Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
25. Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Zahra membuka pintu kamarnya. Di lihatnya sosok laki-laki berdiri di depan pintu kamarnya. Wajah lelaki itu terlihat khawatir. Namun melihat Zahra yang baik-baik saja membuatnya bernafas lega. Lelaki itu langsung saja menarik Zahra dalam pelukannya.


"Bikin khawatir aja," ucap Rio.


Zahra yang ada dalam pelukan Rio terdiam karena kaget. Hingga beberapa saat kemudian ia berusaha melepaskan pelukan Rio.


"Aku gapapa kok. Kamu aja yang lebai," jawab Zahra.


"Gimana gak khawatir, tiba-tiba kamu ijin gak masuk. Kalau kamu hari ini ga masuk aku jamin besok kamu drop gara-gara pikiran kamu yang negatif terus itu."


"Aku pengen di rumah, Yo. Sehari ini aja," pinta Zahra.


"Nggak ada! Aku gak kasih ijin. Sekarang cepetan ganti baju sana. Aku tunggu di bawah," setelah itu Rio meninggalkan Zahra yang sebal karenanya.


Zahra menutup pintu kamarnya. Berganti pakaian menuruti perintah Rio. Menyiapkan perlengapannya untuk bekerja. Setelah dirasa semua siap, ia keluar kamar menuju dapur untuk sarapan. Dilihatnya Rio yang duduk di ruang tengah sedang menonton tv.


"Yo, udah sarapan belum?" tanya Zahra begitu menuruni tangga terakhir.


"Udah," jawab Rio tanpa menoleh Zahra.


Zahra masuk ke dalam dapur. Mengambil sarapan untuk dirinya. Memakannya dalam diam. Sesegera mungkin menghabiskan sarapannya. Setelah selesai ia menghampiri Rio yang memainkan ponselnya.


"Udah nih. Jadi gak?" tanya Zahra.


"Ayo," Rio berdiri, mematikan tv dan meletakkan remote tv di atas meja.


"Bunda mana?"


"Pamit keluar tadi, kalau berangkat suruh ngunci pintu."


"Hem."


Zahra mengambil kunci yang tergantung di bagian dalam rumah. Lalu mengunci pintu dari luar. Diletakkannya kunci itu di bawah keset rumah. Tempat rahasia bagi keluarganya jika semua orang di luar dan tidak membawa kunci cadangan.


Karena terburu-buru dan mengkhawatirkan Zahra. Rio membawa motor agar cepat sampai di rumah Zahra. Kini keduanya menaiki motor menuju bengkel.


****


Rio duduk di depan meja kerja Zahra. Ia tengah menunggu penjelasan kakak sepupunya yang tiba-tiba meminta izin hari ini. Sudah lebih dari setengah jam Rio masih duduk diam di sana. Memperhatikan Zahra yang tidak fokus saat bekerja.


"Udah. Taro aja. Malah salah semua nanti kalo dipaksain. Sekarang kasih tahu aku kenapa ijin gak masuk?" Rio menarik buku catatan yang ada di depan Zahra.


"Apa sih Rio! Udah sana kamu kerja," ketus Zahra yang jengah dengan sikap Rio.


"Aku tau kamu habis nangis. Masih ga mau cerita? Ada apa lagi kamu sama Ega?"


"Kenapa lagi sih?" Rio masih terus memaksa Zahra bercerita. Namun gadis itu enggan untuk bercerita.


Zahra tak ingin membuat lelaki di depannya ini kembali khawatir. Sudah cukup rasanya ia merepotkan sepupunya itu. Ia bertekad akan belajar menjadi wanita yang mandiri. Tidak melulu membuat keluarganya khawatir akan kesehatannya.

__ADS_1


"Enggak papa, Rio. Aku baik-baik aja kok sama dia. Kamu jangan khawatir berlebihan gitu."


"Gak ada ceritanya berlebihan kalo itu buat kamu, Mbak," ucap Rio tegas dan memanggil Zahra dengan sebutan mbak, itu berarti ia benar-benar khawatir akan keadaan kakaknya.


"Lihatlah! Aku baik-baik aja. Nggak sakit juga. Aku mau ijin emang lagi mager aja mau kemana-mana. Kan yang punya bengkel kamu, jadi yaaa ... gapapa lah sekali-kali aku bolos."


"Mbak gak bohongin aku kan?"


"Enggak Rio. Beneran. Setelah makan siang aku pulang ya. Hari ini ayah pulang dari Surabaya."


"Ya udah nanti aku antar pulang."


"Nggak usah. Aku pesen ojol aja."


"Yakin gapapa?"


"Iya yakin. Udah sana! Kamu mau di sini sampai kapan sih?"


"Ya terserah aku dong! Ini kan bengkel aku. Ya suka-suka aku mau di mana."


Zahra menghembuskan nafas kasar mendengar jawaban adik sepupunya itu.


****


Jam makan siang, Zahra masih berada di dalam ruangannya. Beberapa karyawan masih melanjutkan pekerjaan mereka. Menunggu giliran untuk beristirahat.


"Mbak, ada yang mau urus pembayaran servis," ucap Arif.


"Rio belum balik ya?" tanya Zahra.


"Belum, Mbak. Orangnya buru-buru katanya. Ini rincian servisnya," kata Arif dengan menyerahkan secarik kertas pada Zahra.


"Ya udah. Suruh masuk orangnya. Tapi kamu temenin di sini ya." Arif mengangguk. Lalu berjalan keluar memanggil pelanggannya.


Zahra terkejut melihat lelaki yang berjalan di belakang Arif. Begitupun lelaki itu.


"Zahra?" ucap lelaki itu memastikan.


Zahra mengangguk kaku sebagai jawaban. Ia mempersilahkan lelaki itu untuk duduk di depannya.


"Gimana kabar kamu, Ra? Aku ga nyangka bakal ketemu kamu di sini. Pesan aku, telepon aku gak pernah kamu jawab. Jadi sekarang kamu kerja di sini?" tanya lelaki itu, Bian.


"Iya, aku baik. Seperti yang kamu lihat," Jawab Zahra seadanya.


"Mas Arif, semuanya sudah ada di sini?" tanya Zahra menunjuk kertas yang di berikan Arif padanya.


"Iya, Mbak," jawab Arif.


"Totalnya satu juta lima puluh ribu," ucap Zahra pada lelaki di depannya.

__ADS_1


Zahra berusaha mengabaikan Bian yang terang-terangan memperhatikannya. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja.


Bian mengambil dompetnya dan memberikan uang cash pada Zahra sebersar nominal yang di sebutkan.


Zahra memberikan nota rincian servis pada Bian. Dengan sengaja Bian menggenggam tangan Zahra saat menerima nota itu.


Zahra mendadak takut pada Bian. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan itu. Namun tak bisa.


"Ehem," Arif yang berdiri di samping meja Zahra berdehem keras karena melihat Zahra yang mulai ketakutan. Buru-buru Zahra menarik tangannya.


"Makasih ya. Aku bakal sering-sering servis di sini," ucap Bian, lalu berpamitan pada Zahra dan Arif.


"Mbak Zahra gapapa? Mau di panggilkan Mas Rio, Mbak?" tanya Arif yang khawatir melihat Zahra yang sedikit pucat.


"Aku nggak papa, Mas. Makasih ya, untung mas ada di sini," ucap Zahra dengan senyuman.


"Ya udah, Mbak. Kalau gitu aku balik ke depan dulu ya," pamit Arif.


Zahra melihat ada yang berbeda dengan Bian. Dulu, waktu masih bekerja di tempat yang sama tidak pernah sekalipun Bian berani menyentuhnya. Walaupun itu sebatas bersenggolan. Tapi baru saja ia tahu, dengan sengaja lelaki memegang tangannya.


Ia terdiam memikirkan hal itu. Hingga tak sadar, Rio telah duduk di depan meja kerjanya. Memperhatikan Zahra yang melamun. Ia tersentak kaget, begitu melihat Rio di depannya.


"Dari kapan kamu di situ?" tanya Zahra.


"Dari tadi. Liat kamu ngelamun. Mas Arif bilang tadi ada temen kamu yang servis, laki. Siapa?"


"Bian."


"Bian? Siapa dia?"


"Cowok di kantor aku yang dulu. Waktu aku minta jemput kamu."


"Apa dia ngelakuin sesuatu yang bikin kamu takut?" Zahra menggeleng sebagai jawaban.


Siang itu akhirnya Zahra diantarkan pulang oleh Rio. Lelaki itu merasa ada yang di sembunyikan sang kakak darinya. Sepertinya ia harus lebih mem-protect sang kakak, demi kebaikannya.


****


Pencet jempol ya gaes... komen yang banyaakk .. 🤭


Kasih kritikan ato saran juga boleh..


Kasih vote juga boleh bangeet..


Makasih banyak readers...


salam sayang


kiki rizki 🤗😍

__ADS_1


__ADS_2