Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
78. Back to Village


__ADS_3

Maaf ya teman-teman dan readers setia cerita aku yang ini. Karena aku masih harus fokus di Real life, jadi, untuk sementara aku hiatus dulu. Nanti sesekali aku bakal up lanjutannya. Karena jujur aku pengen banget nulis cerita ini sampai end.


Buat kalian yang setia sama Zahra, Ega, Rio, Zakia, Ayah Ir, Papa Adnan, Bunda Ratih, Bibi Dewi, Mama Rossa dan tokoh-tokoh yang lain, aku harap kalian selalu setia menunggu mereka kembali.


*****


Kembali Zahra menikmati sejuknya udara pedesaan. Pemandangan pegunungan di ujung utara rumahnya tergambar indah di pagi hari. Sungguh ciptaan Maha Kuasa yang begitu sempurna.


Gadis itu tengah duduk di kursi malas di balkon kamarnya. Menikmati udara pagi yang masih menusuk tulang. Meski cahaya matahari sudah menerpa bumi, dinginnya udara di Tumpang masih belum terkalahkan.


Setelah puas menikmati indahnya ciptaan Sang Maha Kuasa, ia bergegas menuruni tangga. Tujuannya adalah dapur, tempat sang bunda biasa menghabiskan waktu senggangnya.


"Pagi, Bun," sapa gadis itu.


"Pagi. Kok ke sini? Ndak istirahat?" tanya sang bunda.


"Bosen, Bun. Lagian aku udah baikan kok," jawab Zahra.


"Tanganmu masih sakit, Nduk. Jangan dibuat banyak gerak dulu, untuk sementara kamu istirahat saja," perintah sang bunda.


"Ya sudah, aku duduk sini nemenin Bunda deh." Zahra mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


Sambil sesekali memperhatikan sang bunda yang dengan cekatan memotong bahan makanan.


"Bun, aku pengen ke sawah," ucap Zahra tiba-tiba.


"Mau ngapain?" tanya sang bunda.


"Pengen nangkep iwak wader (ikan wader) di kali (sungai) di belakang rumah Bulek Dewi, Bun."


"Ya sesuk (besok) kalau tanganmu sudah sembuh, lukanya sudah kering."


"Ya masih lama, Bun. Aku pengennya sekadang. Ya, Bun, ya," rengek Zahra.


"Kakean polah awakmu iku, Nduk," ujar bunda menggelengkan kepalanya.


(Kebanyakan tingkah kamu itu, Nduk.)


"Bunda mah gitu, boleh ya, Bun. Bosen loh aku di rumah gak ngapa-ngapain," keluh Zahra dengan nada merengek.

__ADS_1


"Iya-iya. Tapi hati-hati, jangan sampai luka di lenganmu kena air kali (sungai)."


"Hehehehe. Siap bu bos. Setelah sarapan kita ke sana ya, Bun?"


"Iya. Kamu ini kok kayak anak kecil sih. Padahal udah mau nikah sama Ega," ejek bunda.


"Biarin, nanti kalau misal aku menikah kan belum tentu bisa manja-manja sama bunda," ucap Zahra dengan nada yang tidak seceria tadi.


"Halah-halah, meski kamu menikah juga kamu tetep anak Bunda. Tetep bisa manja sama Bunda. Udah ayo sarapan aja."


Mereka berdua menikmati sarapan yang sedikit kesiangan. Karena jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi lewat beberapa menit.


"Efel nggak sarapan, Bun?" tanya Zahra di sela-sela mereka menikmati sarapan.


"Adikmu sudah berangkat pagi-pagi sekali tadi bareng sama ayah balik ke Surabaya," jawab bunda.


"Tumben?"


"Ayahmu ada meeting sama investor katanya. Jadi meruput budal e (berangkat sangat pagi)."


Setelah selesai sarapan, Zahra membantu sang bunda membersihkan meja dan peralatan makan. Meski mendapat larangan dari sang bunda ia tetap ngeyel tidak mau mendengar.


Sepanjang perjalanan mereka bertemu banyak tetangga dan saling bertukar sapa. Tak jarang mereka berhenti sejenak hanya untuk saling bertukar kabar.


Keakraban di desa seperti ini hampir tidak pernah ia jumpai selama tinggal di kota. Mayoritas tetangganya adalah orang-orang sibuk yang berangkat pagi pulang malam. Sehingga tidak ada waktu untuk saling bertukar sapa seperti yang dilakukan bundanya sekarang.


"Iki anak mbarepmu iko tah, Rat? Cocok iki tak pek mantu, gae anakku si Bagas," ucap salah satu tetangga yang saat itu berpapasan di jalan.


(Ini anak pertamamu ya, Rat? Cocok ini aku jadikan menantu untuk anakku si Bagas.)


"Wis due calon, Mbak Yu," jawab bunda Ratih.


"Lhoalah. La jarene Yu Dewi sik gurung due bakal. Si Bagas kae kerjone wis mapan ono ndek Sidoarjo kono. Due omah dewe wisan ndek kono. Arek e tak omongi lekne Zahra sik gurung due bakal. Arek e karep karo anak e samaen Mbak Yu."


(Lhoalah. Lah katanya Mbak Dewi masih belum punya calon. Si Bagas itu kerjanya juga sudah mapan di Sidoarjo sana. Punya rumah sendiri juga di sana. Dia aku kasih tahu kalau Zahra belum punya calon. Dia setuju kalau sama anak kamu Mbak.)


"Maaf ya, Mbak Yu. Anakku sudah ada yang meminta. Jadi ya ndak mungkin mau di jodohkan sama anaknya Mbak Marni," ucap Bunda Ratih dengan perasaan sungkan pads temannya itu.


Si ibu yang merasa anaknya ditolak oleh Bunda Ratih menampakkan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Permisi dulu ya, Mbak Yu," pamit Bunda Ratih.


Keduanya lalu melanjutkan perjalanan mereka yang tinggal sedikit lagi menuju rumah Bibi Dewi.


"Haduh, ternyata lumayan jauh ya jalannya," keluh Zahra begitu mereka sampai di halaman rumah Bibi Dewi.


Ia langsung menduduki kursi yang ada di halaman rumah. Meluruskan kakinya yang terasa pegal.


"Itu tandanya kamu kurang olahraga. Jalan sebentar saja sudah ngeluh," jawab Bunda Ratih.


"Bunda masuk dulu, mau lihat bulekmu," ucap Bunda Ratih.


Sepeninggal sang bunda, gadis itu merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Mengecek notifikasi yang masuk.


Beberapa pesan dan panggilan dari sang tunangan membuatnya tersenyum. Lelaki itu selalu panik jika ia tidak segera membalas pesannya.


Gadis itu mengetikkan pesan balasan pada lelaki yang tengah menunggunya balasannya. Mengatakan jika dirinya tadi sedang berada di jalan dan tidak merasakan kalau ponselnya bergetar.


*****


"Kita harus teror lagi Zakia. Biar dia mundur ninggalin Rio juga Haikal," ucap seorang perempuan


"Ya. Ingat! Jangan sampai kamu melukai Zakia lagi. Atau kamu yang akan aku lukai," jawab lawan bicaranya dengan jelas suara yang terdengar kalau dia laki-laki.


"Kamu berani melukaiku? Sayang, kamu ingat? Papaku anggota dewan loh. Atau aku bilangin sama Alena kalau kamu pernah main sama aku," ancam si perempuan.


"Baiklah, terserah dirimu. Aku hanya minta jangan lukai Zakia," pinta laki-laki itu.


"Tidak masalah. Asalkan Haikal tidak lagi mengejarnya. Gara-gara pacarmu juga yang menyuruh nidurin Zakia, Haikal jadi ngejar cewek itu dan mencampakkan aku begitu saja. Dan kamu harus tanggung jawab atas perbuatan Alena."


"Aku akan membantumu. Aku ingin Zakia bersamaku. Apapun caranya aku harus mendapatkan dia."


Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Devan mendengarkan semua obrolan orang yang berada di dalam rumah kontrakan itu. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah.


Dari suaranya, Devan sangat kenal dengan suara-suara itu. Ia tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran teman-temannya itu. Sungguh ia tak menyangka punya teman kriminal.


Sebelum ketahuan Devan segera pergi meninggalkan rumah kontrakannya. Ia menghubungi Raka dan juga Rio untuk menyampaikan apa yang ia dengar barusan.


Ia segera menuju bengkel Rio setelah sang empunya bengkel menyuruhnya ke sana. Ia memacu dengan kencang motornya menuju bengkel yang letaknya cukup jauh dari kontrakan.

__ADS_1


******


__ADS_2