Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
33. Berkumpul Kembali


__ADS_3

Keluarga kecil itu sangat bahagia. Tiada kata bagi mereka untuk mengungkapkan kebahagiaan itu. Hanya rasa syukur kepada Tuhan yang mampu mereka ucapkan.


Semuanya tengah berkumpul di ruang tamu keluarga Zahra. Termasuk kedua lelaki yang tadi ikut dalam penyelamatan Zahra. Kedua lelaki itu turut bahagia.


"Om, Tante, saya pamit dulu," ucap Ega, mengingat hari sudah malam.


"Terima kasih, Nak Ega, atas bantuannya," ucap Bundanya Zahra.


"Sama-sama Tante," jawab Ega dengan kelegaan yang terpancar di wajahnya.


Ega berdiri menyalami kedua orang tua Zahra juga Rio. Ingin sekali lelaki itu memeluk Zahra. Namun, ia masih sadar, gadis itu belum halal untuknya. Dan juga ada kedua orang tua gadis itu saat ini. Alhasil Ega dan Zahra hanya bersalaman saja dengan Zahra mencium tangan Ega seperti biasa yang mereka lakukan.


Semuanya mengantarkan Ega hingga ke halaman rumah. Ega memasuki mobil sedannya dan melajukan kendaraan itu keluar dari halaman rumah Zahra.


"Om, Tante, Rio juga mau pulang dulu," pamit Rio.


"Kamu ngga nginep sini aja, Nak?" tanya ayah Zahra.


"Nggak, Om. Tadi mama nyuruh pulang. Aku langsung pulang sekarang ya." Rio menyalami kedua orang tua Zahra juga. Setelah itu ia menuju motornya yang terparkir di halaman rumah.


Zahra, dan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah. Bunda dan Zahra kembali duduk di ruang tamu. Ayah meninggalkan keduanya dan lebih memilih masuk ke dalam ruang tengah.


"Nduk, bagaimana bisa kamu diculik mereka berdua? Punya salah apa kamu sama mereka?" tanya Bunda saat mereka duduk berdua saja.


"Aku ngga tau, Bun. Bahkan aku juga baru bertemu Brian waktu di super market," jawab Zahra pelan.


"Apa kamu pernah menyakiti perasaan mereka?" tanya Bunda lembut.


"Aku tahu Bian punya perasaan lebih sama aku, Bun. Sedari awal aku masuk kantor dulu, dia udah pernah ngomong kalo suka sama aku. Tapi Bunda tau sendiri kan gimana aku sama laki-laki? Sebisa mungkin aku menghindar dari dia."


"Iya Bunda tahu. Mungkin caramu menghindarinya yang membuat dia sakit hati. Dan akhirnya dia berbuat nekat. Lalu kalau dengan Brian? Brian itu teman sekolahmu bukan?"


"Iya, Bun. Brian teman sekolahku. Aku enggak pernah ketemu sama dia, Bun. Dan aku juga ngga ngerasa pernah nyakitin dia. Dulu dia juga tahu aku sama Ega juga dekat."

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo istirahat. Bersihkan badan kamu. Lalu istirahat, jangan pikirkan apapun lagi. Semua sudah lewat. Kamu harus lebih berhati-hati lagi."


Ibu dan anak itu beranjak dari ruang tamu. Zahra naik ke lantai atas untuk menuju kamarnya. Bunda masuk ke dalam kamar yang berada di lantai bawah.


****


Hari telah siang, tetapi Zahra masih tetap berada di kamarnya. Mengabaikan sang bunda dan adik yang berkali-kali mengetuk pintunya memintanya untuk segera sarapan. Gadis itu tengah diam di balkon kamarnya. Memandangi jalanan komplek perumahan yang sepi. Menikmati sinar matahari yang terasa panas ditubuhnya.


Ia masih memikirkan kejadian yang menimpanya. Mencari-cari apa gerangan yang membuat kedua temannya itu melakukan hal buruk padanya.


Di tengah kegiatan melamunnya, gadis itu melihat dua orang gadis yang berboncengan memasuki halaman rumahnya. Salah satu di antara mereka melihat Zahra di balkon dan melambaikan tangannya. Ia membalas lambaian tangan temannya dan memberi isyarat agar kedua temannya itu langsung menuju kamarnya.


Tak lama pintu kamarnya diketuk dari luar. Gadis itu segera membukakan pintu untuk kedua temannya, Dea dan Niena. Dua orang itu berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah yang sulit Zahra artikan.


Zahra kembali menutup pintu kamarnya begitu kedua temannya masuk. Mereka bertiga memilih duduk di atas karpet kamar. Mengapit gadis itu di antara Dea dan Niena. Kedua gadis itu memeluknya dengan erat.


"Kita udah tahu cerita kamu diculik itu, Ra. Kita lega banget kamu selamat," kata Dea masih memeluk Zahra.


"Aku bener-bener nggak nyangka Brian segitu teganya sama temen sendiri demi uang," ujar


"Kalian tahu dari mana aku habis kena musibah?" tanya Zahra.


"Ya kita tau lah. Rio sama Ega bolak balik nanyain keberadaan Brian di grup," kata Dea.


"Ponsel aku hilang, jadi aku nggak tau apa-apa," ucap Zahra.


"Kabar terahir dari Rio, katanya Brian nyulik kamu karena dibayar temen kamu yang dari kantor lamamu itu," Dea memberi tahu.


"Aku bener-bener nggak habis pikir, demi uang dia menghalalkan segala cara," kata Niena.


"Tapi kamu gapapa kan? Kamu ga disiksa kan sama temen kamu itu?" tanya Dea memperhatikan wajah Zahra.


"Aku hampir diperkosa sama dia. Dia nampar aku. Setelah kejadian itu dia nggak datang lagi ke tempat aku disekap."

__ADS_1


"Ya ampun, Zahra, kamu yang sabar yaa," Dea dan Niena kembali memeluk Zahra yang menangis.


"Aku ngerasa kotor, aku nggak pantes buat Ega. Aku udah kotor," ucap Zahra disela tangisannya.


"Jangan ngomong gitu. Kamu masih suci. Gak ada yang mengotori diri kamu. Kamu pantas buat lelakimu nantinya. Kamu pantas buat Ega," Niena menenangkan Zahra.


"Apa kamu udah ceritakan hal ini sama orang tuamu? Sama Ega atau Rio?" tanya Niena yang dibalas gelengan kepala oleh Zahra.


Kamu harus ngomong. Untuk memperberat hukuman orang yang menculikmu. Aku hubungi Rio ke sini ya?" Niena meminta ijin.


"Jangan," balas Zahra lirih masih dengan menangis.


Niena dan Dea saling berpandangan. Saling melempar pertanyaan dengan isyarat.


"Ya udah, kamu jangan sedih lagi. Kamu harus semangat, dan jangan mikir yang enggak-enggak, ya," kata Niena. Mereka bertiga kembali berpelukan.


Pintu kamar Zahra kembali ada yang mengetuk. Dea berdiri untuk membukakan pintu. Di depan pintu ternyata Bunda Zahra membawa nampan berisi cemilan dan minuman.


"Eh, Tante. Kita jadi ngerepotin nih," kata Dea merasa sungkan.


"Ndak papa, ini buat kalian. Dan Tante minta tolong, bujuk Zahra buat makan ya, dari semalam dia belum makan."


"Iya, Tante," Dea menerima nampan yang disodorkan Bunda Zahra.


"Ya sudah, lanjutkan. Tante ke bawah dulu."


"Makasih, Tante," ucap Dea lalu menutup lagi pintu kamar Zahra dan membawa nampan itu kepada kedua temannya.


"Eh, Ra. Bundamu nitip pesen kamu disuruh makan," kata Dea.


"Nih, makan semua. Habisin sekarang. Biar punya tenaga kalo mau nangis. Inget! Jangan sampai kamu sakit," kata Dea.


Meski dengan nada bergurau, Zahra tau temannya itu mengkhawatirkan kesehatannya juga. Dan ia membenarkan apa yang dikatakan Dea. Dia tidak boleh sakit. Kasihan keluarganya jika ia sakit lagi.

__ADS_1


"Nih, mending kamu makan kue ini dulu, perutmu kan kosong tuh, kalo diisi makanan berat pasti langsung sakit tuh." Dea menyodorkan kue kering yang ada ditoples.


Niena mengambil minuman untuknya. Sesekali memperhatikan Zahra yang meski enggan tetap memakan kue yang disodorkan Dea.


__ADS_2