Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
87. Menjenguk Keyla


__ADS_3

Mereka sampai di rumah sakit tempat Keyla dirawat saat tengah malam. Karena tidak mungkin mereka menjenguk saat itu juga, maka dari itu mereka memutuskan untuk beristirahat mencari penginapan yang dekat dengan rumah sakit.


Papa Adnan memesan dua kamar untuk mereka berempat. Dengan fasilitas nomor satu di hotel itu. Zahra satu kamar dengan Uti Salma sedangkan, Ega satu kamar dengan untuk papanya.


"Selamat beristirahat," ucap Papa Adnan pada mereka semua sebelum memasuki kamar yang bersebelahan.


Papa Adnan masuk kamar diikuti Ega di belakangnya. Lelaki itu berpamitan untuk menggunakan kamar mandi terlebih dahulu.


Setelah selesai membersihkan diri, ia segera menempati tempat tidur yang nyaman seperti di rumahnya. Berganti Papa Adnan yang menggunakan kamar mandi.


"Belum tidur?" tanya Papa Adnan saat mendapati anaknya masih memegang ponsel di atas tempat tidur.


"Sebentar lagi, Pa," jawab Ega tanpa memalingkan pandangannya dari benda pipih yang ia pegang.


"Ga."


"Hm?"


"Bagaimana Zahra?"


"Maksud Papa?" tanya Ega mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Dari obrolan di mobil tadi, sepertinya dia masih belum siap menikah. Apa Papa benar?"


"Iya. Masih ada keraguan di hatinya. Aku juga merasa ada sekat yang belum bisa aku lewati."


"Berusahalah kalau kamu mencintainya. Dan jangan lupa kenalkan dia pada mama dan adikmu. Semenjak kamu bersamanya kamu belum sempat mengajaknya bertemu dengan mereka kan?"


"Iya, Pa."


"Siapa tahu setelahnya dia bisa menerimamu sepenuh hati."


"Ya sudah, papa istirahat dulu. Sepertinya besok setelah dari rumah sakit kita harus segera kembali."


"Uti sepertinya ingin lebih lama menemani Keyla."


"Bisa kita bicarakan besok. Ayo tidur."


******


Pagi-pagi sekali Uti Salma sudah tidak sabar ingin segera menjenguk cucunya. Meski telah mendapatkan kabar bahwa Keyla sudah sadar dan dalam masa pemulihan beliau belum lega kalau tidak melihat sendiri keadaannya.


"Kita sarapan dulu, Uti," ajak Zahra.


"Papa Adnan dan Ega sudah menunggu di depan," lanjutnya.


"Kita sarapan nanti saja setelah melihat cucuku," usul Uti Salma.

__ADS_1


Zahra tersenyum sebagai jawaban. Ia menggandeng lengan Uti Salma dan menuntunnya keluar. Di depan pintu kamar samping mereka telah berdiri dua lelaki yang tengah menunggu mereka.


"Langsung ke rumah sakit saja ayo sekarang," ajak Uti Salma.


"Sarapan dulu, Bu," balas Papa Adnan.


"Nanti saja. Aku pengen segera ketemu cucuku."


"Jam besuk belum buka, Bu. Kita tunggu saja sambil sarapan."


Papa Adnan menggandeng ibunya menuju lift. Di belakangnya Zahra dan Ega berjalan beriringan dengan saling diam. Ega masih melanjutkan aksi diamnya.


"Masih marah?" tanya Zahra memberanikan diri menggandeng lengan Ega.


Lelaki itu melepaskan pegangan tangan Zahra. Membuat sang gadis menghentikan langkahnya. Terlihat raut wajahnya yang terkejut dengan perlakuan Ega.


Senyuman lelaki itu terpatri jelas di bibirnya. Ia segera merangkul pundak Zahra. Mengajaknya melanjutkan jalannya menyusul papa dan neneknya.


"Aku gak suka lihat kamu didekati pria lain. Jangan lagi-lagi berhubungan dengan pria selain aku dan Rio."


"Posesif," balas Zahra.


"Aku trauma kehilangan kamu. Bayangan kamu diculik masih melekat di otakku," bisik Ega menundukkan kepalanya.


Mereka sampai di restoran hotel dan segera mencari tempat duduk yang nyaman. Salah satu waiters menghampiri mereka dengan membawa buku menu.


Saat makanan datang mereka menghentikan obrolannya dan mulai menyantap menu sarapan. Sekitar setengah jam mereka selesai dengan acara sarapannya.


Setelah menyelesaikan pembayaran, Ega dan yang lainnya bergegas untuk pergi ke rumah sakit tempat Keyla di rawat. Mereka menempuh perjalanan sekitar lima belas menit untuk sampai di rumah sakit.


Papa Adnan yang kebetulan mengendarai mobil saat itu langsung memarkirkan mobilnya memasuki area parkir yang tersedia. Semua segera keluar dari mobil begitu Papa Adnan selesai memarkirkan dengan rapi.


"Dim, aku sudah di parkiran," ucap Papa Adnan menghubungi adiknya yang tak lain adalah Dimas, ayah dari Keyla.


"Iya aku tunggu di lobi halaman rumah sakit saja. Di dekat pintu utama," lanjut Papa Adnan.


"Kita tunggu Dimas di sini saja ya," ucap Papa Adnan lebih ke sang ibu.


Mereka menunggu sekitar lima menit hingga sosok anak bungsu Uti Salma terlihat keluar dari pintu utama rumah sakit. Papa Adnan melambaikan tangannya agar sang adik melihatnya.


"Ibu," sapa Dimas menyalami sang ibu.


"Kamu kurusan, Nak. Gimana keadaan istri dan anakmu?" tanya Uti Salma.


"Alhamdulillah Keyla banyak kemajuan, Bu. Ayo masuk. Dia pasti senang kalian datang," jawab Dimas.


Mereka mengikuti arahan dari Ayah Keyla melewati lorong-lorong rumah sakit. Lalu menuju lift yang ada d ujung lorong untuk sampai di tempat Keyla di rawat. Saat sampai di ruang rawat Keyla, Uti Salma segera memasukinya.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Zahra mewakili semuanya saat masuk ruangan.


"Waalaikumsalam," jawab Keyla dan ibunya serempak.


"Ibu," sapa istri Dimas dengan menyalami Uti Salma.


Uti Salma langsung memeluk anak menantunya itu. Dan meminta maaf karena baru bisa datang hari ini. Setelah itu beliau menghampiri Keyla yang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Bagaimana keadaan cucu Uti ini? Semangat untuk sembuh ya, Sayang. Nanti kalau sembuh ikut Uti ke Malang ya," ucap Uti Salma membelai sayang kepala Keyla.


"Iya, Nek. Dedek pengen sembuh. Pengen bisa jalan lagi," jawab Keyla dengan sendu.


"Kamu pasti bisa sembuh lagi, Sayang. Uti selalu mendoakan kesembuhan kamu. Lihatlah, kakakmu juga ikut ke sini."


Zahra mendekat dan berdiri di samping Uti Salma. Ia menggenggam tangan Keyla dan memberikan semangat lewat genggaman tangannya.


"Semoga lekas pulih. Kakak tunggu kita main bareng lagi," kata Zahra.


"Hey, hey, no mellow-mellow ya. Kita ke sini mau jenguk kamu, sepupu kecil. Bukan untuk nangis berjamaah," ucap Ega membuyarkan suasana yang sedikit sedih itu.


"Buruan sembuh. Kutebak kamu sering ketemu sama lelembut di sini," celetuk Ega.


"Ih. Malah bahas apa sih kamu," tegur Zahra.


Uti Salma berpamitan untuk bergabung dengan para orang tua yang tengah duduk di alas yang sengaja digelar di lantai untuk istirahat orang tua Keyla.


"Iya, aku sering didatangi mereka," ucap Keyla.


"Jangan hiraukan mereka jika itu mengganggumu. Fokuslah untuk sembuh," ucap Zahra menepuk-nepuk bahu Keyla.


"Pernah ada kejadian yang serem gitu gak?" tanya Ega penasaran.


"Ada. Kalau mau tahu ceritanya Kakak baca aja kisah aku di novelnya author Lina Agustin, Apa Aku Berbeda? Dia yang nulis kisah aku ketemu hantu-hantu selama aku di rumah sakit," ujar Keyla.


"Iya. Aku tahu. Aku selalu baca sih. Novel itu ada di daftar favo author kiki rizki. Kadang aku iseng baca-baca daftar favonya dia," ucap Zahra.


"Banyak banget loh daftar favonya author kita itu ya, Sayang," timpal Ega.


"Banyak banget tak terhitung. Sayangnya, author kita lagi sibuk di dunia nyatanya. Jadi aku sama Ega jarang ditengokin sama dia," keluh Zahra.


"Kita doakan saja biar urusan dunia nyatanya author tante kiki rizki segera selesai. Dan juga aku cepat sembuh," timpal Keyla.


"Aamiin. Kasian penggemar cerita kita ada yang nungguin tapi sama author kiki rizki gak dilanjut-lanjut," ucap Ega.


Mereka bertiga terlibat obrolan menggosipkan author mereka masing-masing. Dan beralih pada obrolan-obrolan lainnya.


*****

__ADS_1


semoga kalian suka.... maaf setelah ini aku bakalan lama baget untuk gak up. sampai kesibukan aku berkurang di dunia nyata 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻


__ADS_2