Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
39. Trauma


__ADS_3

Sudah dua hari ini Zahra mengurung diri di kamarnya semenjak ia pulang dari rumah sakit. Ia hanya keluar untuk makan jika di panggil bundanya atau adiknya. Hal itu membuat sang bunda khawatir.


"Nduk, Zahra," panggil sang bunda dari luar kamar gadis itu.


"Dalem, Bun," jawab Zahra.


(Iya, Bun)


"Ada Ega di bawah, Nduk, kamu temuin gih," kata bunda.


"Maaf, Bun. Zahra gak bisa ketemu sama Ega, Bun," kata Zahra membuka pintu.


"Kenapa toh Nduk. Kok ndak pernah mau nemuin Ega sekarang? Ada apa lagi sekarang?" tanya sang bunda mengusap pundak Zahra.


"Aku gak bisa, Bun," jawab Zahra dengan mata berkaca-kaca.


Bu Ratih menuntun Zahra kembali ke kamarnya. Mereka berdua duduk di tepian tempat tidur Zahra.


"Nduk. Lihatlah kegigihan dia. Dia selalu ada di sini saat kamu kena musibah. Bunda yakin, dia benar-benar mencintaimu. Bicarakan baik-baik dengannya," kata Bu Ratih membawa Zahra dalam pelukannya.


"Sekali saja, temuin dia ya. Beri kesempatan dirimu bahagia, Nak. Bunda ingin melihat anak-anak Bunda menemukan kebahagiaannya."


Zahra menangis dalam dekapan sang bunda. Bunda mengusap lelehan air mata yang mengalir deras membasahi pipi anaknya.


"Ayo, kasihan Ega menunggu kamu."


Zahra berdiri bersama sang bunda. Ia berjalan di belakang wanita yang telah melahirkannya itu dengan perasaan campur aduk.


"Bunda tinggal ke dalam ya," pamit Bu Ratih setelah mengantarkan Zahra menemui Ega di ruang tamu.


"Iya, Tante," jawab Ega.


Zahra duduk berhadapan dengan Ega. Ia menundukkan kepalanya tanpa berani memandang Ega. Tak mau melihat lelaki di depannya. Ia merasa malu dan tak pantas untuknya.


Ega berpindah duduk di samping Zahra. Membuat gadis itu menggeser duduknya sampai di ujung sofa.


"Kenapa menghindar sih?" tanya Ega dengan pandangan kecewa.


"Kamu nggak ingat aku di RS ngomong apa ke kamu?" lanjut Ega.


"Ingat," jawab Zahra singkat.


"Terus kenapa kamu masih kayak gini?"

__ADS_1


"Kamu nggak ngerasain yang aku rasain, Ga. Kamu tuh nggak ngerti," kata Zahra sedikit meninggikan suaranya.


"Oke, memang aku nggak tau, makanya aku mohon sama kamu, ceritakan sama aku," kata Ega memohon.


"Aku tuh ngerasa udah gak pantes buat kamu, Ga. Aku malu inget kejadian itu. Dia hampir nodain aku, dia hampir nyentuh aku, Ga," kata Zahra mengungkapkan isi hatinya.


"Sekarang aku tanya, Apa dia sampai cium kamu?" tanya Ega yang dijawab dengan anggukan kepala, karena ia ingat sekali saat lelaki jagat itu menciumi lehernya.


"Oke, dengerin aku. Apapun yang terjadi sama kamu, itu gak merubah apapun. Aku tetep cinta sama kamu. Kita akan nikah, oke?" kata Ega dengan memegang pundak Zahra.


"Buang jauh-jauh pikiran kamu itu, apapun yang terjadi, aku akan selalu di sini jagain kamu. Jadi tolong, buang pikiran kamu yang kamu bilang enggak pantas buat aku. Hanya aku yang bisa menentukan siapa yang pantas dan enggaknya."


Ega membawa Zahra dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis di dalam pelukannya.


****


Zahra tengah duduk bersama kedua orang tuanya di ruang tengah. Menantikan kedua orang tuanya yang akan bicara serius dengannya.


"Nduk, Ayah sama Bunda udah rundingan, ada baiknya kamu sama Bundamu juga Efelin pindah kampung, gimana?" Ayah memulai obrolan.


"Aku terserah apa kata Ayah sama Bunda aja, Yah," jawab Zahra.


"Kalau memang kamu setuju, secepatnya Ayah akan mengantarkan kalian ke sana, rumah di sana sudah bisa di tinggali."


"Iya, Yah. Aku setuju," jawab Zahra.


"Iya, Bunda," jawab Zahra.


"Ayah mau tanya hal lain sama kamu, Nduk," kata Ayah lagi.


"Tanya apa, Yah?"


"Kelanjutan hubunganmu dengan Ega bagaimana?"


"Aku gak tau, Yah," jawabnya.


Ia memalingkan wajahnya.Tak berani menatap kedua orang tuanya yang tengah memandangnya.


"Ayah berharap yang terbaik buat kamu, Nak. Ega lelaki yang baik. Ayah merestui jika memang kamu serius dengannya," kata Ayah.


"Aku belum memikirkan itu, Yah."


"Kamu harus memikirkannya, Nak. Usiamu sudah waktunya kamu memiliki keluarga. Sudah sepantasnya kamu memiliki imam dan lelaki yang siap menjagamu, Nak," kata Ayah.

__ADS_1


"Aku ngerasa nggak pantas untuk itu, Yah," kata Zahra menundukkan kepala.


"Kenapa kamu berfikiran seperti itu? Ayah tau yang menimpamu kemarin sangatlah membuatmu terpukul, Nak. Tapi, ayah yakin tidak ada yang membuatmu tidak pantas untuk mendapatkan pendamping hidupmu. Pikirkanlah, Nak."


"Benar yang, dikatakan Ayahmu, Nak. Bunda juga berharap kamu bisa menerima Ega," ujar Bunda.


"Aku akan memikirkannya," jawab Zahra akhirnya.


"Kami tidak memaksamu, hanya saja, Bunda dan Ayah merasa memang Ega lah yang bisa kami percaya untuk menjagamu dan membahagiakan kamu," kata bunda lagi dengan mengusap pundak Zahra.


"Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat, jangan terlalu dipikirkan. Jaga kesehatanmu juga," kata Ayah.


"Aku ke kamar dulu," Zahra berdiri meninggalkan kedua orang tuanya.


Zahra memasuki kamarnya dan mengunci pintunya. Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Memandang langit-langit kamarnya yang berwarna biru cerah.


Apa aku harus menerima Ega seperti yang Ayah dan Bunda mau?batin Zahra.


Bahkan aku merasa tidak pantas untuknya. Dia bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku.


Bukan aku tidak mencintainya. Justru aku sangat mencintainya. Dan dengan keadaanku yang seperti ini. Aku merasa hina, tidak pantas untuk siapapun.


Tanpa terasa buliran bening mengalir deras dari matanya. Kristal - kristal itu tak mampu lagi untuk dibendung. Gadis itu kembali menangis meratapi nasibnya.


Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Ponsel yang dibawakan Ega tadi sore masih tergeletak manis di atas nakas. Ia mengambil benda pipih itu. Ada panggilan masuk dari orang yang sedang ada di dalam pikirannya.


Mengabaikan panggilan itu. Zahra kembali meletakkan ponselnya. Ia kembali memandang langit-langit membiarkan benda itu bergertar lama.


Ia masih belum siap untuk berbicara lagi dengan Ega. Ia ingin menenangkan pikirannya. Menjernihkan segala pikiran kotor yang ada di dalam otaknya. Agar bisa kembali berpikir jernih.


Terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Membuat Zahra mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk.


"Siapa?" tanyanya pada orang yang berada di luar kamarnya.


"Aku, Mbak," jawab Efelin dari luar.


"Ada apa?" tanya Zahra lagi dengan suara yang serak.


"Ada telepon nih, dari Kak Ega. Mau ngomong katanya. Bukain pintunya," kata Efelin yang sudah tidak sabar menunggu sang kakak membukakan pintu untuknya.


"Iya. Bilang nanti aja teleponnya," balas Zahra yang enggan untuk berbicara dengan lelaki itu.


"Ish! Gimana sih? Buka pintu ngapa?" gerutu Efelin di depan pintu kamar Zahra.

__ADS_1


"Bilangin aja nanti aku yang telponan dia," ucap Zahra akhirnya.


Gadis yang tengah menunggu di depan pintu itu dibuat kesal oleh sikap kakaknya. Ia berbalik dengan menghentakkan kakinya menuju ke kamarnya sendiri. Sambil berjalan ia mengatakan pada sang penelpon yang sejak tadi menunggu jawaban jika sang kakak tidak mau bicara dengannya.


__ADS_2