bahagia bersama ku."


Lila tersenyum, "Aku tak ingin menundanya. Kita bisa langsung memberi adik untuk Lyo, Tapi ..."

__ADS_1


"Tapi apa?" tanya Rafael mengenyit heran.


"Malam pertama kita takan ada yang spesial. Kau mengambil paksa yang seharusnya aku berikan pada malam pertama kita," ucap Lila. Matanya tiba-tiba berubah jadi sendu mengingat lukanya di masa lalu.


Rafael mencium kening Lila, "Tak perlu berpikir soal malam pertama. Aku yang sudah mengambilnya dengan paksa dan kasar, tapi, aku berjanji akan melakukannya dengan pelan dan lembut."


"Rafael, ayo pulang. Ini sudah malam. Mamih, akan menyusul ku jika aku tidak pulang."


"Lila, bisakah kita menginap disini saja?" pinta Rafael.


Lila menggeleng. "Ayo, kita pulang." Lila pun bangkit mendahului Rafael. Hingga mau tak mau Rafael pun ikut bangkit menyusul Lila.


••


"Mamih, aku bisa mengambilnya sendiri," ucap Lila sambil menggosok-gosokan rambutnya dengan handuk.


Keinya menaruh nampan berisi susu diatas nakas, "Kemarilah, mamih akan mengeringkan rambutmu."


Lila pun menurut, dia mendekat ke arah Keinya dan Keinya pun mulai mengeringkan rambut putrinya. Senyum tak henti-hentinya terukir di wajah cantik Lila. Dia bersyukur bisa mendapatkan ibu tiri sebaik Keinya.

__ADS_1


"Lila, bagaimana kalau kita makan siang di luar besok?" tanya Keinya dengan tangan yang masih terus mengelap rambut Lila.


"Hanya kita berdua, lalu papih?"


Keinya menghentikan gerakannya, lalu duduk disamping Lila. "Besok kita akan menemui mamih Tya. Sudah seminggu mamih Tya disini. Kenapa kau tidak ingin menemui mamih Tya."


Lila menunduk, beberapa hari lalu Keinya memang menyuruh Lila untuk bertemu Tya. Namun, Lila hanya mengiyakan. Sejujurnya dia belum sanggup lagi untuk bertemu Tya.


Jangankan melihat wajah Tya langsung, membayangkan wajah Tya saja Lila langsung teringat betapa kejamnya perlakuan Tya di masa lalu.


Keinya menggenggam tangan putrinya. "Lila, tak baik mengulur waktu. Lambat laun kau akan bertemu dengan mamih Tya. Kau akan menikah dan kau harus meminta restu mamih Tya."


"Mamih, bolehkah aku menemuinya bersama Rafael saja?"


"Tidak masalah. Yang terpenting kau mau menemui mamih Tya."


••••


"Lila!" panggil Raffael menyadarkan Lila dari lamunannya. Saat ini mereka berada dalam mobil untuk bertemu Tya.

__ADS_1


"Ra-Raffael ..."


__ADS_2