Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
100. Titik Terendah 2


__ADS_3

Ega tengah duduk bersandar di kursi tunggu di depan ruang rawat Zahra. Rasa cemas dan khawatir menyelimuti lelaki itu dalam diamnya. Sudah berkali-kali Zahra keluar masuk rumah sakit semenjak mereka bertemu.


Terkadang ia bertanya-tanya apakah kedatangannya kembali membuat gadis itu terbenani hingga berpengaruh pada kondisi tubuh dan pikirannya.


Dan banyak sekali kejadian-kejadian yang bisa dibilang buruk yang menimpa Zahra. Semua itu menjadi beban tersendiri untuknya yang belum lama ini kembali pada kehidupan gadis yang menjadi cinta pertamanya.


Ia mengusap kasar wajahnya. Bayangan kejadian-kejadian buruk yang menimpa Zahra berseliweran di kepalanya. Ia merenungi semuanya, dan beranggapan bahwa semua kejadian itu terjadi karena lelaki itu.


Dering ponsel membuyarkan lamunan lelaki itu. Diambilnya benda pipih yang ada di dalam saku celananya. Sebuah panggilan tak terjawab dari sekretarisnya.


Ia ingat belum mengabari kedua orang tua Zahra yang masih belum tahu bahwa putrinya yang kembali masuk rumah sakit. Ia segera menghubungi orang tua gadisnya itu.


Setelah mengabrakan kepada orang tua tunangannya, ia masuk ke dalam ruang rawat gadis itu. Terlihat lagi selang infus menancap di pergelangan tangan Zahra. membuat hati Ega pilu melihat pemandangan itu berulang kali.


Ia mendekati tempat Zahra terbaring lemah. Terlihat gadis itu lelap dalam tidurnya dengan bibir yang kering dan pucat.


"Apa semua ini terjadi karenaku?" guman Ega dengan memandang wajah tunangannya.


"Apa kamu terbenani dengan perasaanku untukmu?"


"Apa kita tidak bisa berjodoh?"


"Kamu tahu? Aku mencintaimu. Lebih dari apapun. Jika cinta ini membuatmu terluka, apa aku harus melepaskanmu?"


...****************...


Zahra terbangun dengan perasaan bingung. Saat pertama kali membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit dan dinding berwarna putih.


"Bunda...," panggilnya lirih karena tak menemukan seorangpun di dalam ruangan itu.


Ia mencoba untuk duduk, namun kepalannya terasa sangat sakit. Dan lagi-lagi telinganya terasa sakit dan terasa seperti berdenging.


Dipukul-pukulnya telinga kirinya karena merasa frustasi dengan sakit dan dan pendengarannya yang tak kunjung membaik.


"Zahra!" seru Ega saat keluar dari kamar mandi yang ada di ruangan itu dan mendapati tunangannya tengah menangis dan memukul-mukul kepalanya.


"Ra! Sayang, jangan gini!" Lelaki itu berusaha menghentikan pukulan yang dilakukan Zahra.


"Lepas!" teriak Zahra berusaha melepaskan cengkeraman tangan Ega di kedua tangannya.

__ADS_1


"Jangan seperti ini. Jangan menyakiti dirimu sendiri." Ega masih tetap berusaha menenangkan Zahra.


Meski ia mendapatkan penolakan dan dorongan dari Zahra.


"Lepasin aku. Biarkan aku mati aja sekalian daripada bikin kamu dan keluargamu malu," ucap gadis itu ditengah tangisannya.


"Aku ini cacat, Ga. Aku nggak pantes buat kamu. Aku nggak bisa jadi istri kamu. Keluarga kamu akan malu kalau aku jadi bagian dari keluargamu." Gadis itu menangis histeris di dalam pelukan Ega.


"Jangan seperti ini, Ra, aku mohon. Jangan berbicara yang tidak-tidak. Kamu akan sembuh, Sayang," kata Ega menahan kesedihannya.


Perlahan ia melepaskan dekapannya. Melihat wajah pucat Zahra dengan seksama. Mengusap butiran kristal yang mengalir deras dari pelupuk matanya.


"Aku akan bantu kamu buat sembuh. Aku bakal carikan dokter terbaik yang bisa menyembuhkan kamu. Kamu pasti bisa mendengar lagi. Kita belum mencobanya,"kata Ega yakin.


"Bahkan aku nggak tahu kamu ngomong apa. Aku harus bagaimana?"


Sekuat tenaga Ega berusaha mencoba menahan dirinya agar tetap kuat dihadapan tunangannya. Ia kembali memeluk Zahra yang masih terus menangis.


Ketukan pintu membuat Ega melepaskan pelukannya. Saat ia menoleh dilihatnya Mila, sekretarisnya di kantor berdiri di depan sana.


"Masuklah," ucap Ega mempersilakan.


Dengan ragu perempuan yang berstatus sekretaris Ega itu melangkah mendekati atasannya yang sedang duduk di ranjang tempat Zahra di rawat.


"Apa kamu membawa permintaanku?" tanya Ega.


"Iya, Pak. Ini, maaf membuat Bapak menunggu lama," ucap Mila mengangsurkan paper bag berlogo restoran cepat saji kepada Ega.


"Terimakasih." Lelaki itu menerimanya dan meletakkan paper bag itu di nakas dekat tempat tidur Zahra.


"Apa Babak memerlukan yang lainnya?" tanya Mila.


"Tidak, terima kasih."


Dari tempatnya, Zahra hanya diam memperhatikan interaksi keduanya. Ia dapat melihat dari tatapan mata perempuan itu ada sesuatu yang lebih dari sekedar atasan dan sekretaris.


"Sayang, kamu mau makan? Kamu belum makan dari tadi pagi, kita makan ya?" ajak Ega.


Zahra hanya diam tak menyahut apa yang diucapkan Ega. Memperhatikan wajah lelaki itu dan menggeleng setelahnya.

__ADS_1


"Kamu harus makan, Sayang." Ia mengambil paper bag berisi makanan yang dibawa sekretarisnya.


"Mila, kamu bisa kembali ke kantor kalau sudah tidak ada keperluan lagi denganku," kata Ega.


"Baik, Pak. Saya permisi." Ia menganggukkan kepala memberi hormat pada Zahra yang dibalas pula dengan anggukan kepala.


Mila berjalan meninggalkan keduanya di dalam ruangan. Begitu pintu tertutup ia mengambil napas panjang dan memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak. Seakan-akan oksigen tak mencukupi kebutuhan paru-parunya.


"Tuhan... kenapa sakit sekali? Kenapa aku harus menyukai calon suami orang?" guman Mila dengan mata berkaca-kaca.


Ia melangkahkan kakinya dengan perlahan meninggalkan rumah sakit. Dalam benaknya bermunculan pikiran-pikiran jelek untuk memisahkan Ega dan tunangannya.


"Haruskah aku menggagalkan pertunangan mereka?"


"Ya. Kali ini aku ingin egois. Aku ingin mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku."


Dengan tekadnya, Mila seperti kerasukan setan ingin merusak hubungan atasannya dengan Zahra.


Di dalam otaknya telah tersusun rencana demi rencana yang akan segera ia lakukan. Semakin cepat ia melakukannya semakin cepat pula mereka akan berpisah.


Ia bertekad akan melakukan segala cara. Dan pastinya akan ia lakukan dengan rapi tanpa menimbulkan kecurigaan orang lain.


Di dalam kamar rawatnya, Zahra masih terdiam dan menolak suapan yang diberikan Ega padanya. Dengan sabar lelaki itu membujuk Zahra layaknya anak kecil.


"Aku nggak lapar. Jangan memaksaku," ucap Zahra untuk kesekian kalinya.


"Sedikit saja. Kamu butuh tenaga untuk lekas sembuh, Sayang."


"Ega, kenapa kamu tetap baik padaku? Kenapa kamu gak tinggalkan saja aku yang cacat ini? Ada banyak perempuan yang menyukaimu. Dan lebih pantas bersanding dengamu." Kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir pucat Zahra saat mengingat pandangan sekretaris tadi terhadap calon suaminya.


"Kenapa kamu seperti ini lagi, Sayang?" tanya Ega kecewa.


"Apa kamu ingin meninggalkan aku seperti mama, papa, dan adikku?"


"Apa kamu akan meninggalkan aku juga?" cerca Ega.


Zahra ketakutan melihat sorot mata Ega yang menajam dan penuh amarah. Ia beringsut memundurkan kepalanya. Ia menyadari lelaki di hadapannya tengah marah meski ia tak mampu mendengar apa yang ia katakan.


"Apa kamu ingin kita berpisah?" tanya Ega lagi.

__ADS_1


Ia melupakan bahwa kekasihnya tak dapat mendengar apapun yang ia ucapkan.


...****************...


__ADS_2