Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
45. Merasa Tidak Pantas


__ADS_3

Zahra sudah mulai kedinginan, ia memilih untuk menyudahi kegiatan main airnya. Ya, main air Zahra menyebutnya. Karena sedari tadi ia hanya di tepian kolam menenggelamkan badannya sebatas leher, hanya melihat teman-temannya berenang.


Ia nyaris tenggelam beberapa kali saat belajar meluncur. Membuatnya kapok dan tidak mau belajar lagi.


Gadis itu berjalan setengah membungkukkan badannya guna menyembunyikan bagian tubuh yang tercetak jelas akibat baju basahnya. Buru-buru ia mengambil handuk dan peralatan mandi lainnya yang sudah disiapkan di atas tasnya. Segera gadis itu menutupkan handuknya pada bagian dadanya.


Ia memasuki kamar mandi wanita yang kebetulan sepi. Memilih salah satu bilik dan melakukan ritual mandinya. Hampir dua puluh menit Zahra berada di dalam kamar mandi. Saat ia keluar ternyata Ega sudah selesai berenang, lelaki itu tengah duduk di tikar yang telah mereka siapkan.


"Kamu gak mandi? Atau mau balik ke kolam lagi?" tanya Zahra begitu ia duduk di samping Ega.


"Nggak. Mandi habis ini, nggak ada kamu gak asik," ucap lelaki itu menggoda Zahra.


Zahra tersipu malu di buatnya. Ia memalingkan wajah dan menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Aku mandi dulu," pamit Ega mengambil peralatan mandi dan baju gantinya.


Zahra mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu melanjutkan kegiatannya memakai skin care dan kebutuhan wanita lainnya. Sesekali memperhatikan Rio dan Aldi yang berada di kolam renang, sedang bergurau seperti anak kecil.


Dering ponsel yang ada di dekatnya membuatnya mengalihkan pandangannya dan mencari ponselnya. Namun, ternyata bukan ponsel miliknya yang berbunyi. Dilihatnya ponsel milik Ega menyala menandakan ada panggilan masuk dengan suara dering yang sama dengan miliknya.


Karena rasa penasarannya, gadis itu mengintip nama yang tertera. Fani. Sesaat kemudian panggilan itu berhenti. Mengabaikan rasa ingin tahunya, gadis itu mengalihkan perhatiannya dari ponsel Ega. Meski nama yang tertera di sana tetap melekat di pikirannya.


"Kalian mau sampai kapan di sana?" tanya Zahra pada Rio dan Aldi yang sekarang duduk di tepian kolam.


"Aku lapar, mau makan," lanjutnya.


"Makan aja dulu gapapa. Sisain buat kita. Setelah ini kita mau mandi kok," jawab Rio.


Zahra berinisiatif membuka bekal mereka dan menatanya di atas tikar. Namun ia terganggu dengan ponsel Ega yang kembali berbunyi. Rasa penasaran akan nama yang tertera di sana membuat Zahra melamun. Memikirkan siapa gerangan Fani itu? Apa hubungannya dengan Ega? Apa dia kekasih Ega? Berbagai pertanyaan muncul dalam kepalanya.


"Ra, kok ngelamun?" Ega yang memperhatikan Zahra dari jauh mengejutkan gadis itu begitu ia berada di sampingnya.

__ADS_1


"Oh, enggak kok. Itu, tadi ponsel kamu bolak balik bunyi. Ada telepon," jawab Zahra.


Ega meraih ponselnya yang tergeletak di atas tikar. Mengecek panggilan tak terjawab yang ternyata dari Fani. Ia menghembuskan nafas kasar.


"Nggak di telepon balik?" tanya Zahra.


"Nanti aja. Kita makan yuk?" ajak Ega.


"Emang teleponnya gak penting? Bunyi bolak balik tadi," tanya Zahra penasaran.


"Kamu lihat namanya?" tanya Ega memastikan.


"Maaf, enggak sengaja," ucap Zahra merasa tidak enak karena telah lancang.


"Gak papa. Dia temen kuliah aku dulu di Singapura. Kemarin waktu melacak keberadaan kamu, aku minta tolong sama dia. Nah, terus sekarang dia minta imbalan buat jasanya itu," tutur Ega hati-hati.


Zahra dengan serius memperhatikan penjelasan Ega. Ia tak mau salah mengambil presepsi lagi.


Zahra mengangguk sebagai jawaban. Ada rasa tidak rela dalam hatinya membayangkan Ega bersama wanita lain. Namun di sisi lain ia juga merasa tak pantas bersanding dengan lelaki itu.


"Terus kenapa kamu masih di sini?" tanya Zahra.


"Karena aku enggak ingin pergi sama dia. Aku ingin selalu sama kamu."


"Tapi kamu sudah janji sama dia. Dia pasti nungguin kamu. Berharap kamu datang dan temenin dia," ucap Zahra tanpa melihat lawan bicaranya.


Ega tak mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Ia memilih diam tanpa menjawab pernyataan Zahra. Lelaki itu mendekat dan memeluk bahu Zahra. Zahra sendiri merasa enggan dan ingin menghindar. Perasaan tak rela itu mendominasi dirinya.


"Kenapa?" tanya Ega karena Zahra menyingkirkan tangannya.


Baru beberapa saat yang lalu ia dan Zahra bisa menikmati kebersamaannya. Namun sekarang, sikap Zahra kembali lagi seperti semula.

__ADS_1


"Sayang, kamu percaya kan sama aku?" tanya Ega.


"Ga, kita enggak ada hubungan spesial. Bisa nggak kamu jangan panggil aku seperti itu," pinta Zahra.


"Kamu masih menganggap aku tidak bersungguh-sungguh?" tanya Ega kecewa.


"Bukan seperti itu. Ada perempuan lain yang lebih pantas sama kamu, Ga. Dan aku merasa itu bukan aku," tutur Zahra. Sebisa mungkin gadis itu menahan gejolak di dalam dadanya.


"Maksud kamu apa? Apa gara-gara telepon tadi kamu ngomong gini?" tanpa sengaja Ega meninggikan suaranya. Membuat Zahra terkejut.


"Terserah kamu, Ra. Apa kamu gak bisa lihat perjuangan aku? Pengorbanan aku sampai sejauh ini? Aku bela-belain nyusulin kamu ke sini karena aku cinta sama kamu, Ra!" Ega mulai kehilangan kontrol emosinya.


Zahra menyadari dirinya memang egois. Menutup mata tanpa mau melihat pengorbanan lelaki itu. Ia tak tau lagi apa yang harus dilakukannya. Tanpa terasa genangan yang terlah menumpuk di pelupuk matanya akhirnya tumpah juga.


Gadis itu terisak pelan. Berusaha menghapus air matanya. Agar orang lain tak melihatnya. Namun, tetap saja lelehan air matanya semakin deras.


Ega menyesali kata-katanya. Ia tak mampu lagi menahan kekecewaan terhadap penolakan Zahra. Ia membawa gadisnya ke dalam pelukannya. Tanpa penolakan, Zahra menangis dalam dekapan Ega.


Rio dan Aldi yang menghampiri mereka terheran dengan tingkah dua orang temannya itu. Mengabaikan mereka beruda, dua lelaki itu mengambil peralatan mandinya dan bergegas membersihkan diri.


"Maaf," lirih Zahra dalam pelukan Ega.


Lelaki itu diam tak menjawabnya. Ia tak mau semakin menyakiti hati gadisnya. Yang bisa ia lakukan hanya diam dan mengusap punggung Zahra.


Tak butuh waktu lama bagi Rio dan Aldi memberikan diri. Saat ini mereka berempat telah duduk bersila siap untuk menyantap bekal makanannya. Rasa lapar sangat mendominasi dua lelaki yang baru saja selesai berenang itu.


Mengabaikan sikap Zahra dan Ega yang aneh. Mereka lebih memilih mengenyangkan perutnya. Baru setelah itu menanyakan apa yang baru saja terjadi. Atau mungkin lebih baik diam saja. Karena sepertinya itu privasi mereka berdua.


Setelah selesai, mereka segera mengemasi barang-barangnya. Zahra meminta pada mereka untuk segera pulang. Ia beralasan dirinya merasa lelah dan ingin tidur. Tanpa membantah mereka menuruti permintaannya.


Zahra berjalan mendahului mereka semua. Ia mempercepat langkahnya untuk menghindari Ega. Lelaki itu sendiri juga melakukan hal yang sama. Ia memilih berjalan bersama dengan Rio dan temannya.

__ADS_1


Di dalam mobil pun suasana diamnya Zahro juga terasa. Untungnya perjalanan mereka tak memerlukan waktu lama. Begitu sampai di rumah Bibi Dewi, Zahra segera masuk rumah dan mengunci diri di dalam kamarnya.


__ADS_2