
Ega dengan segera memeriksa keadaan Zahra yang terluka. Lengan gadis itu mendapatkan sayatan yang cukup pancang dan dalam. Darah merembes membasahi tangan gadis itu.
"Rumah sakit! Ayo cepat!" seru Ega panik melihat Zahra yang mulai memucat.
"Kunci mobil," pinta Rio.
Zakia mengambil sapu tangan yang selalu ada di dalam tasnya untuk mengurangi pendarahan pada lengan Zahra.
"Mbak Zahra!"
"Kak Zahra!" seru Efelin dan Keyla bersamaan.
Dengan sigap Ega membopong Zahra menuju mobil dan diikuti oleh yang lainnya. Rio dengan cepat memacu mobilnya menuju puskesmas yang berada di daerah sana. Karena menuju rumah sakit akan memerlukan waktu lama. Dan saat ini kakaknya membutuhkan penanganan cepat.
Sampai di puskesmas, gadis itu dibawa ke ruang IGD dan mendapatkan penanganan. Semua yang berada di sana terlihat panik dan cemas.
Di dalam ruangan, Ega selalu menemani tunangannya. Ia berulang kali meminta maaf karena tidak bisa menjaganya dengan baik.
"Aku gak papa, Ga. Jangan lebai," ucap gadis itu menenangkan tunangannya.
Perawatan pada luka Zahra berjalan lancar. Syukurlah di puskesmas itu dapat menangani luka gadis itu. Di lengan kirinya ia mendapatkan sepuluh jahitan karena lukanya cukup panjang.
Zahra dan Ega keluar dari IGD, terlihat orang-orang yang menunggu di luar dapat menghembuskan nafas lega.
"Ayo! Kita harus segera pulang, Keyla malam ini bakalan balik ke kotanya," ajak Ega.
"Mbak, gimana?" tanya Zakia sedih.
Sedari tadi ia terus menyalahkan dirinya atas musibah yang menimpa Zahra. Kalau saja gadis itu tidak melindunginya, pasti bukan dia yang sekarang merasakan sakit di lengannya.
"Gapapa, Kia. Ayo, kasihan Keyla. Nanti kemalaman," kata Zahra.
Mereka semua berjalan menuju mobil. Rio kembali melajukan mobil Ega membelah jalanan malam.
Selama perjalanan para orang dewasa itu membahas siapa yang berniat mencelakai Zakia. Dan mereka berencana untuk sementara tidak menceritakan masalah ini pada orang tua di rumah.
Sampai di rumah, ternyata kedua orang tua Keyla telah menunggu. Mereka sudah siap dengan barang bawaannya dan langsung mengajak berangkat.
"Berangkat sekarang, Yah?" tanya Keyla pada ayahnya.
"Iya, Dek, besok kan Ayah harus bekerja lagi, nanti takut kemalaman," ucap Ayah.
Dengan sigap Ega membantu membawakan barang bawaan keluarga Keyla menuju mobilnya.
"Ga, aku ikut ya," pinta Zahra.
__ADS_1
"Kamu istirahat aja di rumah, biar aku yang nganterin," jawab Ega menolak permintaan Zahra.
Zahra mendekat pada lelaki itu dan membisikkan sesuatu. Ega hanya mampu menghembuskan nafas kasar dan akhirnya membolehkan gadis itu ikut mengantar keluarga Keyla ke stasiun.
"Kereta berangkat jam berapa, Om?" tanya Ega pada omnya.
"Masih nanti jam sembilan, Ga," jawab Om Dimas.
"Dari pada telat, mending kita menunggu saja, takutnya jalanannya macet kalau tidak segera berangkat," sahut Tante Alifia.
Keyla dan orangtuanya berpamitan pada semua orang yang berada di rumah. Setelah selesai, semua keluarga Keyla masuk ke dalam mobil. Ega dengan cekatan mengemudikan mobilnya membelah jalanan yang malam itu cukup ramai kendaraan.
Mereka sampai di stasiun Kota Baru sekitar jam setengah sembilan. Setengah jam sebelum kereta datang. Sambil menunggu kedatangan kereta, mereka mengobrol membahas apa saja.
"Kak Zahra, kalau Kak Ega buat Kakak sedih laporin ke polisi aja ya," ucap Keyla.
"Loh kok polisi, Key?" tanya Zahra.
"Iya, Kak, itu tindakan kriminal karena sudah berani-beraninya mematahkan hati Kak Zahra sampai sedih," jawab gadis kecil itu.
Mereka yang mendengar Keyla sontak tertawa terbahak-bahak. Kecuali Ega, lelaki itu terlihat kesal karena tidak dapat membalas ejekan sepupunya.
Tak terasa jam keberangkatan pun tiba. Kereta yang akan membawa keluarga Keyla kembali ke kotanya juga telah sampai.
"Iya, hati-hati ya, Om, Tante, Keyla juga," jawab gadis itu menyembunyikan rasa sakitnya.
"Kalian juga hati-hati ya," ucap Om Dimas.
Begitu mereka semua memasuki kereta, Ega segera mengajak Zahra untuk kembali ke rumah. Terlihat gadis itu mulai merasakan sakit karena efek obat biusnya telah hilang.
Di rumah Ega, Rio dan Zakia masih menunggu kepulangan sang pemilik rumah.
Baru saja Zakia menerima kembali pesan dan panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Tepat saat itu Rio yang mengangkat panggilannya.
Akhirnya mereka tahu bahwa orang yang menyerang Zakia adalah orang yang menerornya kemarin untuk menjauhi Rio. Akhirnya gadis itu juga menceritakan perihal teror kemarin pada Rio dan menunjukkan nomornya.
"Kenapa kamu gak cerita?" tanya Ega penuh emosi pada Zakia.
Ia merasa karena Zakialah Zahra celaka.
"Jangan bentak - bentak pacarku!" seru Rio membalas bentakan Ega.
"Mbakmu celoko gara-gara ngelindungi arek iku! Saiki koen mbelani arek iku? Utekmu ndek endi, Yo!" Ega sudah tak mampu menahan emosinya.
(Kakakmu celaka gara-gara melindungi dia! Dan sekarang kamu membela dia? Otakmu di mana, Yo!)
__ADS_1
"Maafin aku, maafin aku," ucap Zakia yang sangat merasa bersalah.
"Ega, udah ya. Aku nggak papa kok, aku masih bisa duduk di sini sama kalian," ucap Zahra berusaha menenangkan tunangannya.
"Maaf, Sayang," ucap Ega menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Ia menutup matanya dengan salah satu tangannya. Di sampingnya Zahra mengusap lengan lelaki itu berusaha menenangkannya.
Ega terkejut saat merasakan tangan Zahra yang dingin. Reflek dia membuka matanya dan memegang dahi gadis itu.
"Sayang, kamu demam," kata Zahra panik.
Rio dan Zakia yang duduk termenung di hadapan mereka sontak terkejut dan melihat wajah Zahra yang memang sangat pucat.
"Kita ke rumah sakit ya sekarang," ajak Ega.
"Aku istirahat di rumah saja," tolak gadis itu.
Ingin sekali lelaki itu memaksa Zahra untuk ke rumah sakit. Namun, ia tak tega untuk memaksanya. Akhirnya dengan berat hati ia mengantarkan gadis itu ke kamarnya.
"Aku mau ganti baju dulu, Ga," pinta Zahra saat lelaki itu hendak membaringkannya di tempat tidur.
"Kamu bisa sendiri?" tanya Ega.
"Ada Zakia, dia bisa batu aku ganti baju. Kamu tunggu di sini aja, biar aku ke kamar mandi sama Zakia."
Zakia yang disebut namanya langsung menghampiri Zahra.
"Aku ambilkan baju kamu ya," tawar Ega yang diangguki oleh sang pemilik kamar.
Ega membuka lemari pakaian Zahra dan mencarikan baju tidur untuk gadis itu. Sayangnya benda yang pertama kali ia lihat justru membuatnya berpikiran liar. Membayangkan gadisnya memakainya dihadapannya.
"Ga!" seru Zahra membuyarkan lamunan abstrak lelaki itu.
"Ya! Eh-em. Ini di sebelah mana baju tidurnnya?" tanya lelaki itu sedikit tergagap. Wajahnya memerah dan ia tak berani membalikkan badan.
"Tumpukan loker atas," jawab Zahra.
Lelaki itu mengikuti arahan Zahra, sesekali masih mencuri-curi pandang pada benda-benda yang mengundang fantasi liarnya.
Setelah mendapat baju yang dimaksud Zahra, lelaki itu segera mengulurkannya pada Zakia yang hendak membantu Zahra membersihkan diri.
Mereka berdua berjalan perlahan karena badan Zahra yang mulai lemas. Dengan telaten Zakia menuntun calon sepupu iparnya untuk sampai di kamar mandi.
Cukup lama Ega dan Rio menunggu mereka di dalam sana. Keduanya saling diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sepertinya perselisihan paham yang terjadi tadi masih berlanjut.
"Rio! Tolong!" teriak Zakia dari dalam kamar mandi yang membuat kedua laki-laki itu terkejut.
__ADS_1