Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
73. Saingan


__ADS_3

Selamat membaca readersku ♥️♥️😘


Yang mau numpang promo saya persilahkan untuk promo di gc saya. Promo di kolom komentar yang sewjarnya saja ya.. dan jangan lupa pencet like dong, jangan cuma numpang promo🤭🤭


mohon maaf dan terimakasih 🙏🏻🙏🏻🤗🤗🤗


*********


“Rio, tolong!” seru Zakia lagi.


Dua lelaki itu bergegas membuka pintu kamar mandi. Di sana terlihat Zakia tengah menahan tubuh Zahra yang pingsan dalam dekapannya.


“Zahra kenapa?” tanya Ega begitu panik.


“Gak tahu. Tadi bilang badannya lemes, terus aku pegangin dia makin lemes, gak tahunya dia pingsan,” jelas Zakia.


Ega segera mengangkat tubuh gadis itu dan segera membawanya turun. Dengan sigap Rio dan Zakia mengikuti di belakang.


“Kunci mobil,” ucap Ega dengan menuruni tangga.


“Di mana?”


“Meja ruang tamu.”


Dengan sigap Rio mendahului Ega dan segera mengambil kunci mobil. Ia segera menyiapkan mobil untuk membawa Zahra ke rumah sakit.


Dengan kecepatan tinggi Rio mengendarai mobil Ega membelah jalanan malam Kota Malang. Tak sampai sepuluh menit mereka sampai di RSPN kota Malang.


Sampai di rumah sakit Zahra segera dibawa menuju ruang IGD untuk mendapatkan perawatan. Mereka semua menunggu di luar dengan perasaan cemas. Tak berapa lama, salah satu perawat datang memanggil wali pasien. Dengan sigap Ega berdiri dari duduknya dan menghampiri perawat itu.


“Bagaimana, Sus?” tanya Ega.


“Silahkan masuk, Pak. Biar dijelaskan oleh dokter,” jawab perawat itu.


Ega dengan tergesa ikut masuk ruangan bersama perawat itu. Di dalam sana Zahra terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.


“Huh! Kenapa selalu dirimu yang menangani Zahra?” gerutu Ega pada dokter yang menangani Zahra.


“Mungkin memang dia jodohku,” jawab dokter itu yang tak lain adalah Dokter Arga.


“Jangan harap!” desis Ega.


“Lihatlah! Kamu tidak becus melindunginya! Dia terluka!” ucap Dokter Arga.


“Bekerjalah sesuai etika, Dokter! Bagaimana keadaan tunangan saya?” ucap Ega berusaha mengendalikan emosinya.


“Baiklah, dia mengalami shock dan kelelahan. Dia membutuhkan perawatan intensif untuk beberapa hari ke depan.” Dokter Arga menjelaskan.


“Baiklah, saya akan mengurus administrasinya. Dan saya minta tolong pada anda, Dokter, jangan macam-macam dengan tunangan saya!” ucap Ega sebelum pergi.


Ega segera keluar dan mengurus administrasi untuk perawatan Zahra. Setelah selesai ia menghampiri yang lainnya agar segera menuju kamar rawat inap Zahra.


“Gimana nih, keluarga harus tahu kalau Zahra masuk RS. Pasti nanti uti sama papa nanyain,” ucap Ega mulai gelisah.

__ADS_1


“Ya mau gak mau kita harus ngomog,” jawab Rio.


"Ini semua salah aku. Mbak Zahra jadi celaka kayak gini," ucap Zakia kembali menangis.


"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu, Sayang," kata Rio dengan memeluk Zakia.


Ega tak berkomentar apapun. Pikirannya cukup pusing untuk hari ini. Bagaimana ia menjelaskan perihal musibah yang menimpa Zahra malam ini pada kedua orangtuanya?


"Ga, pinjem mobil, mau ngantar Kia balik dulu," ucap Rio setelah melihat keadaan kakaknya.


"Iya," jawab lelaki itu dengan memandangi wajah Zahra yang tertidur pulas.


"Soal orangtua Zahra, biar mama yang ngejelasin ke mereka. Malam ini aku mau ngomong soal masalah ini sama mama," kata Rio lagi.


"Thanks."


******


Pagi-pagi sekali kedua orang tua Zahra sampai di rumah sakit. Sayangnya jam besuk belum dibuka. Ayah Irawan menghubungi Ega untuk menjemput mereka di luar.


Ega keluar dengan membawa kartu tanda pengenal bagi keluarga pasien. Lelaki itu memberikan dua kartu pada Ayah Irawan.


"Om, maafkan saya, tidak bisa menjaga Zahra," ucap laki-laki itu.


"Sudahlah, Nak. Memang ini musibah," jawab Ayah Irawan dengan bijak.


Mereka bertiga segera menuju ruang rawat Zahra. Begitu mereka masuk, senyum anak gadis mereka menyambut kedatangan mereka.


"Nduk, anak Bunda. Kenapa bisa begini?" tanya Bunda Ratih dengan cucuran air mata membasahi pipinya. Bunda Ratih memeluk Zahra dengan erat membuat gadis itu mengeluh kesaksian.


"Ya Allah, kamu terluka, Nak? Bagaimana bisa?" tanya bunda panik.


"Bunda tenang ya. Aku mau cerita," kata Zahra menenangkan sang bunda.


"Kemairn, selama perjalanan kita liburan. Aku merasa selalu ada yang ngikutin kita. Sepertinya yang lain tidak ada yang merasakan, jadi aku diam saja. Kupikir hanya perasaanku saja," kata Zahra mulai bercerita.


Kedua orangtuanya menyimak dengan seksama cerita anaknya itu. Ega pun juga menyimak, karena semalam ia juga tidak menanyakan apapun pada gadisnya setelah kejadian itu.


"Dan waktu di alun-alun itu, aku melihat orang yang dari tadi kayak ngawasin Zakia. Saking seriusnya Ega ngajak ngomong aku gak tahu. Dan setelah itu aku liat orang itu gak lama dia lari ke arah Zakia, ya udah aku reflek aja peluk Zakia."


"Kamu tau wajah orangnya?" tanya Ega. Ia mengingat semalam memang Zahra sempat tidak merespon pertanyaannya saat menawarkan naik bianglala.


"Dia pakai masker, pakai topi. Tapi aku yakin dia perempuan. Waktu dia lari, aku liat rambutnya panjang."


"Siapa kira-kira? Karena tantemu bilang semalam, ada dua orang yang meneror Zakia. Dan ancamannya berbeda. Ada yang menyuruh menjauh dari Rio dan satunya orang yang menidurinya. Dan untuk apa salah satu di antara orang itu mengancam untuk menjauh dari laki-laki b*jing*n itu? Apa Zakia bertemu dengannya lagi?" tanya Ayah Irawan.


"Permisi, selamat pagi," ucap seseorang dari luar kamar Zahra.


Setelah pintu terbuka, muncul sosok dokter yang semalam merawat Zahra. Dia datang tanpa menggunakan jas dokternya.


"Kok kayak pernah lihat ya," bisik bunda pada anaknya.


"Dokter yang dulu juga ngerawat aku di sini, Bun," jawab Zahra berbisik pula.

__ADS_1


"Pagi, Om, Tante, Ra," ucap Dokter Arga.


"Pagi. Temannya Zahra atau Ega? Tapi sepertinya wajah kamu familiar," ucap Ayah Irawan.


"Saya Arga, Om. Yang dulu juga merawat Zahra." Dokter Arga kembali memperkenalkan diri.


(Yang lupa sama Dokter Arga, bisa back ke bab awal, eps. Dokter Arga)


"Oh. Iya-iya. Maaf, Nak. Saya ini pelupa orangnya," ucap Ayah Irawan.


Ega yang merasa terabaikan terlihat sangat kesal. Ia beringasut mendekati Zahra yang tengah bersandar di kepala tempat tidur.


"Apa Dokter mau memeriksa anak saya?" tanya Bunda Ratih.


"Tidak, Tante. Kebetulan jam dinas saya suday berakhir. Jadi sebelum pulang saya menyempatkan diri menjenguk Zahra. Semalam saya yang memberikan pertolongan pertama untuk Zahra," kata Dokter Arga menjelaskan sekaligus mencari perhatian dari kedua orang tua gadis itu.


"Terima kasih banyak, Dokter," ucap Bunda Ratih tulus.


Di tempatnya, Ega sekuat hati dan tenaga berusaha menahan rasa kesal terhadap dokter satu itu yang terang-terangan menunjukkan hawa persaingan.


"Nak Ega, apa hari ini kamu tidak bekerja?" tanya bunda Ratih mengingatkan hari ini bukan hari libur.


"Iya, Tante. Mungkin nanti saya datang sedikit telat," jawab Ega.


"Loh. Jangan begitu, Nak. Cobalah untuk selalu disiplin waktu. Jadilah calon imam yang bertanggung untuk anak saya, " nasehat Ayah Irawan.


"Saya siap mendaftar jadi calon imam anak, Om," ucap Dokter Arga di hadapan mereka semua.


Ayah Irawan berdehem untuk menghilangkan rasa terkejutnya.


"Hem, bagaimana ya, Zahra sudah melangsungkan pertunangan dengan Ega kemarin lusa, saya anggap ucapanmu hanya guarauan, Nak," ucap Ayah Irawan.


Bunyi ponsel milik Ega mengalihkan obrolan abstrak yang membuatnya ingin sekali menghajar lelaki tidak tahu malu di depannya ini.


"Ya halo," sapanya pada penelepon.


Lelaki itu diam menyimak informasi dari sekretarisnya tengang proyek-proyek yang sedang ia tangani dan hal-hal lainnya yang membuat dirinya harus datang ke kantor.


"Oke-Oke. Aku ke sana sekarang," jawab lelaki itu.


Stelah panggilan terputus, ia berpamitan pada kedua orang tua Zahra. Pada gadis itu ia hanya mampu mengusap pucuk kepalanya saat berpamitan.


Dalam hati lelaki itu ia mengumpati Dokter Arga yang terlihat sekali merasa menang karena dapat berduaan dengan Zahra. Dengan berat hati Ega pun segera pulang dan berangkat ke kantor.


****


Kira-kira kenapa ya di perusahaan tempat Ega bekerja? Sampai sampai dia terpaksa ninggalin Zahra demi perusahaan.


Terim kasih sudah mendukung dengan ikhlas like, komen dan vote kalian 🥰🥰🥰🥰


salam sayang


♥️kiki rizki♥️

__ADS_1


__ADS_2