
"Sudah kan? Ayo balik. Kalau kamu gak mau. Aku balik sendiri," ucap Ega setelah mereka turun dari pelaminan.
"Tungguin!"
Mengabaikan Fani yang berjalan di belakangnya, Ega terus berjalan melewati para tamu undangan yang lain.
Hingga seseorang mencekal tangannya dari samping, membuatnya berhenti dan melihat orang itu. Dengan mencari-cari seseorang yang harusnya berada di tempat ini juga jika ada Ega di sini.
"Ega? Kok sendirian? Zahra mana?" tanya Dea, temannya sekaligus sahabat Zahra.
Tiba-tiba Fani menggandeng lengan Ega, dengan angkuh perempuan itu memandang Dea dengan pandangan meremehkan.
"Ehm. Sorry, kamu siapa ya? Kenalin, Fani. Ceweknya Ega," ucap Fani mengulurkan tangan mengajak Dea berkenalan.
"Ga? Maksudnya apa? Bisa jelasin?" cerca Dea.
Mana bisa ia percaya begitu saja. Yang ia tahu Ega hanya mencintai sahabatnya. Walaupun mereka masih dalam masa pendekatan lagi.
"Jangan dengarkan Fani. Aku bisa jelasin, De. Tolong ya, jangan sampai dia tahu, please," pinta Ega.
"Dia cuma temen kuliah aku. Nanti aku hubungi kamu, ya," bujuk Ega pada Dea.
Sial sekali dia hari ini bertemu dengan Dea. Ia berharap semoga gadis itu bisa diajak kerja sama untuk tidak memberitahu Zahra.
"Kamu apa-apaan sih, Beibh. Jelas-jelas aku tunangan kamu!" seru Fani yang mulai melancarkan aksinya.
"Kamu bisa diem gak!" desis Ega.
Dea geleng-geleng kepala. Membayangkan sahabatnya yang telah ditipu lelaki yang ada di depannya ini.
"Aku kecewa sama kamu, Ga! Dia bilang tunangan kamu. Lalu gimana Zahra? Dasar laki-laki gak bertanggungjawab!"
Tangan kanan Dea melayang dan mendarat dengan sempurna di pipi Ega.
"De! Aku bisa jelasin semuanya. Kamu tenang dulu," pinta Ega.
Ia memegang kedua bahu Dea. Menahan rasa panas di pipinya akibat tamparan temannya itu.
"Enggak, Ga! Aku benar-benar kecewa sama kamu. Apalagi kalau Zahra sampai tahu."
"Drama banget deh. Lagian siapa Zahra? Asal kamu tahu, ya! Ega tunangan aku," ucap Fani dengan gaya sombongnya.
Padahal dirinya sendiri di sini yang membuat drama. Hingga Dea salah paham dengan Ega.
Ega mengusap kasar wajahnya. Ingin sekali ia menonjok wajah Fani jika saja dia laki-laki. Untungnya dia masih bisa menahan dirinya.
"Kamu bisa diem gak!" sentak Ega pada perempuan ular itu.
Mereka semua menjadi pusat perhatian di acara tersebut. Dea yang sadar akan hal itu. Buru-buru meninggalkan tempat itu.
Sebelum pergi ia sempat berkata pada Ega, "Aku kecewa sama kamu."
Gadis itu menerobos kerumunan. Tanpa pamit pada kedua mempelai ia segera keluar dari gedung itu. Padahal dia baru saja sampai di acara pernikahan temannya itu.
__ADS_1
"Dea!" seru seseorang dari belakang.
Rupanya orang itu juga melihat kejadian tadi. Terbukti ia mengejar Dea yang akan meninggalkan acara.
"Tante Ratih? Tante ..." ucap Dea terputus.
"Iya. Yang punya acara temannya ayahnya Zahra," ucap Tante Ratih.
"Jadi, Tante tadi lihat yang di dalam?"
Tante Ratih mengangguk. Mengusap pundak Dea penuh kasih sayang.
"Tante lihat waktu kamu menampar Ega. Ada apa?"
"Dia, dia selingkuh dari Zahra, Tante. Aku gak terima!"
Tante Ratih tersenyum. Menangkap kesalah pahaman antara sahabat anaknya dan Ega.
"Mau ikut ke rumah? Kita dengarkan penjelasan dari Ega sama-sama," ajak Tante Ratih.
"Iya, Tante." Tanpa menolak Dea langsung menyetujui ajakan Tante Ratih. Kalau memang terbukti Ega selingkuh ia akan membuat perhitungan pada lelaki itu. Karena tak mungkin sahabatnya bisa melakukannya sendiri.
Di belakang mereka, Ega tengah berdiri bersama Om Irawan. Ia tak bisa menjelaskan apapun pada lelaki tua yang memandangnya penuh tanya, lantaran perempuan yang sedari tadi membuat ulah itu masih menempel padanya.
"Ayo, kita pulang," ajak Tante Ratih pada suaminya.
"Le, antarkan temanmu ini pulang dulu. Saya tunggu kamu di rumah," ucap Om Irawan tegas.
"Iya, Om. Saya akan segera ke sana."
Selama perjalanan, Lelaki itu tidak menjawab sepatah kata pun yang diucapkan Fani. Ia mengabaikan perempuan itu. Hingga sampai di depan rumah perempuan itu dengan kata-kata yang sarat akan emosi Ega menyuruh perempuan itu turun.
"Aku sudah gak punya hutang apapun lagi padamu. Jangan coba-coba kamu menggangguku. Atau kamu akan meyesal!" ancam Ega sebelum Fani turun.
Begitu Fani keluar dari mobilnya. Dengan sangat cepat ia memacu mobilnya menuju rumah orang tua Zahra.
Sepanjang perjalanan ia menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semua kejadian malam ini.
Di rumah orang tua Zahra, Dea tengah duduk di ruang tamu bersama Tante Ratih dan Om Irawan.
"Bisa kamu ceritakan apa yang kamu tahu, Nduk?" pinta Tante Ratih dengan lembut pada gadis yang duduk di hadapannya itu.
"Tadi saya gak sengaja ketemu Ega, Tante. Saat itu dia sedang foto sama mempelai, dari kejauhan saya perhatian terus untuk memastikan. Saat itu saya baru aja masuk gedung, Tante. Ternyata memang benar itu dia. Saat dia lewat di depan saya, saya sengaja memegang lengannya. Lalu ada perempuan yang tadi berfoto sama Ega juga ada di sana. Dia memperkenalkan dirinya kepada saya sebagai tunangannya."
"Lalu? Apa Ega mengiyakan ucapan perempuan itu?" tanya Tante Ratih penasaran.
"Tidak, Tante. Dia bilang jangan percaya sama ucapam perempuan itu. Tapi saya gak percaya, Tante. Dia kan pernah ninggalin Zahra lama banget. Ada kemungkinan juga kan dia udah punya tunangan."
"Saya emosi, Tante. Saya kebayang gimana perasaan Zahra kalau dia tahu."
Tante Ratih tersenyum maklum pada teman anaknya itu.
"Awalnya saya juga terkejut melihat Ega dengan perempuan lain. Tapi, saya tidak mau terjadi salah paham. Maka dari itu, lebih baik kita dengarkan penjelasannya nanti," ucap Ayah Zahra.
__ADS_1
"Sebentar, Tante tinggal ke belakang dulu," pamit Tante Ratih pada Dea dan suaminya.
Di ruang tamu terjadi keheningan karena Om Irawan sendiri juga tengah sibuk dengan pikirannya.
Ia merasa kecewa mengetahui lelaki yang ia harapkan untuk bisa menjaga dan membahagiakan anaknya ternyata menggandeng perempuan lain di luar.
Dea memainkan ponselnya. Entah apa yang tengah dilakukannya.
Deru suara mobil yang berhenti di depan rumah membuat kedua orang itu menolehkan pandangannya. Melihat pada pintu masuk rumah.
"Assalamualaikum," ucap Ega begitu memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," jawab keduanya serempak.
"Om," sapa Ega dengan menyalami ayah dari pujaan hatinya.
"Duduk, Le," kata Om Irawan.
Ega mengambil tempat duduk di samping Dea. Gadis itu masih terlihat murka padanya. Pandangannya menyiratkan kemarahan dan kekecewaan yang teramat besar.
Dari dalam rumah, Tante Ratih keluar membawa nampan berisi minuman untuk mereka semua. Dilihatnya Ega telah datang. Ia mengambil tempat duduk di samping suaminya.
"Tante," sapa Ega dengan menyalami tangan Tante Ratih.
"Bagaimana, Le. Ada yang ingin kamu sampaikan pada kami?" tanya Om Irawan.
"Om, Tante, Dea juga. Sebenarnya tadi itu hanya salah paham," ucap Ega menjeda kalimatnya sejenak.
"Perempuan tadi itu teman saya kuliah di Singapura. Kapan hari saya minta bantuan sama dia buat melacak keberadaan Zahra saat diculik."
"Waktu itu dia minta imbalan dari saya. Demi mengetahui tempat Zahra di culik, akhirnya dengan asal saya mengiyakan permintaannya."
Ega pun menceritakan semuanya tentang kesalah pahaman yang timbul akibat ulah Fani.
"Kemarin saya juga sudah memberi tahu Zahra tentang Fani," ucap lelaki itu menutup ceritanya.
"Iya. Zahra sudah bilang sama saya tadi sore," tanggapan dari Tante Ratih.
"Jadi Tante tahu?" tanya Dea.
"Tante hanya tahu Ega menemani temannya itu. Tidak disangka ternyata acara yang kita tuju ternyata sama. Dunia ini sesempit itu ya," lanjuut Tante Ratih.
"Saya harap, kejadian semacam ini tidak akan terulang lagi. Dan saya minta sama kalian beruda, untuk tidak memberitahu Zahra. Biarlah masalah ini hanya kita yang tahu," ucap Om Irawan.
"Iya, Om," jawab Dea.
"Ga, sorry, ya. Aku udah nampar kamu tadi," lanjutnya.
"Iya, gak papa, De," jawab Ega tersenyum.
"Ayo diminum dulu. Keburu dingin ini minumannya," ajak Tante Ratih.
Mereka berempat melanjutkan perbincangan mereka. Membahas hal lain dan melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Biarlah itu menjadi rahasia mereka berempat. Tanpa di ketahui orang lain. Terutama gadis yang sedang mereka jaga perasaannya.