
Happy reading
kasih tau yaa kalo ada typo
*****
Beberapa hari ini Dimas sering sekali menawari Zahra untuk pulang bersama. Sore ini, ia dan Dimas kembali pulang bersama. Mereka menaiki motor sport yang membuat gadis itu kesulitan untuk naik.
"Pegangan, Ra, biar gampang," ucap Dimas.
Zahra menumpukan tangannya di pundak Dimas sebagai pegangan. Setelah berhasil duduk dengan nyaman, Dimas melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Perjalanan ke rumah Zahra kali ini cukup lama kerena jalanan sedikit macet. Beberapa kali mereka terjebak kemacetan kecil. Hingga tiga puluh menit kemudian mereka sampai di depan rumah gadis itu.
Gadis itu lagi-lagi terlihat kesulitan untuk turun dari motor. Sehingga mau tak mau ia berpegangan pada pundak Dimas lagi. Dimas membuka kaca helm-nya saat Zahra telah berdiri di sampingnya.
"Makasih ya, mau mampir dulu?" tawar Zahra.
"Sama-sama. Nggak deh. Aku langsung balik aja. Besok mau aku jemput?" tanya Dimas.
"Besok aku bareng Rio aja. Makasih ya udah anterin. Hati-hati."
"Balik dulu." Dimas menutup kaca helm-nya dan melajukan motornya meninggalkan Zahra yang masih berdiri di pinggir jalan depan rumahnya.
Setelah Dimas tak terlihat lagi, gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucapan dengan membuka pintu.
"Waalaikumsalam," jawab sang adik yang berada di ruang tengah.
"Dianter Mas Dimas lagi ya, cie, udah ga nolak nih diantar cowok," goda sang adik.
"Apaan sih!" Zahra mengacuhkan Efelin yang masih terus menggodanya. Ia memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Mbak! Tiati loh ketauan Kak Ega," teriak Efelin dari bawah.
Zahra memilih masuk kamar dan membersihkan dirinya. Daripada menanggapi ucapan sang adik.
****
Tiga hari belakangan komunikasi Zahra dan Ega sedikit tidak baik. Ega terlihat sibuk sekali. Saat siang hari ia tidak pernah menghubungi gadisnya lagi. Malamnya hanya beberapa kali ia mengirim pesan untuk samg pujaan hati.
Zahra berusaha untuk tetap positif thinking menyikapinya. Ia selalu mensugesti dirinya bahwa Ega sedang sibuk.
Malam ini pun sama, ia menunggu Ega menghubunginya. Namun hingga tengah malam tak kunjung ada pesan dari orang yang sangat dinantinya. Bahkan pesannya yang ia kirimkan belum ada balasan sampai saat ini.
Tak terasa pipi Zahra telah basah hanya karena memikirkan Ega. Ia menangis dalam diam. Ia takut lelaki itu meninggalkannya lagi. Meski ia selalu berusaha berfikir positif, tetapi pikiran-pikiran tentang dia yang tiba-tiba meninggalkannya selalu bermunculan di kepalanya.
__ADS_1
Ponsel Zahra berbunyi nyaring, menandakan panggilan masuk. Buru-buru gadis itu mengusap kedua matanya dan menggambil ponselnya. Ia berharap yang menghubunginya adalah Ega.
Tapi ia harus kecewa karena ternyata yang menelponnya justru Dimas. Tanpa ada minat menjawab, ia mengabaikan panggilan itu. Ia memilih memejamkan mata. Berharap besok ia bangun ada banyak pesan dari Ega.
****
Di sana, Ega tengah berada di kamar hotelnya. Ia tengah berkutat mempelajari berbagai berkas yang diberikan padanya. Waktunya tinggal dua hari lagi berada di Jakarta. Ia harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya agar segera bisa pulang.
Ia sangat merindukan gadisnya. Beberapa hari ini ia sadar hampir tidak menghubungi gadisnya yang ada di Malang. Pasti ia sangat khawatir padanya.
Tak terasa Ega berkutat dengan berkasnya hingga larut malam. Ia melihat jam dinding yang ada di kamar hotel telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Ia mengecek ponselnya yang sedari tadi ia letakkan di sampingnya. Ia mengecek beberapa pesan masuk. Diantaranya ada pesan dari Zahra tadi siang dan beberapa jam yang lalu. Ia meruruki kecerobohannya karena men silent ponselnya.
Pasti dia khawatir. Semoga dia baik-baik saja, batinnya.
Ia segera mengetikkan balasan pesan dari Zahra.
Zahra:
Kamu sudah makan siang? (12.03)
Zahra:
Aku sudah di rumah. (16.47)
Zahra:
Ega:
Maafkan aku Sayang, pekerjaanku sangat banyak beberapa hari ini. (23.41)
Ega:
Selamat malam sweet herart, sleep well (23.42)
Ega meletakkan ponselnya di sofa. Lalu ia merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja. Menumpuknya menjadi satu tumpukan. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan segera beristirahat.
****
Pagi ini Zahra terlihat enggan bangun dari tempat tidur. Ia meraba-raba kasurnya untuk mencari ponselnya. Dilihatnya jam di ponsel itu menunjukkan pukul 4.40 pagi. Ia segera bangun dan menunaikan ibadah salat subuh.
Setelah salat, ia kembali ke atas kasurnya. Ia merasa malas melakukan apapun. Hari ini ia ingin ijin tidak masuk kerja pada Rio.
Ia membuka ponselnya, melihat beberapa pesan yang masuk. Hatinya tiba-tiba berdebar begitu menemukan nama lelaki yang sedari kemarin ia pikirkan. Belum sampai ia membuka pesan itu, air matanya terjun bebas tanpa permisi.
Ia menangis sesenggukan di dalam kamarnya. Tanpa mau membuka pesan itu. Gadis itu terlalu kecewa, menunggunya semalaman. Namun saat pesan itu ada, justru hatinya terasa sakit. Jika lelaki itu ada di hadapannya, ingin sekali Zahra memaki dan memukulinya.
__ADS_1
Cukup lama gadis itu menangis. Hingga kedua matanya sembab. Dari luar ia mendengar suara Efelin memanggilnya. Suara gadis kecil itu semakin mendekat hingga terdengar ketukan di pintu kamarnya.
Dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya, ia membukakan pintu untuk sang adik. Begitu pintu terbuka, Efelin terkejut karena kakaknya menangis.
Buru-buru gadis itu menerobos masuk ke kamar kakaknya. Menutup pintu dan mengajak kakaknya duduk di tepian ranjang.
"Kenapa?" tanyanya khawatir pada sang kakak.
"Kak Ega?" tebak Efelin yang mendapat anggukan dari Zahra.
Gadis kecil itu segera memeluk kakaknya. Membiarkan sang kakak kembali menangis. Hingga beberapa menit berlalu. Zahra akhir bisa menguasai emosinya.
"Kenapa?" Efelin mengulang pertanyaannya.
Zahra menyodorkan ponselnya pada Efelin. Gadis itu membaca pesan yang belum di buka olehnya dan membaca isinya.
"Ini pesan tadi malem. Jam setengah dua belas lebih. Kak Ega bilang dia minta maaf, dia sibuk banget, jadi gak sempet hubungin Mbak."
"Mbak jangan mikir yang aneh-aneh ya. Itu malah bikin mbak sedih kayak gini. Kak Ega pasti balik kok. Tenang aja. Bunda nungguin di bawah. Kata bunda nanti sore ayah bakalan pulang."
"Bilangin bunda aku libur hari ini, nanti aku turun," ucap Zahra pelan.
Efelin mengangguk sebagai jawaban. Ia segera keluar dari kamar sang kakak. Karena gadis kecil itu juga harus segera berangkat sekolah. Demi sang kakak ia rela sesekali terlambat sekolah.
Zahra mencari nomor ponsel Rio. Ia akan meminta izin pada sepupunya itu hari ini tidak masuk kerja.
Zahra:
Aku ijin ga masuk hari ini
Zahra meletakkan ponselnya di atas kasur setelah mengirim pesan pada Rio. Ia bergegas ke kamar mandi, dan membersihkan dirinya.
Setelah mandi dan berganti pakaian santai, ia mengecek ponselnya, ada banyak panggilan tak terjawab dari Rio, juga beberapa pesan yang menanyakan alasannya ijin.
Zahra tak membalasnya. Membiarkan ponselnya berada di atas kasur. Ia duduk di depan meja riasnya. Melihat matanya yang sembab. Ia mengambil alat make up-nya, mengaplikasikan pada wajahnya untuk menutupi mata sembabnya.
Zahra serius dengan kegiatannya. Tak mendengar ada orang yang mengetuk pintunya. Hingga pintu itu terketuk dengan keras barulah ia tersadar. Ia segera membuka kan pintu kamarnya. Tak mungkin bundanya mengetuk pintu sekeras itu, dan lagi Efelin juga pasti sudah berangkat sekolah.
*****
terimakasih sudah membaca....
pencet jempolnya yaa..
komen dan vote juga boleh banget.. 💞💞
salam sayang
__ADS_1
kiki rizki ❤️❤️