Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
80. Kabar Hilangnya Zakia


__ADS_3

Zahra tengah asik di dapur sendirian. Membuat sang bunda mengomel lantaran luka di lengannya terlalu banyak dibuat bergerak. Padahal luka itu masih belum kering sepenuhnya.


“Mbok ya kamu ini nurut, Nduk. Itu loh, lihat lenganmu, ada darah lagi di kain perbannya. Jangan apa-apa dibuat ngga kerasa sakitnya. Kalau seperti ini terus kapan sembuhnya? Bisa-bisa lukamu itu meninggalkan bekas loh.” Bunda Ratih terus saja mengomeli anak sulungnya.


“Aku bosen, Bundaaaaa,” rengek Zahra.


“Sana mending kamu ke rumah bulekmu sana, di sana kamu bisa nungguk pari (menjaga padi) daripada bosen di rumah,” usul Bunda Ratih.


“Ih, panas, Bun. Nggak mau. Nanti kalau aku item gimana?” tolak Zahra.


“Emang kenapa kalau kamu item? Ega nggak suka gitu?” tanya Bunda Ratih.


“Ya nggak gitu juga, Bun. Nanti aku jadi kayak anak kampung dong item dekil gitu.”


“Halah, repot deh ngomong sama anak jaman sekarang. Apa-apa serba takut. Apalagi sama yang namanya sinar matahari, pada takut kepanasan, takut item. Bunda dulu waktu seusia kamu itu ikut mbahmu ke sawah, nanam padi, ini sekarang kok anak Bunda manja gini.”


“Beda generasi, Bun,” jawab Zahra.


“Mbaakkk! HP-nya dari tadi bunyi terus loh berisik!” teriak Efelin dari ruang tamu.


“Sana kamu lihat dulu, biar Bunda yang meneruskan masaknya,” perintah Bunda Ratih.


Zahra mencuci tangannya dan beranjak meninggalkan dapur. Gadis itu menuju adiknya yang tengah bersantai di ruang tamu dengan ponselnya.


“Mbak, nanti anterin aku ke rumah temen ya,” pinta gadis kecil itu.


“Di mana?” tanya Zahra.


“Di perumahan deket pasar Tumpang.”


“Kamu tahu tempatnya apa masih mau nyari alamat dulu?”


“Udah tahu kok, udah pernah ke sana aku. Temenku punya kakak cowok loh, Mbak.”


“Ya terus? Kamu suka?”


“Iya. Suka banget. Dia ganteng banget loh, Mbak. Ughh, penampilannya keren banget pokoknya. Lebih keren dari kak Ega,” celoteh Efelin.


“Inget! Masih kelas satu SMA jangan pacaran dulu, apalagi sama yang tua-tua.” Zahra menasehati adiknya.

__ADS_1


Saking aksinya mendengarkan ocehan adiknya, gadis itu sampai lupa melihat ponselnya. Saat ponsel itu berbunyi lagi barulah ia saar dan segera mengangkat panggilan itu.


“Waalaikumsalam, ada apa, Yo?” tanya Zahra pada si penelepon yang tak lain adalah Rio.


“Mbak, Kia hubungin kamu nggak kemarin?” tanya Rio di seberang sana.


“Nggak tuh, dia nggakada hubungin aku dari dua hari lalu. Terakhir dia chat aku bilang kalau kamu mau antar dia pulang, itu aja sih. Emang kenapa?”


Zahra dengan seksama mendengarkan penjelasan Rio mengenai Zakia.


“Bentar deh, habis ini aku coba hubungin dia. Kalau bisa nanti aku langsung kabarin kamu. Dia gak bilang mau pergi-pergi sih,” ucap Zarha.


Setelah panggilan telepon berakhir, gadis itu mencari nomor kontak Zakia. Ia mencoba menghubungi nomor itu. Namun, sama sekali tidak bisa dihubungi. Saat ia mengirim pesan whatsapp hanya centang satu.


“Kenapa sih, Mbak?” tanya Efelin penasaran.


“Itu, tadi si Rio bilang kalau Zakia dari kemarin gak bisa dihubungi. Kan kemarin dia pulang ke rumah orangtuanya. Nah setelah itu dia nggak ngasih kabar sama sekali ke Rio,” jawab Zahra masih sibuk dengan ponselnya.


“Terus?”


“Nah ini dia katanya lagi di rumahnya Zakia. Tapi nggak ada orang katanya. Rumahnya sepi, para tetangga nggak ada yang tahu itu penghuni rumah pada ke mana. Tadi Rio nelepon tanya si Kia ngasih kabar aku apa enggak,” jelas Zahra pada adiknya.


“Terus?”


“Terus?”


“Ini aku lagi coba telepon dia gak bisa. WA juga centang satu.”


“Terus?”


“Ya udah gak bisa dihubungin.”


“Terus?”


“Astaga! Kamu kok ngeselin ya! Terusno dewe! (Terusin sendiri!)”


“Loh, Mbak! Kan aku tanya, kenapa jadi sewot sih?”


Tidak memperdulikan ocehan adiknya, Zahra mencoba lagi untuk menghubungi Zakia. Namun, lagi-lagi masih tetap tidak dapat tersambung.

__ADS_1


”Atau Mbak Kia kabur dari Kak Rio ya, Mbak?” tebak Efelin.


“Maksudmu?”


“Ya mungkin aja kan, Mbak. Secara Mbak Kia bolak balik dapat teror kan, bisa jadi itu peneror ngancam gitu,” tebak Efelin.


“Masak iya sih?”


“Ya mungkin aja, Mbak. Sekarang ngapain neror-neror kalau tujuannya bukan bikin Mbak Kia pergi ninggalin Kak Rio? Bener nggak?”


“Iya juga ya. Terus gimana ngomongnya sama Rio?”


“Ya telepon lah, Mbak. Kayak orang susah aja gak punya pulsa. Pake internet kan bisa. Ayah kan udah pasang WIFI.”


“Ish! Bukan itu maksudku.”


Zahra melakukan saran dari adiknya. Ia mencoba menghubungi Rio dan menyampaikan apa yang baru saja ia obrolkan dengan Efelin. Meski awalnya Rio tidak percaya argumen darinya, Zahra berusaha membuat kemungkinan-kemungkinan untuk mendukung argumennya itu.


Dari tempatnya duduk, Efelin memperhatikan sang kakak yang tengah berbicara serius. Sesekali ia melihat lengan sang kakak yang dibalut perban. Membayangkan rasa nyeri pada luka itu jika setiap saat digunakan untuk bergerak.


Memang sang kakak itu tergolong perempuan yang pandai menahan rasa sakit. Kecuali sakit nyeri haid. Untuk yang satu itu, Zahra dan dirinya kerap kali sampai menangis karena rasa sakitnya.


Kembali gadis itu melihat kakaknya yang tengah berkutat dengan ponselnya.


“Gimana, Mbak?” tanyanya


“Rio nggak percaya sih awalnya. Tadi aku suruh dia buat inget-inget tentang dia pernah cerita apa gitu tentang keluarganya. Barang kali punya saudara di luar kota atau apa gitu.”


“Iya, Mbak. Aku mau mandi dulu deh. Habis ini antarkan aku loh ya.”


“Tanya sama bunda sana. Emang boleh aku nyetir? Kamu bawa motor sendiri kan bisa sih?”


“Panas, Mbak. Bentaran doang. Deket kok. Nanti aku bilang bunda deh.”


Zahra masih tetap duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan, adiknya berlalu ke dalam kamarnya. Sebelum menuju kamarnya gadis kecil itu terlebih dahulu menghampiri sang bunda yang masih berada di dapur untuk meminta ijin.


Dengan segala bujuk rayu, akhirnya sang bunda mengijinkan sang kakak untuk mengantarkannya ke rumah temannya.


Buru- buru gadis kecil itu menghampiri Zahra yang masih berdiam di ruang tamu dan memberitahukan kalau ia boleh mengantarkannya dengan mengendarai mobil.

__ADS_1


Zahra tak merespon apa yang diucapkan sang adik. Fokusnya hanya pada ponsel yang sedang ia pegang karena sedang bertukar pesan dengan sang tunangan. Membicarakan hilangnya Zakia dan bagaimana keadaan sang adik sepupu di sana. Ia juga meminta tolong pada Ega untuk menjaga tantenya selama Rio masih sibuk dengan hilangnya Zakia.


Ia memikirkan bagaimana perasaan sang tante kalau tahu calon menantu kesayangannya pergi tanpa pamit dan tidak bisa dihubungi. Padahal tantenya itu begitu menyayangi Zakia dengan sepenuh hati. Ia sangat menyayangkan kepergian Zakia meningalkan Rio.


__ADS_2