
Pagi yang cerah di rumah Ega, tengah terjadi kebisingan di dapur rumah itu. Terlihat Zahra dan Uti Salma sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka semua.
Uti Salma terlihat sangat cekatan membuat berbagai macam masakan. Zahra juga terlihat sudah mulai akrab dengan Uti Salma. Mereka berdua terlihat kompak dalam memasak.
"Pagi Uti, pagi, Sayang," sapa Ega dengan mencium pipi Uti Salma, dan sebelum kecupan kedua mendarat di pipi Zahra, lelaki itu terlebih dahulu mendapat jeweran di telinganya dari sang uti.
"Aduh! Aduh! Uti, sakit!"
"Halah - halah! Isek hurung sah, ora oleh ambung-ambung anak perawan e uwong," peringat sang uti.
(Halah-halah! Masih belum sah, tidak boleh cium-cium anak perawan orang.)
Zahra tersenyum melihat kedekatan mereka berdua. Ia melanjutkan kegiatannya menata hidangan untuk mereka sarapan
Mereka semua sarapan bersama, terlihat jelas kebahagiaan di ruang makan itu. Canda tawa dan rasa kekeluargaan terlihat jelas di sana.
"Rumah ini jadi terlihat hidup ada Ibu dan Zahra," ucap Papa Adnan.
"Nanti sore Dimas sama keluarganya juga datang, akan lebih ramai lagi. Dan Keyla, akan tinggal bersama kita sampai beberapa waktu ke depan," lanjut Papa Adnan.
"Cucuku yang manis itu akan datang ke sini?"
"Iya Bu, kemungkinan nanti sore dia sampai di stasiun Kota Baru. Ga, nanti ajak Zahra jemput keluarga Keyla ya."
"Oke, Pa," jawab Ega.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Papa Adnan dan Ega berpamitan untuk berangkat bekerja. Meninggalkan Zahra dan Uti Salma berdua di rumah bersama para asisten rumah tangga dan satpam yang bekerja di sana.
Saat ini Zahra dan Uti Salma tengah bersantai di taman belakang. Menikmati sejuknya pemandangan di taman itu dan segarnya udara yang tidak banyak mengandung polusi.
"Uti, kalau boleh tahu, Keyla itu saudara Ega yang spesial itu bukan?" tanya Ega.
"Kamu tahu?"
"Ega pernah cerita sekilas tentang dia," jawab Zahra. (Cerita detail baca bab Jakarta)
"Hem, begitu ya. Apa kamu mau mendengarkan cerita tentang dia?"
"Mau Uti. Mungkin dengan cerita Uti aku bisa cepat akrab dengannya,"jawab Zahra terlihat antusias.
"Keyla itu, dia terlahir spesial. Dari dia kecil, dia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang biasa seperti kita."
"Dia umur berapa sekarang, Uti?"
"Mungkin empat belas atau lima belas tahun, seingat Uti dia masih SMP."
"Dulu, banyak dari temannya menganggap cucu Uti itu aneh, karena dia sering menyendiri atau tiba-tiba teriak saat melihat hantu-hantu di sekitarnya."
"Kasihan banget ya, Ti. Terus bagaimana, Ti?"
"Putraku Dimas dan istrinya selalu mendukung dan menyemangatinya. Dan ada satu temannya yang mau berteman dengan cucuku meski banyak teman yang lain menganggapnya aneh."
"Siapa dia, Ti? Apa dia juga sama-sama spesial?"
"Namanya Dinar. Mereka berteman sedari kecil. Dia gadis biasa seperti yang lainnya."
"Dimas pernah cerita sama Uti, Keyla sering membantu para hantu-hantu yang mendatanginya. Setiap hantu yang bergentayangan pasti memiliki cerita masing-masing."
__ADS_1
"Uti tahu ceritanya?"
"Setiap Keyla mengalami kejadian seperti itu Dimas selalu cerita pada Uti. Tapi, cuma sedikit cerita yang Uti ingat."
"Ceritakan, Uti," pinta Zahra.
"Oalah, Nduk. Kamu penasaran? Coba kamu baca ceritanya dia judulnya Apa Aku Berbeda? yang nulis saudaranya Kiki Rizki namanya Lina Agustin."
"Iya, Uti nanti aku baca. Aku mau denger cerita singkat dari Uti."
"Ada satu yang Uti ingat. Kalau tidak salah, mereka sekeluarga sedang mencari makan malam, dan mereka berhenti di sebuah warung yang rame banget. Dan ternyata si Keyla melihat di sana ada jin penglaris yang meludah di makanan-makanan para pembeli." Uti Salma bercerita sambil mengingat-ingat detail cerita dari anaknya.
"Ih, ada ya Uti yang seperti itu?"
"Banyak, Nduk. Sudah dari jaman Uti kecil dulu, Uti juga pernah mendengar cerita yang seperti itu. Di jaman sekarang pun juga masih ada orang-orang yang percaya dengan hal-hal seperti itu."
"Ada cerita lain gak, Uti?"
"Sudah banyak yang lupa, Nduk. Coba nanti kamu tanya ke dia sendiri."
"Yah. Oh iya Uti, Ega pernah bilang dia punya teman hantu. Apa benar?"
"Iya. Uti ingat, dia punya teman hantu namanya Esteh."
"Memang namanya beneran Esteh?" tanya Zahra tidak yakin.
"Dia bilangnya namanya Esteh. Dia itu hantu gagal move on katanya," ucap Uti sambil tertawa mengingat cucunya saat bercerita lewat video call.
"Ih, Uti gaul ya. Tahu gagal move on juga," ucap Zahra.
"Uti ingat cerita itu?" lanjutnya.
"Kasihan sekali Esteh."
"Iya, dan Keyla bilang tunangannya itu ganteng, dia kerja jadi body guard orang kaya di sana."
"Keyla pernah ketemu sama tunangannya Esteh?"
"Iya dia pernah bilang membantu Esteh ketemu sama tunangannya. Kalau Uti gak salah ingat namanya tunangannya itu Ismed. Dia punya lapak cerita juga. Judulnya "Balas Dendam Cowok Kampungan" karya Linanda Anggen, penulisnya temannya author Kiki Rizki, dan Lina Agustin."
"Wah Uti kenal sama mereka juga?"
"Ya kenal, Nduk. Mereka semua bersaudara di dunia penulis. Kiki Rizki kan yang bikin ceritamu sama Ega ini."
(R: Othor pede bener ya promosi diri sendiri🙄)
(O: Sekali-kali menyombongkan diri tak masalah kale🤭)
(R: Terserah kau thor. yang penting ceritanya lanjooot teross)
Mereka berdua bercerita hingga lupa waktu. Tak sadar saat Ega pulang lagi ke rumah. Lelaki itu sedari tadi melihat dan mendengar obrolan sang Uti dan tunangannya.
"Seru sekali ngobrolnya?" ucap Ega.
"Loh kok pulang?" tanya Zahra.
"Iya. Kan kita mau jemput Keyla. Ayo siap-siap. Kereta mereka sampai di stasiun jam setengah tiga," kata Ega lagi.
__ADS_1
"Ya udah makan siang dulu, habis itu nanti terus berangkat. Mbaknya sudah masak sepertinya buat makan siang kita," ajak Uti Salma.
Mereka bertiga memasuki rumah dan menuju ruang makan. Di sana, mbak asisten rumah tangga telah selesai menghidangkan makan siang mereka.
Setelah makan siang, Ega dan Zahra berpamitan pada Uti Salma untuk menjemput Keyla dan keluarganya di stasiun.
Jam menunjukkan pukul dua siang. Sepertinya mereka akan terlambat sampai staisun karena jalanan kota yang macet.
Akhirnya mereka sampai di stasiun Kota Baru hampir jam tiga sore. Terlambat cukup lama dari jam sampai keluarga Keyla.
"Ayo, Sayang," ajak Ega begitu mereka turun dari mobil.
Mereka berdua memasuki stasiun Kota Baru dan mencari keberadaan Keyla dan keluarganya.
"Itu mereka," tunjuk Ega.
Mereka berdua menghampiri keluarga Keyla yang duduk di kursi tunggu.
"Om Dimas," kata Ega memanggil Ayah Keyla.
"Ega," jawab Dimas, Ayah Keyla.
"Ayo, Om, Tante, Key. Maaf telat jemputnya. Jalanan macet," kata Ega.
"Iya, Gak papa. Hem. Ini toh tunanganmu, Maaf ya kemarin Om gak bisa hadir," ucap Om Dimas.
"Iya, Om. Gapapa. Ayo, Uti udah nunggu di rumah," ajak Ega.
Mereka berjalan keluar dari stasiun. Menuju mobil Ega yang terparkir di depan stasiun.
Mereka memasuki mobil avanza putih milik Ega yang cukup membawa mereka semua dan barang-barang bawaan mereka.
"Kak Ega kok bawa mobil biasa sih? Setahu aku mobil Kakak sedan hitam," ujar Keyla saat di dalam mobil.
"Kalo Kakak bawa itu nanti gak muat. Kamu mau di tinggal di stasiun?" jawab Ega.
"Kak Ega selalu ngeselin kalo jawab," gerutu Keyla.
"Em, Key. Itu tangan kamu kenapa?" tanya Zahra.
"Nanti biar Ibu aja yang cerita ya, Kak. Aku takut kalau inget kejadiannya," jawab Keyla berubah murung.
Ega kembali mencairkan suasana agar tidak terjadi kecanggungan. Di selama perjalanan pulang ke rumah Ega, Keyla bercerita melihat hantu di kereta. Zahra dan Ega dengan serius mendengarkan cerita gadis itu.
****
hoalaa... ada Keyla di sini, dia liburan di Malang loh.
yang belum tahu cerita Keyla cus kepoin novelnya
udah disebutin tadi sama Uti Salma judul novelnya.
Apa Aku Berbeda? penulis Lina Agustin
ada juga Ismed tunangannya Esteh 🤭🤭 cus kepoin juga
__ADS_1
Balas dendam cowok kampungan penulis Linanda Anggen.