Cinta Suci Zalila

Cinta Suci Zalila
80


__ADS_3

Tania langsung melihat ke arah Vania. Seketika mereka saling pandang.


"Ma-maksud mu, papih mengawasi kita?" tanya Tania terbata-bata.


"Kemungkinan ia. Kau tidak lupa, kan, siapa papih?"


Seketika Tania menyenderkan kepalanya ke ujung sofa dengan lemas. "Vania, bagaima jika papih dan mamih tak merestui ku dengan uncle Julian?" tanya Tania dengan lemas.


"Kau masih bertanya tentang itu? jelas-jelas mamih dan papih tak akan merestui mu."


Mendengar ucapan Vania, seketika Tania mengangkat kepalanya kembali dan menatap sengit pada kakanya. "Kenapa? tak ada yang salah dengan hubungan ku dengan uncle Julian!" ucap Tania sedikit berteriak.


"Aku yang akan menikah, kenapa membahas dirimu." Vania memutar bola matanya jengah, dia pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Tania.


Tania mendekus saat kakanya keluar. "Kenapa manusia itu sangat tidak berguna," gerutu Tania. Dia pun ikut bangkit dari duduknya.


••


"Pah!" panggil Malik pada Andra yang sedang menyeruput tehnya.


"Ada apa, Nak?" tanya Andra memandang lekat-lekat putranya.


"Pah, lamarin Vania buat Malik," ucap Malik.

__ADS_1


Mendengar perkataan Malik, Andra langsung menyemburkan teh yang baru di sruputnya. Dia sedikit kaget mendengar ucapan putranya. Tapi, lebih kaget mendengar tentang Malik yang ingin melamar Vania.


"Vania, cucunya si Aska, Kan, Lik?" tanya Andra dengan sedikit terkejut.


"Papah!" tegur Marsya istri Andra yang baru saja ikut bergabung.


Andra tersenyum kikuk. "Maaf maksud papah, Vania cucunya om Aska?"


Malik mengangguk mantap.


Kenapa hidup gua gak bisa lepas dari si Aska.


Andra berbicara dalam hatinya. Dia tak menyangka akan berbesan dengan Bram yang notabennya adalah menantu Aska. Lelaki yang selalu membulinya sedari muda. Namun, kali ini mereka akan di satukan dalam ikatan keluarga.


"Malik serius, Mah."


"Baiklah, papah akan menelpon om Bram untuk mengatur janji."


"Pah, Malik akan kerumah om Bram duluan sebelum datang bersama mamah dan papah, Makin harus dengar pendapat om Bram tentang Malik."


"Itu lebih baik, beritau papah jika om Bram menyuruh mamah dan papah datang."


Setelah berbicara dengan mamah dan papahnya. Malik berjalan ke arah rumah Bram. Rumah Andra dan rumah Bram hanya terhalang beberapa rumah.

__ADS_1


Setelah di persilahkan masuk oleh satpam, Malik pun menekan bel. Dan kebetulan yang membuka bel tersebut adalah Tania.


"Kak, Malik!"


Malik tersenyum kikuk. "Tania, apa papih dan mamih mu ada?" tanya Malik.


Seketika Tania tersenyum. "Mamih dan papih sedang ada dikamar Vania. Mereka baru saja menceramahi Vania. Mamih melarang Vania untuk menikah muda.


"Benarkah?" tanya Malik dengan terkejut.


"Tentu saja tidak. Papih sedang bermain bersama Gika. Ayo masuk, aku akan panggilkan papih," ucap Tania.


Setelah dipersilahkan duduk, kegugupan melanda Malik. Dia bahkan tak memberi tau Vania bahwa dia datang ke rumahnya.


Tak lama Bram pun datang bersama Keinya.


"Om, Tante," ucap Malik sambil bangkit dari duduknya dan mencium tangan Bram dan Keinya.


"Ada apa kau ingin menemui Om, Malik?" tanya Bram setelah mereka duduk kembali di sofa.


..."Om, Maaf jika saya lancang. Sebenarnya kedatangan saya kesini ingin meminta ijin om untuk meminang Vania menjadi istri saya. Saya tau saya tak sekaya keluarga om. Tapi, saya berjanji saya akan bekerja lebih keras untuk memberikan kehidupan yang baik untuk Vania," ucap Malik dengan tegas. Dia berbicara sangat penuh keyakinan walau di awal-awal kegugupan mendera Malik....


Bram ....

__ADS_1


__ADS_2