
Raffael pikir, akan mudah melakukan aksinya karna memang ini bukan yang pertama kalinya bagi Lila. Namun, Raffael salah. Dia kembali kesulitan memasukan miliknya ke tempatnya. Raffael yang memang sudah tidak sabar memilih untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu. Lidahnya bermain-main di seluruh tubuh Lila. Lila hanya bisa melenguh, menerima semua kenikmatan yang Raffael beri.
"Apa aku menyakiti mu, Sayang?" tanya Raffael saat masih berada di atas Lila dan saat miliknya masuk dengan sempurna walau butuh waktu cukup lama.
Lila sudah mendapatkan puncaknya saat Raffael menggoda dirinya dengan lidah dan tangan yang berada di titik sensitif Lila.
Muka Lila memerah saat mendengar pertanyaan suaminya. Lila memberanikan diri menautkan tangannya di leher Rafael lalu mencium bibir Rafael. Rafael dan Lila berciuman cukup lembut dan Rafael mulai menggerakkan tubuhnya, menghentakan penuh kelembutan, Saat Lila sudah mulai terpancing lagi, Rafael mulai menghentakan sedikit cepat. Entah berapa lama waktu yang mereka lalui. Hingga akhirnya Rafael dan Lila mencapai puncaknya.
Setelah mereka selesai dengan aktivitas yanv memabukan, Lila memeluk pinggang Rafael menelusupka wajahnya pada dada bidang Rafael. Lila bahkan merasa malu untuk melihat wajah suaminya.
Sedangkan Rafael, tak henti-hentinya mencium pucuk kepala Lila.
"Sampai kapan kau akan bersembunyi, sayang?" tanya Rafael saat Lila sudah lama memeluknya.
Lila memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap Rafael. Dia mensejajarkan wajahnya dengan wajah suaminya.
"Ra-Raffael, apa aku membuatmu kecewa?" tanya Lila. Dia masih belum percaya diri mengingat ini bukan malam pertama mereka.
Raffael terkekeh dengan ucapan istrinya, dia mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Satu tangannya tergerak mengelus pipi Lila dengan penuh kelembutan. Menyalurkan kehangatan dan seolah berkata bahwa dirinya sangat mencintai istrinya.
"Apa yang kau pikirkan sayang? kau tidak melihat bahwa aku begitu mendamba mu."
Lila mencubit punggung Rafael, "Sejak kapan kau begitu pandai menggombal."
"Sayang, aku sedang merenovasi rumah untuk kita tinggal, bagaimana jika sementara ini kita tinggal di apartemen?"
"Rafael, Kapan kau membeli rumah?" tanya Lila dengan kaget.
"Bisakah, kau memanggilku dengan sebutan daddy, sayang, mas atau apalah!" protes Rafael yang selalu risih jika Lila hanya memanggil namanya. Padahal mereka berdua sudah resmi menjadi suami istri.
__ADS_1
Lila mengelus pipi Rafael. "Aku dan Lyo akan mengikutimu kemana pun kau pergi.Tapi ..."
Lila sedikit ragu untuk meneruskan kalimatnya.
"Tapi apa?" tanya Rafael mengernyit heran.
"A-aku tidak ingin kau bertemu lagi dengan Riana, aku tak mau lagi merasakan cemburu, sekarang kau hanya miliku dan milik Lyo."
"Jadi kau sangat mencintai suami mu ini?' tanya Raffael menggoda Lila.
Tanpa diduga Lila mengecup singkat bibir Raffael. Namun, Raffael tak membuang kesempatan, dia menahan tengkuk Lila untuk memperdalam ciuman mereka.
Raffael pun kembali menindih tubuh Lila, "Sayang, bolehkah aku melakukannya sekali lagi?" tanya Raffael penuh harap.
Lila pun mengangguk malu.
"Daddy, kau apakan leher ku!" teriak Lila saat melihat dirinya di cermin dia baru saja beres membersihkan tubuhnya setelah ritual panas mereka.
Raffael yang baru saja keluar dari kamar mandi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Emm ...Itu." perkataan Raffael terpotong saat pintu di ketuk oleh seseorang. "Biar aku yang membukanya," ucap Raffael seraya berjalan ke arah pintu dan ternyata Aska yang mengetuk pintu sambil memangku Lyo.
"Kau sudah selesai?" tanya Aska dengan seriangai jail.
Muka Raffael memerah mendengar pertanyaan daddy-nya. Tanpa menjawab ucapan Aska. Kemudian Raffael mengambil Lyo dari pangkuan Aska.
"Cepatlah turun untuk makan malam, atau mertua mu akan memakanmu," ucap Aska dengan tergelak mengingat Keinya yang notabennya adalah kaka Raffael menjadi mertuanya.
"Daddy, bisakah daddy menasihatinya agar tidak terlalu jahat kepadaku!" ucap Raffael. Ya. Terlihat jelas bahwa sikap Keinya masih sedikit ketus. Tapi, faktanya Keinya hanya gengsi untuk bersikap baik pada adiknya sekaligus menantunya.
__ADS_1
Tanpa menjawab ucapan putranya, Aska melangkah pergi dan Raffael membawa Lyo masuk kedalam kamar.
"Lyo kau bersama bunda dulu oke, daddy akan memakai baju dulu," ucap Raffael. Lyo pun merentangkan tangannya agar Lila memangkunya.
Saat melihat leher Lila. Kening Lyo berkerut. "Bunda, kenapa leher bunda merah, tadi aku melihat leher mamih pun juga merah," ucap Lyo dengan polosnya. Bocah yang akan menginjak umur 4 tahun tersebut terlihat kebingungan, apalagi tadi saat Lyo duduk di pangkuan Keinya, dia melihat jelas ada tanda merah yang jelas di leher Keinya.
Raffael yang baru selesai memakai kaosnya langsung terbahak-bahak mendengar ucapan putranya.
Sepertinya aku harus meminta rahasia ka Bram agar aku selalu kuat seperti dia.
ucap Raffael dalam hatinya mengingat kaka iparnya yang tak lagi muda namun tetap kuat mengimbangi kakanya yang masih muda.
•••
"Sedang apa kau disini?" tanya Malik saat melihat Vania sedang asyik memakan baso di kedai yang berada di depan komplek.
Vania hanya melirik Malik dengan sinis.
"Mas, bakso nya ga jadi dibungkus, makan disini aja!" teriak Malik pada mas-mas pemilik kedai.
Malik duduk di depan Vania. Namun, seperti biasa, Vania tak memperdulikan keberadaan Malik, dia masih sibuk memakan bakso di mangkuknya.
Tak tahan di acuhkan, Malik menggeser mangkok Vania.
"Dasar fucek boy," ucap Vania. Tanpa memperdulikan Malik dan bakso yang sedang di santapnya Vania lebih memilih pergi dan membayar bakso yang baru dua suap dia sentuh.
Malik ...
Boleh dong minta votenya lagi.
__ADS_1