
"Kok bisa nyasar sejauh ini sih? Untung Kak Rey tahu daerah sini," omelan Efelin membuat Zahra yang ketakutan jadi kesal.
Dua kakak beradik itu terlibat perdebatan kecil dan mengabaikan laki-laki yang tengah duduk di atas motor matic-nya.
"Apa kalian mau lanjut berdebat?" tanya lelaki itu akhirnya
"Maaf, Kak Rey. Oh iya, Kak, ini Mbak aku yang udah tua tapi masih aja ngerepotin orang," ucap gadis kecil itu pada lelaki yang dipanggilnya Rey.
"Tak masalah. Bisa kita balik sekarang? Keburu gelap," ucap Rey.
"Aku gak bisa nyetir, tanganku sakit," ucap Zahra terus terang. Ia menunjukkan lengan bajunya yang terlihat memerah karena ada rembesan darah dari lukanya.
"Ya terus mobilnya mau ditinggal di sini?" pekik Efelin.
"Hm. Biar aku yang nyetir, kamu bisa mengendarai motor, Dek?" usul Rey.
"Bisa sih," jawab Efelin sedikit ragu.
"Ya udah. Biar aku yang nyetir mobilnya."
Setelah menerima usulan dan penunjuk jalan dari Rey, Efelin mengendarai motor Rey sesuai dengan jalan yang dilewatinya tadi. Dari belakang Zahra dan Rey mengikutinya.
"Maaf merepotkanmu," ucap Zahra merasa sungkan.
"Tidak masalah. Apa tanganmu baik-baik saja? Atau lebih baik kita ke RS dulu?" tanya Rey.
"Tidak perlu," tolak Zahra.
"Kalau aku tidak salah mengingat, kamu sepupunya Rio bukan?" tanya Rey.
Sontak Zahra menolehkan kepalanya memperhatikan lelaki itu. Yang dilihat pun tersenyum karena Zahra tidak mengenalinya.
"Dulu aku sering bermain dengan Rio. Rumah orangtuaku dulu berada di dekat rumah nenekmu," ucap Rey menjelaskan. Pandangannya sesekali melihat ke arah Zahra.
"Benarkah? Maaf aku tidak mengingatmu," jawab Zahra merasa tak enak.
"Padahal dulu aku sering sekali menjahilimu. Apalagi kalau kamu ikut Rio bermain di sungai. Aku sering membuatmu marah karena pakainanmu selalu terkena air yang sengaja aku cipratkan."
Zahra diam mengingat-ingat memori lama tentang masa kecilnya. Sekelebat bayangan masa kecilnya muncul di saat ia bermain air di sungai. Kejadian yang diceritakan oleh Rey tergambar jelas di benaknya.
"Ingat?" tanya Rey yang dijawab anggukan kepala oleh Zahra.
"Apa kamu sudah menikah?" tanya Rey lagi.
__ADS_1
"Belum."
"Punya calon?"
"Punya."
"Sayang sekali. Padahal sekian lama aku menunggu gadis kecil kecil yang dulu sangat pemalu dan susah bergaul itu," ucap Rey tampak kecewa.
"Maksudmu?"
"Terus terang. Aku menyukaimu sejak dulu. Aku sering menjahilimu karena aku ingin menarik perhatianmu," ucap Rey memandang serius ke arah Zahra.
"Maaf. Aku sudah bertunangan," ucap Zahra.
"Sebelum janur kuning melengkung, apapun bisa terjadi bukan?" ucap Rey menyunggingkan senyum yang bisa ditebak oleh Zahra.
"Kali ini, aku akan berusaha untuk merebut hatimu dari tunanganmu itu. Cinta harus diperjuangkan bukan?" ucap Rey lagi.
"Bukankah banyak wanita lain di luar sana?"
"Memang. Tapi hatiku sudah terpatri oleh satu orang. Dan aku ingin membuktikannya. Jadi jangan menyuruhku untuk berhenti."
Zahra terdiam mendapati kenyataan bertemu teman lamanya yang tiba-tiba mengatakan tentang cinta padanya. Dalam pikirannya berkecamuk sesuatu yang tak dapat ia jelaskan dengan kata-kata.
Hingga mobil yang mereka naiki mencapai jalan raya, Zahra tak sedikitpun mengeluarkan kata untuk Rey.
Sampai di rumah Rey, Zahra menolak untuk turun. Ia bersikeras akan mengemudikan sendiri mobilnya untuk pulang.
Rey membiarkan Zahra tetap berada di dalam mobil. Lelaki itu turun menghampiri Efelin yang sudah menenteng tasnya hendak menuju mobil.
Mereka terlihat mengobrol dan setelah itu Efelin kembali masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama ia keluar dengan temannya yang menenteng helm, lalu merekapun menaiki motor milik Rey.
Zahra yang melihat itu segera keluar menghadang sang adik.
"Mau ke mana lagi?" tanya gadis itu di depan adiknya.
"Ya pulang lah. Puput yang nganterin aku. Nanti dia balik sama Kak Rey. Kan nanti yang nyetir mobilnya Mbak kan Kak Rey," jelas Efelin.
"Nggak. Kita pulang bareng aja. Dek biar Efel pulang sama aku aja," tolak Zahra.
Di belakang motor yang dinaiki Efelin dan Puput ada Rey yang berdiri dan mengacungkan kunci mobil milik Zahra. Lelaki itu tersenyum kemenangan karena bisa berduaan lagi dengan Zahra.
"Udah kalian duluan aja. Kakak kamu aman sama aku, Dek," ucap Rey pada dua gadis remaja itu.
__ADS_1
Dengan sangat terpaksa Zahra kembali masuk ke mobilnya. Pikirnya percuma berdebat dengan lelaki menyebalkan itu.
Tak sepatah katapun keluar dari mulut Zahra. Gadis itu memilih diam dan menikmati rasa nyeri di lengannya. Meski sebenarnya ia ingin protes lantaran Rey membawa mobilnya dengan kecepatan yang sangat pelan.
Sepertinya lelaki itu sengaja melakukannya. Untuk menikmati waktu bersama dengan sang pujaan hati.
"Ini bukan arah ke rumahku," ucap Zahra begitu sadar jalan yang mereka lewati tidak menuju ke rumahnya.
"Memang. Kita akan ke RS Tumpang untuk memeriksakan tanganmu," jawab Rey.
"Tidak perlu. Kita langsung pulang saja," tolak Zahra.
"Kamu tidak bisa menolak. Aku yang driver-nya di sini," jawab Rey.
"Tapi ini mobilku," seru Zahra.
"Tapi aku yang nyetir. Jadi terserah aku mau bawa kamu ke mana."
Perasaan Zahra mulai tak enak. Ia teringat kejadian Bian dulu. Kenapa dengan b*dohnya ia tidak menolak Rey.
Ia terdiam tidak menghiraukan lelaki itu. Diam-diam ia menyuruh Efelin dan temannya untuk mengikuti mobilnya. Ia mengirimkan GPS pada adiknya.
Ia juga mendapat pesan dari Ega kalau lelaki itu dalam perjalanan menuju Tumpang. Gadis itu mengirimkan GPS pada tunangannya tanpa mengatakan apapun. Karena ia tak ingin terjadi salah paham dengan tunangannya itu.
Sesuai perkataannya, Rey membawa mobil Zahra menuju RS Tumpang. Mau tak mau Zahra ikut turun dan berjalan ke IGD ditemani Rey.
Di dalam sana Zahra mendapatkan perawatan di lukanya. Luka yang lumayan dalam itu mengalami pendarahan lagi karena terlalu banyak digunakan untuk bergerak.
Proses penyatuan luka yang terbuka itu terhambat dan ada luka yang kembali membuka. Dokter menyarankan untuk Zahra tidak melakukan banyak aktivitas dengan tangan kirinya. Dokter juga memberikan resep obat yang harus di minum dan di oleskan di bagian tepi luka untuk mengurangi peradangan yang terjadi.
"Di jaga ya, Pak istrinya. Diusahakan jangan terlalu banyak beraktivitas menggunakan tangan kiri," ucap dokter yang memberikan perawatan.
"Iya, Dok. Memang istri saya ini susah sekali dilarang," Jawab Rey menimpali.
"Rey!" Desis Zahra tak terima dengan sebutan yang istri yang diberikan padanya.
"Iya, Ma. Kita tebus obat dulu di apotek setelah itu langsung pulang. Kamu juga denger kan apa yang dibilang dokternya. Kali ini kamu harus denger apa kata aku," jelas Rey panjang lebar yang membuat Zahra sangat geram.
Ponsel Zahra berdering nyaring tanda telepon masuk. Segera diambilnya ponsel di dalam tasnya dan mengangkat panggilan dari Ega yang tertera di layar ponsel.
Gadis itu berkata kalau dirinya ada di dalam ruang IGD. Ega yang mendengar itu panik segera menerobos pintu IGD yang tertutup. Diedarkannya pandangan melihat ruangan serba putih itu.
Di lihatnya tunangannya duduk bersama seorang laki-laki yang tidak dikenalnya di hadapan seorang dokter.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa? Kamu luka lagi?" tanya Ega sangat khawatir meraih Zahra dalam pelukannya.
Dokter yang berada di sana terlihat bingung lantaran lelaki yang sebelah mengaku sebagai suaminya kini terlihat sangat kesal. Dan lelaki yang baru datang terlihat sangat khawatir dan gadis yang dia rawat tadi menghambur ke pelukan lelaki itu.