
Satu minggu sudah Ega melakukan perjalanan dinasnya ke Jakarta. Selama itu ia selalu rutin menghubungi Zahra setiap ada waktu luang. Seperti saat ini keduanya tengah bertukar pesan.
Zahra tengah duduk di meja makan warung seberang bengkel bersama Rio dan Dimas. Gadis itu mengabaikan dua lelaki yang sedari tadi memperhatikannya.
"Ra, makan dulu," tegur Rio.
"Hem," jawab Zahra tapi ia tetap memainkan ponselnya.
"Dasar bucin dah. Makan tuh cinta. Kaga bakalan kenyang," ucap Rio lagi.
Dimas sendiri sedari tadi tak hentinya memandangi wajah Zahra. Memperhatikan setiap gerak gerik gadis di depannya itu dan mengamati perubahan mimik wajahnya yang berubah-ubah. Terkadang senyum, sesaat berubah cemberut, sesaat lagi menggeram sebal. Semua itu tak luput dari perhatian Dimas.
Ada rasa sakit yang teramat dalam di lubuk hati Dimas saat melihat wajah bahagia Zahra. Tapi apa boleh buat, Zahra bahagia dengan pilihannya. Ia akan merelakan cintanya, menguburnya dalam-dalam, dan berusaha menganggapnya hanya temannya.
"Woy! Ini juga! Ngeliatin apaa? Dim!" seru Rio membuyarkan lamunan Dimas.
"Apaan?" tanya Dimas beralih menatap Rio yang duduk di depannya.
"Jangan bilang kamu dari tadi merhatiin Zahra ya?" tuduh Rio.
"Kalo iya kenapa?"
"Wah cari mati nih anak ayam! Kugites juga dah! Inget dia udah ada yang punya!" Rio memperingatkan Dimas yang diabaikan temannya itu.
"Kalian ngapain sih? Udah belum makannya? Balik yuk?" kata Zahra memperhatikan dua lelaki di depannya itu.
Mereka bertiga berdiri, meninggalkan warung tersebut. Zahra diapit kedua lelaki itu di samping kanan kirinya saat menyeberangi jalan raya.
Zahra kembali ke ruangannya melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Rio dan Dimas melayani pelanggan yang baru datang.
Di ruangannya, ia sedang melakukan panggilan viedo dengan Syifa dan Alia. Teman-teman Zahra di perusahaan tempatnya bekerja dulu.
"Ra. Si Bian nanyain kamu terus loh, dia ada hubungin kamu ga?" tanya Alia di seberang sana. Di samping Alia ada Syifa yang sedang makan siang.
"Dia sering chat aku di WA. Tapi engga pernah aku balas," jawab Zahra
__ADS_1
Ia meletakkan ponselnya di samping tumpukan buku sehingga ponselnya bisa berdiri tanpa harus di pegang.
"Kasian tahu, Ra. Dia ga bisa move on dari kamu deh," ucap Alia lagi dan diangguki oleh Syifa.
"Kan kamu suka sama dia, Al. Ya coba kamu deketin lah," jawab Zahra.
"Ngga semudah itu, Ra. Dari dulu kan kamu tahu, dia ngga pernah memandang aku seperti dia memandang dirimu."
"Jangan sedih gitu, Al. Kamu belum mencobanya, harus semangat. Alia yang ceria ga pantes deh kalo sedih gitu," ucap Zahra memberi semangat temannya itu.
Syifa yang selesai dengan makan siangnya ikut nimbrung di obrolan Zahra dan Alia. Ketiga gadis itu tak membicarakan banyak hal karena jam istirahat keduanya telah habis.
Zahra kembali melanjutkan aktifitasnya. Tak banyak pekerjaan yang di lakukan hari ini. Dan itu membuatnya bosan. Ia memilih bermain game di ponselnya sembari mengisi kebosanan. Namun hal itu tak bertahan lama.
Akhirnya Ia memutuskan keluar dari ruangannya. Melihat para karyawan Rio bekerja. Ada yang sedang mencuci mobil atau motor, ada pula yang sedang memperbaiki mobil. Memang bengkel Rio ini bisa di bilang sangat besar. Ia memiliki beberapa cabang di daerah Malang.
******
Setelah makan malam Zahra memilih segara masuk ke dalam kamarnya. Ia buru-buru mengambil ponselnya yang sedang di isi daya baterainya. Ia mencabut kabel isi daya dari colokannya, karena ponselnya sudah terisi penuh.
Ia mengecek aplikasi pesan. Namun ternyata ia harus menelan kekecewaan karena tidak ada satupun pesan dari Ega. Ia menarik nafas panjang, menghembuskan perlahan untuk menenangkan dirinya.
Dia mungkin masih sibuk. Jadi belum bisa ngehubungin aku, Zahra berkata sendiri untuk menguatkan tubuh dan pikirannya.
Ia membuka beberapa pesan yang masuk di ruang obrolannya. Membalas pesan dari Niena dan Dea, selebihnya hanya ia biarkan.
Hingga tengah malam Zahra masih menunggu pesan dari Ega. Kemarin malam bahkan mereka sempat video call sebentar. Tapi hari ini bahkan sore pun Ega tak mengabarinya. Ini membuat pikirannya tidak tenang dan kembali cemas.
Akhirnya ia memberanikan diri mengirim pesan terlebih dahulu. Ia mengetikkan beberapa kata yang sekiranya tepat untuk di kirimkan pada Ega. Namun akhirnya ia mengurungkan niatnya. Menghapus kata-kata yang sudah ia tulis.
Ia beralih pada stastus story. Ia memilih menuliskan kata-kata di sana sebagai statusnya.
haruskah menunggu lagi?
aku lelah jika kembali menunggu.
__ADS_1
Tak berapa lama ada beberapa pesan masuk mengomentari status yang ia buat.
Niena: positif thingking, Ra. Sana istirahat.
Bian: kamu kenapa Ra?
Go Rio2 : Jangan banyak pikiran Ra. Dia lagi kerja.
Dea: ulu ulu .. yang lagi kangen. Jan nething, Say. Dia lagi kerja jangan dipikirin mulu.
Dan masih banyak lagi pesan yang masuk setelah itu. Tanpa berniat membalasnya, ia meletakkan ponselnya di atas kasur.
Gadis itu membaringkan tubuhnya. Menghadap langit-langit kamarnya. Ia mulai mengingat-ingat kejadian-kejadian saat dulu masih sekolah dasar.
Saat itu Zahra sedang belajar sepeda roda dua. Karena ia takut jatuh, Zahra kecil tidak mau menaiki sepedanya. Ia memilih mendorong sepedanya mengikuti Ega yang telah bisa bersepeda. Namun tiba-tiba Ega menghentikan sepeda kecilnya saat melihat Zahra berlari menuntun sepeda.
Ega kecil memarkirkan sepedanya sembarangan dan menghampiri Zahra kecil. Menyuruh Zahra menaiki boncengan di sepedanya dan Ega yang memboncengnya. Mereka berdua tertawa bersama bermain sepeda berboncengan mengelilingi sekitaran komplek rumahnya.
Zahra tersenyum mengingat masa kecilnya dengan Ega. Ia merindukan masa-masa seperti itu. Mungkinkah saat ini ia bisa merasakan kembali indahnya bermain sepeda berdua dengan Ega?
Ingin sekali gadis itu mengulang kembali masa-masa di mana ia selalu tertawa dengan Ega.
Lama kelamaan Zahra tertidur dengan membayangkan masa-masa kecilnya. Gadis itu tidur dengan memeluk gulingnya. Masuk ke dalam alam mimpi yang tengah menunggunya.
******
Makasih banyak kalian udah baca sampe sini..
Aku minta tolong like, komen, dan vote jika kalian berkenan. karena novelku ini aku ikutin kontest You Are a Writer Season 3
aku ikutan kontes ngga berharap menang sih. saingannya terlalu berat. tapi seenggaknya aku belajar biar bisa menuhin target yang di tentukan buat lomba. biar aku gak molor terus updatenya. hehehe
aku minta dukungannya yaa.. biar makin semangat nulisnya.. kasih aku masukan buat cerita aku ini juga boleh bangeet.. karena aku juga butuh masukan dari kalian..
makasih banyak atas dukungannya.
__ADS_1
Salam sayang****
kiki rizki