Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
54. Papa Mertua (Masih Calon)


__ADS_3

Setelah sampai di parkiran bandara, mereka berjalan memasuki area penjemputan yang berada di lantai dua bandara. Duduk di salah satu kursi tunggu di sana.


Masih sekitar tiga puluh menit lagi Papa Ega landing. Masih dengan mode diamnya. Zahra tetap mengabaikan lelaki yang duduk di sampingnya.


Berkali-kali lelaki itu mendapat kibasan tangan saat hendak memeluk pundak kekasihnya.


"Sayang, malu ih dilihat orang. Kelihatan loh kamu lagi ngambek," bujuknya masih gigih berusaha.


"Biarin! Gak peduli. Gak kenal sama mereka."


"Gitu banget sih. Udah dong marahnya. Masak kamu mau ketemu papa mukanya ditekuk - tekuk gitu?"


"Maafin dong. Gak main gemol lagi deh kalo sama kamu. Janji," lanjut lelaki itu dengan mencolek - colek hidung Zahra.


"Palingan kalau malem kamu sering gak bales chat gitu sibuk sama gemol-mu itu," tuduh Zahra.


"Hehehe. Kadang-kadang."


"Tau ah, ngeselin emang. Pacaran aja sana sama game."


"Kamu kok gemesin sih. Cemburu kok sama game, jadi makin cinta."


"Heleh! Gak mempan. Gak usah nggombal (jangan membual)."


"Serius. Aku cintanya cuma sama kamu aja. Gemol-nya nomor dua."


Pemberitahuan yang terdengar menggema di seluruh ruangan membuat fokus mereka teralihkan. Terlihat dari kejauhan sebuah pesawat mendarat perlahan.


"Kayaknya itu pesawat yang papa naikin. Sekarang udah jam sebelas," kata Ega setelah melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya.


Zahra mulai terlihat gugup. Sedari tadi ia tak memikirkan bagaimana nanti jika bertemu dengan Papa Ega.


Gara-gara acara ngambeknya ia jadi melupakan hal itu. Sekarang dia sendiri yang mulai keder. Takut salah bicara atau membuat malu dirinya sendiri.


Para penumpang pesawat mulai terlihat memasuki area terminal. Ega pun mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia rindukan beberapa bulan ini.


Akhirnya pandangan matanya tertuju pada seseorang berkemeja yang menarik koper kecil berjalan di antara kerumunan orang.


"Ayo," ajak Ega.


Ia menggandeng tangan Zahra, mengajaknya menghampiri pria paruh baya itu.


"Pa, di sini," panggil Ega melambaikan tangannya.


Lelaki paruh baya itu menghampiri mereka beruda. Ega memeluk papanya dengan erat. Menyalurkan kerinduan kepada satu-satunya orang tua yang ia punya.


"Papa sehat?" tanyanya.


"Alhamdulillah. Selalu sehat. Kamu gak memperkenalkan gadis cantik ini?" tanya pria itu.


"Dia Zahra, Pa," ucap Ega.


"Zahra? Teman kecilmu? Anaknya Irawan?" tanya pria itu.


"Iya, Om." Zahra mengulurkan tangannya menyalami Papa Ega.


"Calon mantuku?" godanya.


Gadis itu salah tingkah oleh ucapan Papanya Ega. Lelaki itu tersenyum melihat gadis di sampingnya tersipu malu.

__ADS_1


"Ayo, Pa," ajak Ega, mengulurkan tangannya untuk meminta koper kecil yang id bawa sang papa.


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Ega merangkul erat pundak kekasihnya. Meski mendapatkan penolakan, ia tetap merangkulnya. Hingga Zahra lelah sendiri dan membiarkannya.


Sepanjang jalan menuju parkiran ayah dan anak itu saling mengobrol. Menanyakan hal-hal sepele kegiatan mereka sehari-hari.


Mereka memasuki sedan hitam Ega. Zahra mempersilahkan calon papa mertuanya untuk duduk di depan.


Mobil itu melaju meninggalkan bandara Abd. Rahman Saleh. Membelah jalanan yang cukup ramai siang hari ini. Beberapa kali mereka terjebak kemacetan kecil.


Cuaca yang sangat terik tak membuat warga malas untuk memadati jalanan kota Malang. Banyak kendaraan roda dua yang saling berebut untuk membelah kemacetan.


"Macetnya sama kayak Surabaya ya di sini," ucap Papa Ega.


"Mungkin karena hari libur, Pa. Hari biasa gak semacet ini," jawab Ega.


"Zahra, ayahmu bagaimana kabarnya? Sudah lama saya gak ketemu sama dia," tanya Papa Ega.


"Alhamdulillah, ayah sehat, Om," jawab Zahra.


"Katanya calon mantu. Kok manggil om? Panggil Papa juga lah, dibiasakan mulai sekarang."


Ega melihat dari kaca spion yang ada di tengah. Gadis yang duduk di bangku belakang itu terlihat salah tingkah.


"Masih tetap di Surabaya?"


"I-iya, Pa. Pulangnya setiap dua minggu sekali."


"Masih tinggal di perumahan yang dulu?"


"Udah pindah dia, Pa. Sekarang tinggal di Tumpang."


"Kok kita ke sini?" tanya Zahra.


"Loh? Kamu belum pernah mengajak Zahra ke rumah?" tanya Papa Ega.


"Aku ngontrak, Pa. Kejauhan kalo dari sini ke kantor atau ke rumah Zahra. Jadi aku nyari kontrakan yang deket kantor sama deket Zahra," Ega menjelaskan.


Sang papa hanya geleng-geleng kepala begitu tahu tingkah sang anak. Di bangku belakang Zahra merasa bodoh tidak mengetahui apapun tentang Ega. Salahnya sendiri ia terlalu egois tidak pernah menanyakan apapun pada lelaki itu.


Mobil Ega berhenti di sebuah rumah mewah bercat putih. Rumah yang sangat megah dan indah. Zahra dibuat ternganga mengetahui rumah indah ini milik keluarga Ega.



(sumber internet)


"Ayo turun," ajaknya.


Mereka bertiga turun, memasuki rumah megah itu. Ia benar-benar tak menyangka, menginjakkan kaki di rumah mewah ini. Meski rumahnya sendiri terbilang mewah, dibandingkan dengan rumah Ega terlihat sangat jauh tingkat kemewahannya.


"Ayo, Sayang. Ngapain berhenti di sini?" Ega kembali menghampiri Zahra yang masih terdiam tidak jauh dari mobil.


Sang papa telah masuk rumah dan berpamitan untuk istirahat.


"Aku merasa beda kasta sama kamu kalau kayak gini," kata Zahra jujur.


"Halah. Nggak ada namanya kasta di hidupku. Ayo."


Ega merangkul Zahra mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ruang tamu yang sangat luas dan nyaman menyambut kedatangan Zahra.

__ADS_1


Mereka menuju salah satu sofa dan mendudukinya. Ega duduk di samping gadisnya masih tetap dengan merangkul pundaknya.


"Kamu hutang cerita lagi sama aku," kata Zahra.


"Iya, nanti aku cerita. Kamu mau nggak masak buat makan siang kita?" tanya Ega mengalihkan pikiran negatif dalam pikiran Zahra.


Gadis itu menolehkan pandangannya pada lelaki di sampingnya.


"Dari pada beli di luar. Kasian papa kayaknya juga masih lelah. Kamu yang masak ya, Sayang. Bunda bilang kamu jago masak," bujuk lelaki itu.


Zahra terdiam, memikirkan permintaan Ega. Jika ia mengiyakan, pikirannya membayang hal - hal jelek seperti merusak alat masak mewah yang ada di dapur. Tapi, kalau di pikir-pikir kasian Papa Adnan kalau harus makan di luar.


"Ada bahannya emang?" tanya Zahra akhirnya.


"Ada. Ayo ke dapur," ajak Ega.


Sebelum sampai di dapur mereka melewati ruang keluarga yang cukup luas. Di sana terpampang besar foto keluarga Ega yang diambil saat lelaki itu masih kecil. Ada seorang bayi lucu yang duduk di pangkuan Mama Ega.


Mereka lanjut berjalan melewati pintu penghubung antara dapur dan ruang tengah. Pemandangan dapur mewah di depannya membuat Zahra merasa minder untuk mengotorinya.


"Kita deliveri aja ya. Nanti dapur kamu kotor kalau aku masak," ucap Zahra.


"Astaga, Sayang. Tadi kamu udah bilang iya loh ya. Sekarang kamu masak. Bahannya semua lengkap ada di kulkas," ucap Ega.


"Mau kamu bikin dapurnya berantakan enggak masalah. Yang penting kita makan masakan kamu. Mau aku bantuin atau di tinggal?" lanjutnya.


"Kamu tinggal aja," pinta gadis itu.


Ega meninggalkan gadisnya di dapur. Membiarkan ia bereksperimen di dapur rumahnya. Membuat masakan enak untuknya dan sang papa.


Setelah Ega pergi, Zahra mengelilingi dapur itu untuk mengamati dan mencari peralatan memasak yang ia butuhkan. Ia membuka pintu kulkas dan menemukan banyak sayuran segar dan bahan makanan lainnya di dalam sana.


"Kalo enggak di tempati kenapa semua bersih dan sayurannya segar semua ya?" guman gadis itu.


Lalu ia mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk di masak.


Semoga mereka suka, aku jadi bingung mau masak apa, batin Zahra.


Beberapa waktu berlalu, Zahra masih sibuk dengan masakannya. Tak menyadari jika di belakangnya tengah duduk dua orang lelaki di meja makan. Memperhatikannya yang sedang sibuk dengan masakan yang ia buat.


"Astaghfirullah," ucapnya begitu ia membalikkan badan mendapati Ega dan Papa Adnan duduk bersandar di meja bar.


"Baunya bikin Papa kelaparan," ucap lelaki tua itu.


"Meja makannya di mana?" tanyanya.


Ega meminta piring yang dibawa Zahra. Membawanya masuk ke salah satu pintu yang ada di dapur. Di sana terdapat meja makan yang tidak terlalu besar. di sampingnya ada dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan taman yang tertata indah di halaman.


Zahra dan Papa Adnan berjalan juga ke sana. Gadis itu menata semua makanannya di atas meja. Menyiapkan peralatan makan untuk mereka bertiga.





(sumber internet)


Selamat makan.

__ADS_1


*****


__ADS_2