
Dengan senyum yang tak hilang dari kedua sudut bbirnya, gadis kecil yang baru saja mengantarkan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu kembali ke dalam ruang rawat kakaknya. Di dalam ruangan masih saja ia terus membayangkan kejadian beberapa saat lalu yang membuat hatinya berdesir.
"Fel, jangan senym-senyum gitu. Kamu bikin Bunda takut!" tegur sang bunda yang duduk menemani sang kakak.
"Bunda ganggu aja deh. Aku lagi seneng tahu, Bun," gerutu gadis kecil itu.
Dari tempat tidurnya, Zahra memperhatikan sang adik yang terlitah berseri-seri. Ia tahu, pasti ada hal yang dilakukan Rey pada adikya. Karena ia juga tahu kalau adiknya itu menyukai laki-laki itu.
"Mbak, Kak Ega kok tumben nggak jagain di sini? Biasanya dia paling heboh kalau Mbak masuk RS," ucap Efelin tiba-tiba.
"Fel," tegur sang bunda.
"Kalian ngobrolin apa?" tanya Zahra dengan suara lirihnya. Matanya kembali berkaca-kaca lantaran tak mendengar suara sama sekali keucali dengungan di telinganya.
"Bunda, kalau Mbak Zahra gak bisa dengar seterusnya gimana?" tanya gadis itu mulai memikirkan kemungkinan terburuk sang kakak.
"Nduk. Jaga bicaramu! Mbakmu pasti sembuh! Jangan ngomong yang aneh-aneh," tegur Bu Ratih.
Di tempat duduknya Zahra hanya bisa menangis tanpa suara. Tak bisa mendengar apapun membuatnya kecewa dan terpukul atas apa yang menimpanya.
********
"Tolong handel semua pekerjaan," ucapĀ Ega gusar.
"Maaf, Pak, hari ini Bapak harus menemui klien baru yang akan bekerja sama dengan kita," jawab perempuan yang berada di sebelahnya.
"Sepenting itukah?"
"Sangat peting, Pak. Keuntngan dari kerjasama ini bisa mencapai ratusan juta tiap bulannya. Karena mereka perusahaan distributor makanan yang cukup berpengaruh di pasaran."
"Aku akan minta tolong agar papa yang menggantikan. Temani beliau."
"Maaf, Pak. Pak Adnan baru saja berangkat ke Surabaya."
"Astaga! Apa kau sengaja menahanku di sini!" teriak Ega pada sekertarisnya.
"Maafkan saya, Pak. Ini juga untuk kebaikan perusahaan. Saya tahu Bapak mengkhawatirkan tunangan Bapak. Tapi saya pikir dia tidak akan keberatan kalau tahu Bapak benar-benar sibuk hari ini," tutu perempuan itu meyakinkan.
Ega menghempaskan tubuhnya pada sofa yang ada di dalam ruangannya. Perempuan yang ta lain adalah sekretarisnya itu tetap berdiri di dekatnya
"Pergilah!"
"Tapi Bapak harus janji pada saya tidak akan meninggalkan rapat penting ini," ucap perempuan itu. Lelaki itu mengibaskan satu tangannya menyuruh sekertarisnya untuk keluar ruangannya.
__ADS_1
Dengan berat hati sekretaris itu meninggalkan atasannya. Perlahan ia menutup pintu ruangan Ega dan kembali ke meja kerjanya.
"Secantik apa tunangan Pak Ega sampai beliau begiitu cinta pada perempuan itu?" guman sekretaris itu.
"Di mana kira-kira aku bisa mendapatkan info tentang perempuan itu? Aku harus bisa melebihi tunangan Pak Ega agar Pak Ega tertarik padaku."
"Tapi kan intensitasku bertemu dengan Pak Ega lebih banyak daripada dia... hem .. aku harus memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Daan! Pasti Pak Ega akan berpaling padaku. Ah! good girl Mila, kamu emang pintar. Makanya bisa jadi sekretaris bos kaya dan ganteng pula. Emang rejeki perempuan cantik gak akan tertukar."
*****
Rapat dengan klien yang dilakukan Ega berjalan dengan lancar. Mereka berhasil menandatangani kontrak kerja sama untuk lima tahun ke depan. Hal itu merupakan pencapaian yang sangat baik bagi Ega yang notabene baru saja terjun mengelola perusahaan sang papa.
"Selamat, Pak. Bapak hebat dan luar biasa!" puji Mila sang sekretaris.
"Ya. Terima kasih. Berkat bantuan kamu juga kita bisa bekerja sama dengan mereka."
"Saya hanya membantu sebisa saya, Pak. Karena itu memang tugas saya sebagai sekretaris Bapak," jawab Mila malu-malu.
"Mila," panggil Ega.
"Ya, Pak?"
"Jam pulang kantor sudah lewat. Kamu bisa langsung pulang setelah ini. Saya duluan." Ega beranjak dari tematnya duduk dan berjalan meningalkan sekretarisnya.
*********
Perjalanan yang cukup panjang bagi Ega untuk sampai di rumah sakit tempat Zahra di rawat. Mengingatkan saat ini memang jam pulang kerja. Kemacetan terjadi di mana-mana. Khususnya di daerah Malang kota.
Beberapa puluh menit berjibaku dengan riwehnya jalanan, sampailah ia di rumah sakit. Lelaki itu segera memarkirnya mobilnya dan bergegegas menuju kamar rawat tunangannya.
"Assalamualaikum," ucapnya membuka pintu kamar.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
"Kak Ega, kok baru ke sini?" sapa Efelin.
"Maaf, dua hari kemarin aku sibuk banget, jadi gak bisa ke sini. Maaf ya, Bun," ucap lelaki itu sambil menyalami calon ibu mertuanya.
"Iya, ndak papa, Le," jawab Bu Ratih.
"Gimana keadaan Zahra, Bun? Kapan boleh pulang?" tanya lelaki itu saat melihat tunangannya tengah tidur.
Bu Ratih terdiam, sulit untuk mengatakan apa yang dialami anak gadisnya saat ini. Kata-kata nya seperti tersendat di dalam tenggorokan.
__ADS_1
"Bun?"
"Fel?"
Dua orang yang ditanyainya tak ada yang menjawab. Membuat Ega terlihat cemas.
"Apa ada hal buruk yang menimpa Zahra?" tanya lelaki itu lagi.
"Mbak Zahra gak bisa dengar, Kak. Kemarin dia masih bisa denger, katanya suara kita jauh. Dan tadi dia bilang nggak bisa dengar suara apapun," kata Efelin.
"Maksud kamu? Bunda? Yang dimaksud Efelin nggak seperti itu kan? Zahra baik-baik aja kan?"
Bu Ratih kembali menangis sesenggukan mengingat hal itu. Ia tak sanggup berbicara apapun.
Ega berjalan mendekati Zahra. Ia memperhatikan gadisnya yang terpejam dengan mata sembab.
"Sayang," ucap Ega dengan mengusap dan menciumi tangan tunangannya.
Zahra yang terusik akan gerakan-gerakan Ega membuka matanya. Dilihatnya wajah lelaki yang ia cintai tepat dihadapannya.
"Ega, kamu di sini?" ucap Zahra.
"Iya, Sayang. Aku di sini. Kamu bisa denger suara aku kan, Sayang?" tanya lelaki itu memastikan sendiri dan berharap apa yang di katakan calon adik iparnya tidaklah benar.
"Ega ... aku takut, aku nggak dengar suara apapun," adu gadis itu.
"Sayang, kamu gak lagi bercanda kan? Kamu masih bisa denger suara aku kan?"
Zahra justru makin menangis. Membuat Ega percaya bahwa memang apa yang di katakan Efelin memang benar.
"Bunda, kita harus bawa Zahra ke rumah sakit di kota yang lebih lengkap fasilitasnya," ucap Ega.
"Dia baru saja melakukan pemeriksaan, dan dokter baru saja mengeluarkan banyak cairan dari dalam telinganya."
"Maksud Bunda cairan?"
"Luka akibat benturan bola itu terjadi infeksi. Dan ada cairan yang menggenang di gendang telinganya. Dokter masih melakukan tes laboratorium, dan juga menyarankan untuk tes pendengaran, bunda lupa tadi dokter menyebutnya tes apa."
"Kita lakukan tesnya di rumah sakit di kota saja. Kita segera pindah begitu hasil tes itu keluar. Gak papa kan Bunda? Ini untuk kebaikan Zahra juga."
"Iya. Bunda juga ingin yang terbaik untuk Zahra."
Di tempatnya, gadis yang sedang dibicarakan tengah mempehatikan mereka dengan tatapan kosong. Dari kedua matanya tak berhenti aliran deras buliran bening membasahi pipinya.
__ADS_1