
Hamparan sawah dan pemandangan Gunung Semeru terlihat indah dari halaman belakang rumah yang Zahra tinggali sekarang. Ya. Dia baru saja sampai di kampung halaman sang bunda.
Selama sang bunda dan adiknya masih di kota, untuk sementara Zahra tinggal bersama paman dan bibinya.
"Arek ayu. Yok opo? Seneng ora ning kene?" tanya bibinya yang berdiri di samping gadis itu.
(Anak cantik. Bagaimana? Suka tidak di sini?)
"Seneng, Bulek. Ten mriki adem hawane. Kulo remen," jawab Zahra.
(Seneng. Bulek. Di sini dingin hawanya. Aku suka.)
"Dibetah-betahno ning kene. Ora usah balik maneh nang kota. Luweh penak ning kini ae. Sopo ngerti ketemu jodoh ning kene. Arek lanang ndek ndeso gak kalah ngganteng ambek arek kota lho," goda bibi Zahra.
(Dibetah-betahno ya di sini. Jangan kembali lagi ke kota. Lebih baik di sini saja. Siapa tau nanti ketemu jodoh di sini. Laki-laki di desa tidak kalah ganteng sama orang kota lho.)
"Bulek Dewi mah ngoten. Kulo mboten pados jodoh ngganteng, Bulek," Zahra tersenyum mendengar guyonan bibinya.
(Bulek Sri mah gitu. Saya tidak caro jodoh ganteng, Bulek.)
"Ayo melok aku nang mlijo. Wis awan iki selak kentekan blonjoan," ajak Bibi Dewi.
(Ayo ikut aku ke tukang sayur. Sudah siang ini, keburu kehabisan belanjaan.)
Zahra mengangguk mengikuti Bibi Dewi masuk ke dalam rumah. Bibi Dewi adalah adik bungsu dari sang bunda. Ia menetap tinggal di desa meneruskan mengelola sawah peninggalan kakek dan nenek Zahra. Sawah yang terbentang luas di belakang rumah itu.
"Bulek, jenengan bendinten mlampah ngeten menawi badhe ten mlijo?" tanya Zahra saat mereka melewati jalan setapak menuju tukang sayur yang katanya ada di kampung sebelah.
(Bulek, setiap hari jalan kaki begini kalau mau ke tukang sayur?)
"Iyo kadang-kadang tok, Nduk. Biasane ono mlijo keliling liwat ngarep omah. Ikimaeng aku ngenteni nganti awan kok ora liwat. Prei paling wong e." jawab Bibi Dewi.
(Iya kadang-kadang, saja Nduk. Biasanya ada tukang sayur lewat di depan rumah. Ini tadi aku nunggu sampai siang kok tidak lewat. Libur mungkin orangnya.)
"Wis kesel ta? Mariki tekan panggone kok. Iku ndek omah sing ketok amben sayuran e iko," kata Bibi Dewi menunjuk rumah di ujung jalan.
__ADS_1
(Sudah capek? Sebentar lagi sampai tempatnya kok. Itu di rumah yang ada *amben sayurannya.)
Bibi Dewi mempercepat langkah kakinya menuju rumah yang dia maksud. Zahra di belakangnya juga ikut mempercepat langkahnya.
"Mbakyu, blonjo," kata Bibi Dewi memanggil penjualnya.
(Mbak, belanja)
"Monggo, Mbak. Ate blonjo opo? Sik jangkep. Sopo iku Mbak? Kok gak tau tumon?" tanya si penjual.
(Silahkan, Mbak. Mau belanja apa? Masih lengkap. Siapa itu, Mbak? Kok tidak pernah lihat?)
"Anak e Mbak Ratih, Mbakyu," jawab Bibi Dewi.
(Anaknya Mbak Ratih, Mbak.)
"Ya Allah. Lha kok wis prawan ngene. Iki lak sing gaene dijak rene ora tau gelem dulinan ambe kanca-kancane lek ora ambe Rio iku ya? Biyen jan meneng. Opo saiki pancet meneng?" kata ibu penjual itu heboh membuat Zahra canggung dan hanya bisa tersenyum seadanya.
(Ya Allah. Lha kok sudah jadi perawan gini? Kamu kan yang biasanya diajak kemari ndak mau mainan sama temen-temennya kalau tidak sama Rio itu ya? Dulu sangat pendiam. Apa sekarang tetap pendiam?)
"Pancet, Mbak. Ora onok abane arek iki. Mangkane barang sampe saiki ora ndang rabi," jawab Bibi Dewi.
"Lhoalah. Lha lek ndek kene yo selak diomongi prawan tuwek. Ndang golek arek lanang ndek kene wes, Nduk. Ndang rabi. Kanca-kancane samean wis podo nggendong anak," kata ibu penjual pada Zahra.
(Lhoalah. Lha kalo di sini ya sudah dibilang perawan tua. Cepat cari laki-laki di sini saja, Nduk. Cepetan nikah. Teman-temanmu di sini sudah pada gendong anak,)
Zahra tersenyum kecut mendengar kata-kata ibu penjual sayur itu. Ia menyesal ikut bibinya belanja hari ini. Sedangkan Bibi Dewi sibuk memilih belanjaan. Saat ibu penjual sayur dan Bibi Dewi mengobrol Zahra memilih duduk di bangku yang ada di dekatnya.
Setelah Bibi Dewi selesai berbelanja. Mereka berdua kembali berjalan pulang melewati jalan setapak yang tadi mereka lalui. Zahra membawakan satu kresek yang berisi banyak macam sayuran. Satu kresek lagi di bawa oleh Bibi Dewi.
"Bulek belanjane kok katah sanget?" tanya Zahra.
(Bulek belanjanya kok banyak sekali?)
"Ngkok Rio katene rene ambe kanca-kancane. Atene nyambangi awakmu jare,"
(Nanti Rio katanya mau ke sini sama teman-temannya. Mau jenguk kamu katanya.)
"Tasik kala wingi kulo tekan mriki, Bulek. Kok atene disambangi. Kulo mawon mboten semerap Rio badhe mriki,"
__ADS_1
(Baru kemarin saya di sini, Bulek. Kom sudah mau di jenguk. Saya saja tidak tahu Rio mau ke sini.)
"Yowes ayo cepetan lek mlaku. Selak panas,"
(Ya sudah ayo cepat kalau jalan. Keburu makin panas.)
Dua orang itu mempercepat jalannya agar segera sampai di rumah. Terik matahari yang mulai menyengat menerpa kulit Zahra yang putih. Membuat wajah gadis itu terlihat merah.
Sesampainya di rumah, Zahra membatu Bibi Dewi membongkar belanjaan. Dilanjutkan dengan membersihkan sayuran yang hendak dimasak.
"Wis, Nduk, kono ngasuh o disek. Engkok ae ngewangine. Raimu *abang-ireng kepanasan. Sediluk ndek kene ireng engkok awakmu, Ra," kata Bibi Dewi melihat muka Zahra yang memerah.
(Sudah, Nduk, sana istirahat dulu. Nanto saja membantunya. Mukamu "abang-ireng kepanasan. Sebetar saja di sini hitam kamu nanti)
"Enggeh, Bulek."
(Iya, Bulek.)
Zahra berdiri menuju tempat cuci piring. Ia mencuci tangannya dan mengeringkan dengan lap yang ada di situ.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah besar itu. Meski tidak bertingkat rumah itu cukup luas dan memiliki banyak kamar. Suasananya sangat berbeda dengan rumah Zahra di kota.
Zahra menuju teras rumah yang asri. Ia duduk di kursi kayu yang ada di sana. Menikmati semilir angin dan udara sejuk pedesaan yang jauh dari jalan raya dan polusi.
*******
Part ini 80% kalimatnya menggunakan Bahasa Jawa. Mohon masukannya ya teman-teman untuk part ini.
Mungkin ada beberapa kata yang menurutnya teman-teman aneh. Aku mau kasih keterangan sedikit.
*Amben: di tempatku amben itu semacam tempat duduk yang lebar terbuat dari babu kering yang di tata rapi dan di paku agar menyatu. bisa menampung beberapa orang untuk duduk bersamaan. Bisa juga untuk menaruh barang-barang yang banyak. Di desaku amben kebanyakan di simpan di emperan toko yang menjual sayur-sayuran, dan biasanya juga ada di dapur yang belum modern. untuk lebih jelasnya teman-teman bisa lihat gambar ini.
mlijo : penjual sayur keliling,
*abang-ireng: dalam Bahasa Jawa, kata abang-ireng biasanya di tujukan untuk orang yang wajahnya memerah karena terkena sinar matahari.
__ADS_1
maafkan ya kalau bahasaku dalam menjelaskan masih belepotan. selalu dukung saya ya.. kritik dan saran teman-teman sangat aku harapkan..