Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
11. Dijemput Ega


__ADS_3

selamat membacaa...


sebelum baca boleh dong pencet jempol dulu.. heheh


kritik dan sarannya aku tunggu yaaa...


****


"Halo."


"Halo kawan. Aku ada kabar baik buatmu." ucap si penelpon.


"Zahra?" tanya lelaki yang dengan semangat berdiri dari tempat duduknya.


"Ya. Barusaja aku menelponya. Dia sudah baik-baik saja. Tapi masih di rumah. Sepertinya belum masuk kerja." jawab si penelpon.


"Syukurlah," ucap lelaki itu yang tak lain adalah Ega.


"Aku mengajaknya untuk kumpul di kafe nanti sore. Dan kabar baiknya lagi, dia mau menerima permintaanku untuk kamu yang jemput."


"Kamu serius?" tanya Ega memastikan.


"Serius lah. Buat apa aku ngibulin kamu."


"Thanks, Don. makasih. Nanti aku jemput jam berapa?"


"Kamu pulang kantor jam berapa? Nanti sepulang kamu nganter langsung jemput ke rumahnya."


"Oke baiklah makasih banyak ya. Sampai ketemu nanti."


Ega mengakhiri panggilan telepon nya dengan Doni. Ia merasa sangat senang dan lega mendengar berita baik itu.


Dengan semangat ia menyelesaikan sisa pekerjaan hari ini. Ia ingin segera bertemu dengan Zahra.


*******


Pukul setengah lima sore Ega keluar dari kantornya. Ia bergegas menuju basement tempat ia memarkirkan mobilnya. Dengan kecepatan sedang ia mengendarai mobilnya membelah kemacetan di kota Malang.


Sekitar lima belas menit berkendara akhirnya sampailah ia di depan rumah Zahra. Ia memarkirkan mobilnya di halama rumah yang cukup luas itu. Namun ia tak segera turun. Ia ragu untuk menemui Zahra saat mengingat pertemuan terakhir mereka beberapa hari lalu.


Dari arah pintu keluar lelaki paruh baya yang tak lain Ayah Zahra. Lelaki itu duduk di kursi kayu yang ada di teras rumah, memperhatikan mobil Ega. Akhirnya Ega memberanikan diri untuk turun.


"Assalamualaikum, Om," sapa Ega begitu sampai di depan Ayah Zahra dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Waalaikumsalam, Nak." jawab sang ayah menerima uluran tangan Ega untuk bersalaman. Ega pun mencium tangan pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Zahra ada, Om?" tanya Ega sedikit ragu dan hal itu terlihat jelas dimata ayah Zahra.


"Ada di dalam. Duduk dulu mari, Nak Ega," ajak sang ayah.


Dengan gugup Ega duduk di samping ayah dari pujaan hatinya itu. Ia merasa was-was tidak diperbolehkan lagi untuk bertemu Zahra. Dalam pikirannya pasti ia akan diusir sebentar lagi.


Ega tahu betul. Ayah Zahra sangat menyayangi gadis itu. Meskipun ayah dan anak itu jarang sekali bertemu, tapi kasih sayang sang ayah pada anaknya sangatlah besar.


"Ega mau minta maaf sama, Om," ucap Ega sebelum Ayah Zahra berbicara.


Ayah Zahra tersenyum memandang Ega. Yang dipandang kembali gugup.


"Kenapa minta maaf ke saya?" tanya pria paruh baya itu.


"Saya menyesal, Om, atas apa yang saya lakukan pada Zahra beberapa tahun lalu." Ega menunduk, menyembunyikan wajahnya. Ia sangat malu bertemu dengan ayah Zahra saat ini.


"Bukan sepenuhnya salah kamu, Nak. Sedikit banyak saya juga bersalah."


Ega memperhatikan ayah Zahra menunggu kelanjutan dari perkataan beliau.


"Sedari kecil kedua anak saya memang kurang kasih sayang dari seorang ayah. Saya jarang menemani mereka. Saya sadar mereka butuh sosok ayah, butuh sosok pelindung di masa-masa pertumbuhannya," ucap Ayah Zahra memandang jauh ke depan.


"Zahra merasa menemukan sosok pelindung pada dirimu, Nak. Hingga akhirnya ia merasa terpukul saat kamu meninggalkannya waktu itu. Di situ saya juga merasa gagal menjadi ayah untuk kedua anak saya."


Ega memperhatikan dan mencerna apa yang di ucapkan oleh Ayah Zahra.


Ayah Zahra menoleh pada Ega memperhatikan perubahan yang terjadi pada pria itu.


"Saya hanya ingin anak saya bahagia. Apapun akan saya lakukan untuknya. Saya tau, ada yang belum selesai di antara kalian. Selesaikan segera, Nak. Kembalikan senyum anak saya yang telah lama hilang."


Deg!


Ega merasa tertohok dengan kata-kata Ayah Zahra. Ia tak bisa untuk menjawab kata-kata yang telah diucapkan oleh lelaki tua itu.


"Saya akan berusaha, Om. Ijinkan saya memperbaiki hubungan kami." akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari bibir Ega.


"Apa Om serius? Zahra akan ikut dengan Om?"


"Saya tidak pernah seserius ini berbicara denganmu, Nak. Jika memang kamu mencintainya. Buatlah dia tetap tinggal di sini. Tunjukkan padanya kalau memang kamu mampu membahagiakan anak saya. Karena saya tahu. Dia hanya emosi dan pikirannya sedang kacau."


"Loh. Ada tamu, kenapa Ayah gak bilang ke Bunda?" tanya bunda yang keluar dari dalam rumah membawa teh hangat untuk suaminya. Ega berdiri menyalami sang bunda.


"Sebentar, Tante panggilkan Zahra dulu," ucap bunda berlalu masuk kembali ke dalam ruamh.


"Ayo masuk kedalam saja, sebentar lagi azan maghrib," ajak ayah Zahra.

__ADS_1


Dua lelaki berbeda usia itu masuk ke dalam Rumah. Ayah meletakkan cangkir tehnya di meja ruang tamu.


Dari arah ruang tengah bunda membawa nampan berisi teh hangat untuk Ega. Di belakang bunda ada Zahra yang terlihat masih belum siap untuk pergi.


"Om, saya mau minta ijin, kalau boleh saya mau ajak Zahra keluar sebentar," kata Ega hati-hati.


Zahra diam memperhatikan interaksi keduanya.


"Silahkan asal Zahra mau. Pesan saya, jaga dia baik-baik," jawab sang ayah.


"Sebaiknya sebelum kalian pergi salat maghrib dulu di sini," lanjutnya.


"Iya, Om."


Mereka melaksanakan ibadah salat maghrib berjamaah di musholla rumah Zahra. Dalam hatinya Ega merasakan kedamaian juga kelegaan yang luar biasa berada di antara keluarga kecil ini.


Ia bersyukur kedua orang tua Zahra masih mau menerimanya kembali dengan sangat baik. Bahkan mereka terang-terangan mendukung hubungannya dengan Zahra. Memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu.


Selesai salat maghrib berjamaah. Ega menunggu Zahra di ruang tamu.


Zahra berpamitan untuk siap-siap. Sementara ayah dan bunda berpamitan untuk berkunjung ke rumah Satya, kakak sepupu Zahra.


Di kamarnya Zahra sedang memoles wajahnya. Ia sedikit merias wajahnya agar tidak terlalu pucat. Bukan pucat karena sakit. Beberapa hari ini ia terlihat seperti zombie karena tak memperhatikan penampilannya.


Ia mengenakan bedak tipis-tipis, sedikit eyeliner dan mascara. Dengan riasan sederhana itu kini ia terlihat lebih segar dari sebelumnya. Terakhir ia memoleskan liptin di bibirnya.


Setelah ia rasa semuanya sudah pas. Gadis itu segera turun menghampiri Ega yang menunggunya.


Di ruang tengah ada Efelin yang sedang menonton tv. Zahra berpamitan kepada sang adik sebelum berangkat.


"Udah," ucap Zahra yang berdiri agak jauh dari Ega yang sedang memainkan ponselnya.


Ega tersenyum pada Zahra. Memperhatikan penampilannya. Gadis itu sekarang terlihat lebih cantik dan dewasa dari enam tahun lalu.


******


ada beberapa dialog dan narasi yang aku tambah.. tapi gak merubah alur cerita kok. hehehe


yang udah pernah baca, boleh lah baca lagi..


aku tunggu kritik dan sarannya.


terima kasih banyaak..


salam. sayang

__ADS_1


kiki rizki


__ADS_2