Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
35. Down


__ADS_3

Ega tergopoh-gopoh menyusuri lorong rumah sakit. Karena pekerjaannya yang menumpuk mau tak mau ia harus menyelesaikannya terlebih dahulu.


Saat Rio mengabari pun ia sedang meeting dengan direktur. Dengan kekhawatiran yang terlihat jelas pada raut wajahnya ia memperhatikan setiap nomor kamar rumah sakit itu, hingga ia sampai di ujung ruangan dengan nomor kamar yang sama dengan yang Rio beritahukan.


Tanpa mengucap salam lelaki itu langsung masuk dan mengejutkan orang-orang yang berada di dalam ruangan. Termasuk Zahra yang hampir saja terlelap.


Mereka yang menyadari kekhawatiran Ega dengan sendirinya memberikan ruang untuk mereka berdua, Zakia yang kebetulan berada di situ bersama Rio dan Bu Ratih secara perlahan meninggalkan Zahra dan Ega.


"Kenapa bisa begini? Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ega dengan memegang dan menciumi tangan Zahra yang bebas dari infus.


Zahra hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kamu kenapa ke sini?" tanya Zahra.


Ia menarik tangannya yang ada dalam genggaman Ega. Lelaki itupun terkejut dibuatnya.


"Kenapa?" tanya Ega.


"Aku enggak pantas buat kamu, Ga. Aku kotor. Di-dia udah mengotori aku," ucap Zahra disela tangisannya yang tidak bisa ia bendung.


"Apa maksud kamu? Ceritakan yang sebenernya, Sayang," pinta lelaki itu.


Ega kembali menggenggam tangan Zahra. Ia mengusap lelehan air mata yang terus membasahi pipi mulus gadis yang terbaring lemah itu.


"Dia hampir menyentuhku. Aku udah kotor, Ga. Aku gak suci lagi!" ucapan Zahra pilu.


Ega benar-benar terkejut dan sangat marah mendengar Zahra mengucapkan itu. Wajahnya mengeras ingin sekali menghajar b*jing"n si*l*n itu. Namun ia sadar, Zahra lebih penting dari itu.


"Di mana dia menyentuhmu?" tanya Ega menahan emosinya.


Zahra menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin mengingat kejadian itu. Ia hanya bisa menangisi dan meratapi apa yang telah terjadi padanya.


Ega mendekatkan dirinya pada Zahra yang terbaring. Menyatukan keningnya dengannya.


Zahra sendiri memilih menghindar dengan menolehkan kepalanya ke samping. Ia tak sanggup melihat Ega.


"Sayang, lihat aku," pinta Ega menegang dengan kedua sisi kepala Zahra agar ia bisa melihat wajah gadis itu.


"Dengarkan aku baik-baik. Aku, sangat mencintaimu. Tak peduli apapun yang terjadi padamu. Bagiku, kamu tetaplah Zahraku, kamu hanya milikku dan hanya untukku. Jangan pernah berpikiran kamu tak pantas untukku. Hanya kamu yang aku mau, hanya kamu yang pantas bersamaku. I love you."


Ega menyatukan bibirnya dengan Zahra. Menunggu gadis itu yang masih terdiam dengan tangisannya. Ia pun merasakan sakit di dadanya melihat orang yang dicintainya sepeti ini.


Ega mengangkat kepalanya untuk melihat wajah ayu Zahra. Mengusap pipi gadis itu yang masih dihujani air mata.

__ADS_1


"Aku mohon sama kamu. Jangan pernah berfikiran seperti itu lagi. Itu membuatku sakit," tutur Ega.


Lalu lelaki itu mendaratkan kecupan yang panjang di dahi Zahra. Gadis itu memejamkan matanya. Menikmati kehangatan dan kenyamanan yang ia dapat dari perlakuan Ega padanya.


"Nak Ega," panggil Bu Ratih dari depan pintu.


Ega yang masih dengan posisi membungkuk di atas Zahra segera mengangkat tubuhnya. Wajahnya memerah malu.


"Ehm, maaf, Tante," ucap Ega sungkan.


Ibunda dari gadisnya itu hanya tersenyum.


"Rio memanggilmu. Biar Tante yang menjaga Zahra," ucap beliau.


Ega mengangguk sebagai jawaban.


"Aku temuin Rio dulu ya," pamitnya pada Zahra yang dijawab gadis itu dengan anggukan kepala.


"Permisi, Tante," ucapnya begitu melewati Bu Ratih yang berdiri di sampingnya.


Ega mendapati Rio dan Zakia duduk berdampingan di kursi tunggu depan ruang rawat Zahra.


"Apa kalian udah tau?" tanya Ega begitu duduk di samping Rio.


"B*jing*n itu hampir memperkosa Zahra," jawabnya penuh emosi. Ia mengepalkan tangannya hingga jari-jarinya memutih.


"Ya. Tadi Niena dan Dea udah kasih tau aku. Sebelum Zahra pingsan Niena sama Dea sempat berkunjung dan Zahra menceritakan semuanya pada mereka."


Zakia yang berada di samping Rio hanya mampu menutup mulut karena keterkejutannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Zahra saat ini.


"Aku udah mengurus semuanya. Aku pastikan dua b*jing*n itu membusuk di penjara."


"Ya! Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal," balas Ega.


Seorang dokter dan perawat terlihat berjalan menuju ke arah mereka bertiga. Dokter itu sama dengan dokter yang tadi siang menangani Zahra. Dokter itu mengangguk sekilas pada mereka bertiga dan langsung memasuki kamar rawat Zahra.


"Selamat malam, Zahra, malam Ibu, saya akan melakukan pemeriksaan rutin," sapa dokter itu.


"Silahkan, Dok," jawab Bu Ratih.


Dari luar, ketiga orang yang berada di luar ikut masuk di belakang dokter dan perawat. Memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Dokter Arga.


"Syukurlah, sudah lebih baik dari tadi siang. Harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran ya," kata Dokter Arga setelah selesai melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


"Makasih, Dok," jawab Zahra lemah.


Arga memperhatikan wajah Zahra. Terlihat masih ada bekas air mata di sana. Juga mata Zahra yang merah dan sembab. Hal itu membuatnya langsung menoleh pada ketiga orang yang ada di dekat tempat tidur Zahra.


Ia menebak pasti Ega yang membuat Zahra menangis. Ia menatap sinis pada ketiga orang di sana. Lalu berpamitan pada Zahra dan Bu Ratih. Saat melewati ketiga orang itu Arga hanya mengangguk sebagai formalitas karena ia masih dalam jam kerja.


"Kok dokternya aneh gitu ya," celatuk Zakia.


"Ya. Dia bersikap seperti itu padaku dan Ega," jawab Rio.


"Kenapa?" tanya Zakia yang mewakili rasa penasaran Ega juga.


"Kita ngobrol di luar aja, biar Zahra istirahat," ajak Ega.


Mereka bertiga kembali duduk di kursi depan ruang rawat inap Zahra. Menunggu untuk Rio melanjutkan ceritanya.


"Eleng a umak, tidak bisakah aku memberitahumu bahwa kamu di sekolah menengah adalah e Arga? tanya Rio.


(Kamu inget nggak sama temen kita waktu SMP namanya Arga?)


"Eleng. Arek lemu sing biasane dibelani Zahra lek digudo arek-arek iku kan?"


(Ingat. Anak gendut yang biasanya dibela Zahra kalo digodain anak-anak itu kan?"


"Iyo. Ikumaeng arek e, dokter sing mrikso Zahra iku Arga."


(Iya. Tado anaknya, dokter yang meriksa Zahra itu Arga.)


"Ikumaeng Arga? Wih. Berubah yo arek e. Tapi aku ngeroso arek ikumang sinis. Opo o?"


(Itu tadi Arga? Wih. Berubah ya dia. Tapi aku ngerasa dia kayak sinis gitu. Kenapa?)


"Iyo. Maeng aku krungu arek e ngomong. Intine arek e berharap Zahra ngenali arek e. Ambe lek tak delok arek iku seneng nang Zahra. Awak e kudu luweh ati-ati njogo Zahra."


(Iya. Tadi aku dengar dia ngomong. Intinya dia berharap Zahra ngenalin dia. Dan kalau aku lihat dia itu suka sama Zahra. Kita harus lebih hati-hati menjaga Zahra.)


"Opo biyen sak durung e aku balik, Zahra yo diuber-uber arek lanang koyok ngene?"


(Apa dulu sebelum aku kembali, Zahra juga di kejar-kejar laki-laki gini?)


"Ora tau. Arek e gak tau cedek ambe arek lanang sak jek e umak tinggal minggat."


(Tidak pernah. Dia tidak pernah dekat dengan seorang pria sejak kamu baru saja pergi.)

__ADS_1


Ega mengusap kasar wajahnya. Tidak menyangka kehadiran dirinya membuat Zahra jadi seperti ini. Ia bertekad untuk menjaga Zahra apapun yang terjadi.


__ADS_2